Top 10 Penulis

Parenting Tip: Kehidupan Perkawinan yang Terlihat, Belum Tentu Seperti Itulah Adanya

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

family, beach, child
Photo by mario0107

“A healthy marriage acts as the vessel of wellbeing and stability for both partners as well as the children.”

“Sebuah pernikahan yang sehat akan bertindak sebagai wadah kesejahteraan dan stabilitas baik bagi pasangan orang tua maupun anak-anaknya.”

~ Abhijit Naskar ~

Suatu survei yang pernah dilakukan di Amerika Serikat menemukan bahwa kebahagiaan perkawinan yang dirasakan oleh sebagian responden adalah periode sebelum anak pertama lahir dan setelah anak terakhir meninggalkan rumah. Boleh jadi hasil survei ini dilatarbelakangi oleh besarnya tantangan yang dihadapi oleh banyak orang tua. Tentu saja survei ini harus dicermati dengan lebih detil dan hasilnya tidak bisa digunakan untuk menyamaratakan semua daerah apalagi negara.

Pengalaman menumbuhkembangkan anak bagi sebagian orang tua memang terasa sangat berat dan menguras banyak sumber daya diri (waktu, pikiran, tenaga, perasaan, uang, dan lain-lain). Periode ini jauh lebih menyenangkan untuk diingat setelah terjadi dibandingkan untuk dijalani bagi sebagian orang tua.

Survei lain dengan hasil mencengangkan di negera Paman Sam, menemukan pasangan-pasangan yang memutuskan berpisah alias bercerai setelah anak-anaknya meninggalkan mereka. Mungkin mereka sebelumnya bertahan sedemikian rupa sampai semua anaknya dianggap sudah mandiri (meninggalkan rumah). Jika hal ini terjadi pada pasangan-pasangan yang sering cekcok, ribut, dan tidak harmonis, bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan.

Namun survei tersebut mengungkap temuan bahwa sebagian pasangan yang kemudian bercerai tersebut adalah pasangan-pasangan yang baik dengan anak-anak yang baik pula. Mereka melakukan acara keluarga bersama-sama dan satu sama lain terlihat hangat, penuh kasih, bekerja sama, dan berhasil. Namun begitu anak-anak mereka tumbuh dewasa, mereka justru bercerai. Kemungkinan besar selama menjalani kehidupan bersama dan menumbuhkembangkan anak, orang tua menekan dan menyimpan semua ketidakenakan, yang kemudian terakumulasi, menggumpal, mengeras, dan akhirnya meletus dalam bentuk perceraian.

Artinya, ternyata pasangan-pasangan yang terlihat baik-baik saja, tidak selalu sebaik yang terlihat. Yang tampak di permukaan belum tentu sama dengan yang ada di bawah permukaan. Mereka ternyata hanya dua orang yang berpasangan, bukan pasangan yang sebenarnya (sejati). Di saat mereka menumbuhkembangkan anak, mereka tidak menumbuhkembangkan perkawinan mereka. Di saat anaknya bertumbuh kembang, kehidupan perkawinan mereka semakin keropos, kering, dan meranggas.

Pasangan semacam itu menghabiskan banyak sekali waktu dan sumber daya lainnya untuk anaknya. Mereka sama sekali tidak mempunyai waktu yang berkualitas untuk berduaan, tanpa anak, untuk menjaga kelangsungan kehidupan perkawinan mereka. Dalam sebagian kasus, demikianlah gaya hubungan orang tua mereka dulu dalam menumbuhkembangkan mereka sewaktu mereka masih anak-anak. Sekarang pola pengasuhan tersebut terwarisi dan berulang kepada mereka dengan anak mereka.

Seharusnya, setiap pasangan orang tua menjaga keseimbangan kehidupan mereka, termasuk kehidupan perkawinan. Jika kehidupan perkawinan orang tua tidak harmonis, akan terekam dalam pikiran bawah sadar anaknya bahwa perkawinan bukanlah prioritas. Namun jika anak melihat dan merasakan hubungan perkawinan orang tuanya erat dan hangat, selain rekaman tentang perkawinan dalam pikiran bawah sadar anak menjadi baik, anak juga dimungkinkan dapat bertumbuh kembang dengan baik.

Ingatlah wahai orang tua, anak memang teramat penting. Namun setiap orang tua juga memiliki kehidupannya sendiri, termasuk kehidupan perkawinannya. Selain mencurahkan diri untuk anak, orang tua juga harus mencurahkan diri untuk dirinya sendiri dan perkawinannya. Dengan cara inilah, selain tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan baik, kelangsungan kehidupan perkawinan orang tua juga dapat terjaga dengan baik.  

“Di saat orang tua menumbuhkembangkan anak, orang tua juga harus menumbuhkembangkan perkawinannya. Jangan sampai di saat anaknya bertumbuh kembang, kehidupan perkawinan orang tua bukan ikut bertumbuh kembang, malah menjadi semakin keropos, kering, dan meranggas. Selain mencurahkan diri untuk anak, orang tua juga harus mencurahkan diri untuk dirinya sendiri dan perkawinannya.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait