“The reality is that most of us communicate the same way that we grew up. That communication style becomes our normal way of dealing with issues, our blueprint for communication. It’s what we know and pass on to our own children. We either become our childhood or we make a conscious choice to change it.”
“Kenyataannya adalah kebanyakan dari kita berkomunikasi dengan cara yang sama seperti saat kita dulu bertumbuh. Gaya komunikasi tersebut menjadi cara normal kita dalam menangani masalah, menjadi cetak biru komunikasi kita. Itulah yang kita ketahui dan teruskan kepada anak-anak kita. Kita bisa menjadi seperti masa kecil kita atau secara sadar mengubahnya.”
~ Kristen Crockett ~
Manusia adalah makhluk sosial yang berarti harus bersosialisasi, berelasi, dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Tentu saja bukan berarti setiap waktu dan di mana pun seseorang harus selalu bersosialisasi, berelasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Akan tergantung kepada waktu, tempat, orang, situasi, dan kondisi yang dihadapi.
Salah satu teknik utama dalam bersosialisasi, berelasi, dan berinteraksi dengan orang lain supaya seseorang dapat diterima, didengarkan, didukung, bahkan diikuti kata-katanya adalah “Masuklah terlebih dahulu ke dunia orang yang sedang berinteraksi dengan kita, lalu perlahan setelah situasi dan kondisi mendukung barulah bawa orang tersebut ke dunia kita”.
Maksudnya adalah terlebih dahulu kita perlu menunjukkan ketertarikan dan perhatian terhadap apa yang sedang dibicarakan atau dilakukan oleh orang yang sedang berinteraksi dengan kita. Setelah terlihat dia merasa lebih nyaman dan menerima kita, barulah kita menyampaikan atau meminta apa yang kita ingin dia lakukan. Cara ini lebih menjamin hasil yang ingin kita peroleh, daripada langsung dari awal interaksi kita memintanya untuk melakukan apa yang kita inginkan.
Teknik berelasi dan berinteraksi seperti ini juga berlaku bagi orang tua yang ingin menumbuhkembangkan anaknya. Sayangnya, banyak orang tua yang salah dalam mengaplikasikan teknik ini sehingga malah berakibat fatal, bukannya memberikan hasil seperti yang diinginkan.
Teknik orang tua yang salah dan berakibat fatal tersebut adalah “Masuklah terlebih dahulu ke dunia anak, lalu perlahan setelah situasi dan kondisi mendukung barulah bawa anak ke dunia orang tua”. Yang benar dan seharusnya dilakukan adalah “Masuklah terlebih dahulu ke dunia anak, lalu perlahan setelah situasi dan kondisi mendukung barulah bawa anak ke dunia yang orang tua inginkan”.
Terdapat perbedaan mendasar di antara kedua teknik tersebut.
Yang pertama “…….. bawa anak ke dunia orang tua” berarti menerapkan hal-hal yang orang tua sudah peroleh di zaman dulu dari orang tuanya, kepada anaknya sekarang.
Yang kedua “…….. bawa anak ke dunia yang orang tua inginkan” berarti orang tua perlu mengetahui dan menentukan terlebih dahulu apa yang terbaik bagi anak di zaman sekarang dan lalu menerapkannya.
Apa yang baik dan benar, yang diterapkan oleh orang tua di zaman dulu kepada anaknya, belum tentu baik dan benar pula jika diterapkan kepada anak di zaman sekarang. Perbedaan karakteristik antar generasi memerlukan cara atau teknik, dan gaya yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Ingatlah wahai orang tua, orang tua zaman sekarang harus lebih banyak belajar dan berlatih sehingga bisa menerapkan teknik “Masuklah terlebih dahulu ke dunia anak, lalu perlahan setelah situasi dan kondisi mendukung barulah bawa anak ke dunia yang orang tua inginkan”. Teknik ini dapat menjamin hasil yang lebih baik dalam menumbuhkembangkan anak dibanding menggunakan teknik-teknik parenting lama.
“Teknik benar yang harus orang tua terapkan kepada anak adalah masuklah terlebih dahulu ke dunia anak, lalu perlahan setelah situasi dan kondisi mendukung, barulah bawa anak ke dunia yang orang tua inginkan, bukan bawa ke dunia orang tua.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















