“Misbehaviour and punishment are not opposites that cancel each other – on the contrary they breed and reinforce each other.”
“Perilaku buruk dan hukuman bukanlah hal berlawanan yang menghilangkan satu sama lain – sebaliknya mereka berkembang biak dan saling menguatkan.”
~ Haim G. Ginott ~
Orang tua harus mampu menghubungkan kegiatan atau hal istimewa dengan perilaku anak yang baik. Ini akan mengajarkan kepada anak bahwa perilaku yang baik itu pantas dilakukan karena akan mendapatkan ganjaran yang baik. Hal ini dikenal sebagai teknik penguatan untuk memperkuat perilaku-perilaku yang baik. Jika hal ini secara disiplin dan konsisten dijalankan, dapat mendukung tumbuh kembang anak.
Kenyataannya, banyak orang tua yang melakukan sebaliknya, yakni menghubungkan kegiatan atau hal istimewa dengan perilaku buruk anak. Artinya anak yang berperilaku tidak baik malah mendapat imbalan. Tentu saja ini akan memperkuat perilaku buruk tersebut untuk diulang lagi oleh anak karena telah terbukti berhasil. Orang tua yang normal pasti tidak menginginkan hal seperti ini terjadi pada anaknya.
Contohnya, es krim tidaklah seharusnya diberikan saat anak rewel, merengek, nakal, tidak menurut, tidak melakukan tugas yang seharusnya dilakukan, dan perilaku-perilaku buruk lainnya. Es krim seharusnya hanya diberikan saat: (1) anak menunjukkan perilaku baik yang BELUM PERNAH dilakukan sebelumnya, (2) anak menunjukkan perilaku baik yang LEBIH BAIK dari sebelumnya, (3) anak menunjukkan perilaku baik SECARA BERULANG-ULANG, (4) anak MENGURANGI atau bahkan MENGHILANGKAN perilaku buruk yang sebelumnya dilakukan.
Secara alamiah, anak lebih mudah melakukan dan mengulangi perilaku buruk dibanding yang baik. Apalagi jika perilaku buruk tersebut dianugerahi dengan kegiatan atau hal istimewa sebagai ganjarannya, perilaku buruk tersebut akan semakin kuat. Meskipun perilaku baik tidak semudah perilaku buruk untuk diulang, pada prinsipnya ganjaran atau imbalan akan memperkuat perilaku baik sebagaimana terhadap perilaku buruk.
Tantangannya adalah orang tua seringkali merasa tidak tega atau malu dilihat orang lain jika tidak segera mendiamkan perilaku buruk anaknya. Orang tua lalu segera memberikan ganjaran istimewa atau hal yang diminta oleh anak. Seharusnya orang tua lebih tega untuk membiarkan atau tidak memenuhi keinginan anaknya yang sedang berperilaku buruk. Hal ini untuk memberikan pesan bahwa perilaku buruk tidaklah akan mendapat ganjaran. Malahan jika perilaku buruknya sudah berlebihan atau terus diulang, anak harus mendapat hukuman, misalnya pengurangan atau penghilangan sesuatu yang selama ini anak sukai.
Ada banyak cara untuk menghubungkan perilaku baik dengan kegiatan atau hal istimewa, misalnya makan malam di luar di tempat yang disukai anak, menonton film di bioskop, jalan-jalan dengan mobil di Minggu sore, memberi makanan kepada binatang peliharaan, membawakan barang ke lantai atas melalui tangga, tidur lebih malam di Sabtu malam, dan lain-lain yang sebenarnya sederhana namun berarti bagi anak karena tidak selalu dilakukan atau biasanya anak belum diperbolehkan untuk melakukannya.
Ingatlah wahai orang tua, hubungkan kegiatan atau hal istimewa hanya dengan perilaku anak yang baik, bukan sebaliknya dengan perilaku yang buruk. Hanya perilaku yang baiklah yang pantas mendapat ganjaran yang baik pula. Penguatan harus diberikan kepada perilaku yang baik, bukan sebaliknya.
“Orang tua harus menghubungkan kegiatan atau hal istimewa dengan perilaku anak yang baik, bukan sebaliknya. Secara alamiah, anak lebih mudah melakukan dan mengulangi perilaku buruk dibanding yang baik. Apalagi jika perilaku buruk tersebut diganjar dengan kegiatan atau hal istimewa. Meskipun perilaku baik tidak semudah perilaku buruk untuk dilakukan dan diulang, ganjaran tetap akan memperkuat perilaku baik.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















