“We want our children to become who they are — and a developed person is, above all, free. But freedom as we define it doesn’t mean doing what you want. Freedom means the ability to make choices that are good for you. It is the power to choose to become what you are capable of becoming, to develop your unique potential by making choices that turn possibility into reality. It is the ability to make choices that actualize you. As often as not, maybe more often than not, this kind of freedom means doing what you do not want, doing what is uncomfortable or tiring or boring or annoying.”
“Kita ingin anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri — dan menjadi orang yang bertumbuh, di atas segalanya, menjadi bebas. Tetapi kebebasan yang dimaksud bukan berarti melakukan apa pun yang diinginkan. Kebebasan berarti kemampuan untuk membuat pilihan yang baik. Itu adalah kekuatan untuk memilih menjadi yang mereka mampu, untuk mengembangkan potensi unik mereka dengan membuat pilihan yang mampu mengubah kesempatan menjadi kenyataan. Kemampuan membuat pilihan yang bisa mengaktualisasikan mereka. Mungkin lebih sering daripada tidak, kebebasan semacam ini berarti melakukan apa yang tidak mereka inginkan, melakukan apa yang tidak nyaman atau melelahkan atau membosankan atau malah menjengkelkan.”
~ Gregory Millman ~
Orang tua harus mengajarkan anak untuk berani mengambil keputusan sejak dini terutama berkaitan dengan kepentingannya. Dengan cara ini, selain anak akan terlatih dalam membuat keputusan, juga anak akan lebih bertanggung jawab terhadap hasil keputusan yang sudah dibuatnya.
Orang tua harus memperlihatkan dukungan dalam bentuk kepercayaan kepada anak dalam mengambil keputusan. Orang tua tidak boleh merampas kesempatan belajar anak dengan mengambil alih memutuskan segalanya bagi anak. Orang tua harus mendukung anak dalam membuat keputusan dengan memberikan berbagai pertimbangan dan peringatan tanpa menjadi terlalu melindungi.
Secara umum, ada beberapa kelompok hal dalam kehidupan anak bersama orang tuanya:
1. Hal-hal yang DIWAJIBKAN: naik kelas, lulus ujian, mengerjakan tugas sekolah, belajar, membantu pekerjaan rumah tangga, saling mendukung antar anggota keluarga, dan lain-lain.
2. Hal-hal yang DAPAT DIRUNDINGKAN: les tambahan, waktu tidur siang, jam malam, lama menonton televisi, lama menggunakan gadget, menu makan, jenis camilan, dan lain-lain.
3. Hal-hal yang DAPAT DIBERI KEWENANGAN: olahraga, seni, musik, kegiatan ekstra kurikuler, dan lain-lain.
Untuk kelompok hal nomor 1, yang harus membuat keputusan adalah orang tua. Tentu saja orang tua harus memiliki pertimbangan yang matang sebelum memutuskan hal-hal di kelompok ini untuk anaknya.
Untuk kelompok hal nomor 2, yang harus membuat keputusan adalah orang tua bersama-sama dengan anak. Orang tua perlu mendorong usulan dan pertimbangan dari anak terkait hal-hal ini sebelum diputuskan. Orang tua jangan membiarkan anaknya memberikan jawaban “Terserah”, “Ikut saja”, “Apapun itu”, dan sejenisnya. Anak harus didorong berpikir dan membuat pertimbangan karena keputusan yang akan dibuat adalah berkaitan dengan kepentingannya. Keputusan yang dibuat juga memerlukan komitmen anak untuk menjalankannya. Setelah keputusan akhir dibuat, orang tua perlu menjelaskan ulang berbagai pertimbangan dan alasan kenapa akhirnya dibuat keputusan seperti itu.
Untuk kelompok hal nomor 3, yang harus membuat keputusan adalah anak. Peran orang tua adalah mendorong anak untuk mempertimbangkan segala sesuatu yang terkait dengan keputusan yang akan dibuat. Orang tua perlu mengajarkan anak untuk melihat dari berbagai perspektif (sudut pandang). Namun orang tua harus menjaga agar tidak terlalu dominan dalam prosesnya sehingga porsi anak dalam membuat keputusan tetap terjaga. Sebelum keputusan akhir dibuat, orang tua perlu meminta anak menjelaskan pertimbangan dan alasan kenapa keputusan demikian yang akan dibuat. Tentu saja orang tua tetap boleh memberikan masukan dan pertimbangan.
Seiring bertumbuhkembangnya anak, hal-hal yang termasuk dalam ketiga kelompok tersebut bisa berubah. Namun prinsip pembuatan keputusan yang sama masih tetap bisa dipraktikkan.
Ingatlah wahai orang tua, anak yang terlatih sejak dini dalam membuat keputusan, akan jauh lebih siap dan dapat diandalkan dalam menjalani kehidupannya. Anak yang mampu membuat keputusan berarti memiliki pengendalian diri dan kedewasaan yang baik, yang akan berperan dalam pencapaian keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam kehidupannya.
“Orang tua harus memberikan dukungan dan kepercayaan kepada anak dalam membuat keputusan. Orang tua tidak boleh merampas kesempatan belajar anak dengan membuat semua keputusan untuk anak. Anak yang terlatih sejak dini dalam membuat keputusan, akan jauh lebih siap dan dapat diandalkan sewaktu menjalani kehidupannya.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















