Top 10 Penulis

Parenting Tip: Jangan Jadi Orang Tua Egois

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Focused ethnic child playing video game with joystick sitting on sofa between divers parents browsing smartphones
Photo by Ketut Subiyanto

“Remember, you are not managing an inconvenience; You are raising a human being.”

“Ingat, Anda tidak sedang mengelola ketidaknyamanan; yang benar adalah Anda sedang membesarkan seorang manusia.”

~ Kittie Frantz ~

Suatu ketika beredar video dan berita viral tentang seorang ibu yang keasyikan menggunakan HP-nya. Padahal ibu tersebut sedang menunggu dan menjaga dua anaknya yang masih balita bermain air dalam kolam air plastik. Kedua anaknya menggunakan pelampung. Entah karena si ibu sangat percaya akan pelampung yang digunakan anak-anaknya dan atau apa yang ada di dalam HP-nya begitu mengasyikan sehingga ibu tersebut tidak sadar apa yang sedang terjadi dengan anak-anaknya di kolam air plastik tersebut.

Ternyata pelampung salah satu anak yang lebih kecil terbalik sehingga kepala anak tersebut berada dalam air tanpa badannya mampu membalikkan kembali pelampungnya. Kakaknya masih sangat kecil sehingga kebingungan untuk menolong adiknya. Dia mencoba menarik perhatian ibunya. Namun untuk beberapa waktu, si ibu tetap asyik dengan HP-nya tanpa menyadari bahaya apa yang sedang mengancam anaknya. Mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk yang tidak diinginkan dalam kejadian tersebut.

Dalam konteks yang berbeda namun mengandung poin-poin yang mirip dengan kejadian si ibu dengan dua anak balitanya di dalam kolam air plastik tersebut, banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua merasa sudah cukup dengan menyediakan apa-apa yang menyenangkan bagi anak. Yang penting, anak menjadi asyik sendiri sehingga tidak mengganggu aktivitas atau keasyikan orang tua. Bahkan meskipun orang tua secara fisik dekat karena sedang bersama-sama dengan anak, namun secara pikiran, perhatian, dan emosional sebenarnya jauh karena orang tua asyik sendiri dengan aktivitasnya.

Oleh karenanya, banyak orang tua tanpa sadar menjadi egois dengan membiarkan anak-anaknya leluasa melakukan aktivitasnya sendiri termasuk bermain games. Hal ini terjadi karena orang tua tidak mau terganggu aktivitas atau keasyikan dirinya. Apalagi di zaman sekarang ini dimana dalam satu gadget, orang bisa melakukan banyak sekali hal.

Banyak orang tua yang tidak mau repot untuk mendisiplinkan anak-anaknya agar melakukan aktivitas-aktivitas yang seharusnya dilakukan, baik yang berhubungan dengan pelajaran sekolah ataupun membantu pekerjaan di rumah. Yang penting anak tidak ribut, tidak rewel, tidak merepotkan, dan (terlihat) tenang.

Banyak orang tua membiarkan anaknya bermain games bahkan sampai berlebihan karena anak terlihat tenang dan terkendali. Orang tua seakan turut merasa tenang (sehingga bisa melakukan aktivitas yang disukainya secara leluasa) saat anaknya “tenang”. Padahal di balik “ketenangan” tersebut, anak sedang mengakumulasi kecanduan yang buruk, yang semakin lama akan semakin berefek negatif, baik terhadap fisik, mental, dan emosionalnya.

Orang tua seharusnya mengambil tanggung jawab untuk membangun kesepakatan dengan anak kapan dan berapa lama boleh bermain games. Juga menyepakati dengan anak apa konsekuensinya jika anak melanggar kesepakatan. Dan yang terakhir, orang tua harus mau dan mampu menegakkan konsekuensi yang harus diterima oleh anak jika melanggar kesepakatan.

Penegakan disiplin dengan membiarkan anak melakukan aktivitas yang disenangi dan konsekuensinya jika terjadi pelanggaran atas kesepakatan yang sudah dibuat, akan menjadi kunci keberhasilan orang tua dalam mengontrol aktivitas yang berpotensi buruk jika dibiarkan berlebihan.

Ingatlah wahai orang tua, dampak negatif dari games jauh lebih besar daripada dampak positifnya terutama dalam jangka panjang. Jangan biarkan masa depan anak rusak karena kecanduan games. Jangan sampai timbul penyesalan di kemudian hari dalam diri orang tua karena tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan di saat sekarang.

“Banyak orang tua tanpa sadar menjadi egois dengan membiarkan anak leluasa bermain games supaya orang tua tidak terganggu aktivitasnya. Mereka membiarkan anak-anak bermain games bahkan sampai berlebihan karena kelihatannya anak menjadi tenang dan terkendali. Dampak negatif dari games jauh lebih besar daripada dampak positifnya terutama dalam jangka panjang. Jangan biarkan masa depan anak rusak karena kecanduan games.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait