Top 10 Penulis

Parenting Tip: Jangan Mensyukuri Anak

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

girl, happy, drink
Photo by luan_aqua

“Out of love and desire to protect our children’s self-esteem, we have bulldozed every uncomfortable bump and obstacle out of the way, clearing the manicured path we hoped would lead to success and happiness. Unfortunately, in doing so we have deprived our children of the most important lessons of childhood. The setbacks, mistakes, miscalculations, and failures we have shoved out of our children’s way are the very experiences that teach them how to be resourceful, persistent, innovative and resilient citizens of this world.”

“Demi cinta dan keinginan untuk melindungi harga diri anak-anak, kita telah menyingkirkan setiap rintangan dan kendala yang menghadang, membersihkan jalan yang akan mereka tempuh dengan harapan bisa menuntun mereka pada kesuksesan dan kebahagiaan. Sayangnya, dengan melakukan itu semua kita telah merampas pelajaran terpenting masa kanak-kanak mereka. Kemunduran, kesalahan, kekeliruan perhitungan, dan kegagalan yang telah kita singkirkan dari jalan mereka sebenarnya merupakan pengalaman berharga untuk mengajari mereka bagaimana menjadi warga dunia yang cerdas, gigih, inovatif dan tangguh.”

~ Jessica Lahey ~

Definisi “SYUKUR” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah: (1) Rasa terima kasih kepada Tuhan, (2) Rasa beruntung (lega, senang, dan sebagainya). Secara teoritis, “bersyukur” berarti mensyukuri nikmat atau hal-hal yang baik atau positif. 

Namun prakteknya dalam kehidupan sehari-hari, bersyukur atau mensyukuri juga dipakai untuk hal-hal yang buruk atau negatif. Hal ini kadang kala dilakukan orang tua kepada anaknya. Saat anak terjatuh, orang tua kemudian berkata kepada anaknya, “Syukurin, sudah dibilang jangan main seperti itu. Kamu memang anak yang nakal.” Saat anak dihukum oleh gurunya di sekolah karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau mendapatkan nilai buruk dalam ulangan, orang tua kemudian berkata kepada anaknya, “Syukurin, sudah dibilang kerjakan semua PR dan belajar untuk ulangan. Kamu memang anak yang bodoh”. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Kata-kata orang tua dipercaya sangat kuat dan bisa menjadi doa bagi anaknya. Dalam KBBI, “DOA” didefinisikan sebagai permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Jika orang tua berucap buruk kepada anak maka sama saja orang tua mendoakan yang buruk atas diri anak. Jika orang tua “mensyukuri” kondisi buruk yang dialami anaknya, sama saja dengan orang tua bermohon dan berharap anaknya demikian.

Oleh karenanya, sekalipun dalam keadaan emosi tinggi, orang tua harus berupaya keras mengendalikan pikiran dan ucapannya kepada anak. Jika anak menerima hasil atau akibat buruk terutama karena tidak menuruti apa-apa yang sudah orang tua katakan atau mintakan, orang tua jangan sampai mensyukuri anak. Ingatlah bahwa mensyukuri berarti mendoakan. Orang tua akan menyesal jika “doa” buruknya atas diri anak menjadi kenyataan.

Berucap buruk saat anak sedang menderita atau sedang menghadapi masalah, selain tidak mengurangi penderitaan atau menyelesaikan masalah, anak dapat menjadi dendam kepada orang tua. Anak akan mencari-cari kesempatan untuk membalas orang tuanya. Relasi antara orang tua dan anak akan menjadi buruk dan renggang. Kedua belah pihak menjadi rugi karenanya.

Daripada berucap yang buruk kepada anak meskipun memang nyata-nyata kesalahan ada pada anak, orang tua perlu lebih kreatif dalam memberikan nasihat dan mengubah anak menjadi lebih baik. Salah satu cara terbaik adalah dengan memberikan dukungan dan menunjukkan empati di saat anak berada dalam kondisi di bawah.

Orang tua bisa mengatakan kepada anak bahwa setiap orang pasti ada kekurangan dan melakukan kesalahan, tak terkecuali dengan anak. Ini adalah contoh bentuk dukungan. Orang tua juga bisa menambahkan dengan mengatakan bahwa pasti tidak mudah menerima kondisi buruk yang sedang dihadapi anak. Maka wajar saja jika anak merasa sedih, kecewa, malu, dan lain-lain. Orang tua pun jika berada dalam kondisi yang sama, pasti akan merasakan hal yang sama dengan anak. Ini adalah contoh bentuk empati orang tua ke anak.

Jika orang tua rutin mempraktikkan kepada anak dukungan dan empati, anak akan merasa lebih nyaman dengan orang tuanya. Saat anak merasa nyaman, pikiran bawah sadarnya terbuka sehingga orang tua akan lebih mudah memberikan nasihat-nasihat dan menyampaikan harapan-harapan yang baik kepada anak. Nasihat dan harapan orang tua akan lebih mudah diterima oleh anak dengan sedikit atau bahkan tanpa penolakan atau perlawanan.

Orang tua juga jangan menganggap diri sebagai yang paling benar dan paling tahu. Di zaman maju sekarang ini, anak memiliki akses yang sangat mudah ke pengetahuan kolektif yang begitu luas melalui internet. Meskipun cara yang dilakukan anak hasilnya belum sesuai harapan, cara yang disarankan orang tua pun belumlah tentu yang paling benar. Orang tua perlu mendorong anak untuk terus belajar dari berbagai sumber yang baik dan terpercaya sehingga anak memiliki wawasan dan alternatif yang lebih banyak. Alhasil lebih mudah bagi anak untuk meraih hasil yang diinginkan.

Ingatlah wahai orang tua, jangan mensyukuri anak di saat anak sedang menerima hasil buruk karena tidak mengikuti apa yang orang tua katakan. Tunjukkan dukungan dan empati saat anak berada dalam kondisi di bawah. Niscaya anak akan lebih berpihak, berterima kasih, dan menuruti kata-kata orang tuanya.

“Sekalipun sedang emosi tinggi, orang tua harus berupaya mengendalikan pikiran dan ucapannya kepada anak. Orang tua tidak boleh mensyukuri anak di saat anak sedang menerima hasil buruk karena tidak mengikuti apa yang sudah orang tua katakan. Orang tua harus menunjukkan dukungan dan empati saat anak berada dalam kondisi di bawah.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons hand forming heart
Kisah berikut memberikan teladan bagi kita tentang seseorang yang mampu bertransformasi dari sebelumnya sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi orang yang mau memperhatikan dan menolong orang lain.
a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?

Tulisan Terkait