Top 10 Penulis

Parenting Tip: Contoh Mengajari Anak Membuat Keputusan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person in blue long sleeve shirt holding white round analog wall clock
Photo by Markus Spiske

“If parenting were an adventure sport, it would be the most courageous sport in the world. It involves venturing into the unknown, full of unexpected twists and turns, and is completely unpredictable. It is also thrilling and rewarding. Parenting is by far my boldest adventure. I’m not an expert, but I am a mother who loves her children and I believe in family.”

“Jika pengasuhan anak adalah olahraga petualangan, itu akan menjadi olahraga paling berani di dunia. Ini melibatkan bertualang ke hal-hal yang tidak diketahui, penuh lika-liku yang tidak terduga, dan yang sama sekali tidak dapat diprediksi. Semuanya itu mendebarkan dan berharga. Pengasuhan anak sejauh ini adalah petualangan saya yang paling berani. Saya bukan seorang ahli, saya hanyalah seorang ibu yang mencintai anak-anaknya dan percaya pada keluarga.”

~ Mandi Hart ~

Orang tua harus mengajarkan anak untuk berani mengambil keputusan sejak dini, terutama yang berkaitan dengan kepentingannya. Dengan cara ini, selain anak akan terlatih membuat keputusan, juga anak akan lebih bertanggung jawab terhadap hasil dari keputusan yang sudah dibuatnya. Pelajaran dalam mengambil keputusan ini akan berpengaruh besar terhadap kehidupan anak hingga akhir hayatnya.

Berikut adalah contoh mengajarkan anak untuk membuat keputusan dan berkomitmen menjalankan keputusan yang sudah dibuat. Prinsip yang sama bagi anak dalam mengambil keputusan dalam contoh ini tentu saja bisa diterapkan untuk hal-hal lainnya.

Misalkan, Andi berumur 12 tahun. Orang tuanya membuat perjanjian dengan Andi dimana untuk setiap jam waktu belajar Andi di rumah atau bila Andi membaca buku di rumah, Andi boleh selama setengah jam menonton televisi atau menggunakan gadget-nya. Tentu saja program yang ditonton di televisi atau aplikasi yang dibuka di gadget adalah yang diperbolehkan oleh orang tua Andi. Perjanjian ini sebaiknya ditulis cukup besar dan jelas, serta ditempel di tempat yang mudah terlihat.

Selanjutnya orang tua Andi tidak perlu memaksa-maksa atau berbantah-bantah dengan Andi. Jikalau Andi melebihi hak waktunya untuk menonton televisi atau membuka gadget-nya, orang tua bisa mematikan televisi atau menahan gadget-nya.

Pengaturan perjanjian bisa disesuaikan. Dalam contoh tersebut hak waktu untuk menonton televisi atau membuka gadget adalah setengah dari waktu yang digunakan untuk belajar atau membaca buku di rumah. Hak waktu ini bisa saja disesuaikan menjadi sama dengan lamanya waktu yang telah digunakan untuk belajar atau membaca. Orang tua perlu menilai situasi, kondisi, dan kebutuhannya, lalu menyepakati yang masuk akal bagi anak untuk tetap termotivasi.

Demikian juga timbal balik untuk waktu yang sudah digunakan oleh anak untuk belajar atau membaca buku di rumah tidak harus waktu untuk menonton televisi atau membuka gadget, namun bisa hal-hal lainnya yang menyenangkan bagi anak. Dengan cara ini, untuk bisa melakukan yang anak senangi, anak harus terlebih dahulu belajar, atau membaca buku, atau melakukan hal baik lainnya. Tentu saja hal yang menyenangkan bagi anak sebagai timbal balik tersebut harus terkontrol dan disetujui oleh orang tua.

Dalam contoh ini, Andi diajar untuk membuat keputusan yang berhubungan dengan kepentingannya (melakukan yang disenangi). Untuk setiap keputusan yang Andi buat, dia akan menerima timbal balik atau konsekuensi sesuai perjanjian.

Secara bertahap, orang tua Andi dapat mendorong Andi mengambil keputusan yang lebih besar untuk hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kepentingan Andi. Pada waktunya, Andi akan dapat diandalkan untuk membuat keputusan-keputusannya sendiri.

Ingatlah wahai orang tua, membuat keputusan adalah suatu keahlian atau keterampilan, bukan pengetahuan. Oleh karenanya, membuat keputusan harus diajarkan dan dilatih oleh orang tua ke anak secara berulang-ulang, barulah bisa menjadi kebiasaan. Kemampuan anak dalam mengambil keputusan berkualitas akan berpengaruh besar terhadap kehidupan anak hingga akhir hayatnya.

“Membuat keputusan adalah suatu keahlian atau keterampilan, bukan pengetahuan. Kemampuan membuat keputusan harus diajarkan dan dilatih oleh orang tua ke anak sejak dini secara berulang-ulang, barulah bisa menjadi keahlian atau keterampilan yang akan menghasilkan keputusan berkualitas.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait