Top 10 Penulis

Parenting Tip: Kembangkan Kebiasaan Membaca Pada Anak

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Close-Up Photography of Girl Reading Book
Photo by Min An

“Telling a child that something that matters to them isn’t important doesn’t convince them it doesn’t matter. It just convinces them that it doesn’t matter to you and often makes them feel like they don’t matter, either. Remember, caring about the little things that matter to little people creates big connections.”

“Memberi tahu seorang anak bahwa sesuatu yang penting bagi mereka sebenarnya tidak penting, tidak akan meyakinkan mereka bahwa itu tidak penting. Itu hanya meyakinkan mereka bahwa itu tidak penting bagi Anda dan seringkali lalu membuat mereka merasa bahwa mereka juga tidak penting bagi Anda. Ingat, mempedulikan hal-hal kecil yang penting bagi anak dapat menciptakan hubungan yang baik.”

~ L.R. Knost ~

Banyak tokoh besar dunia yang merupakan orang-orang yang haus pengetahuan dan menyerapnya melalui bacaan. Alexander “The Great” kemanapun pergi selalu membawa buku. Napoleon adalah pembaca kelas berat. Dia membaca riwayat banyak tokoh-tokoh besar, buku kemiliteran, sejarah, pemerintahan, geografi, dan lain-lain. Isaac Newton sejak muda membaca karya para tokoh-tokoh besar masa lalu. Hitler adalah pembaca buku-buku militer, sejarah Jerman, dan banyak lainnya. Hitler menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku-buku di perpustakaan Wina, Austria.

Albert Einstein sewaktu kecil sering bolos sekolah untuk bisa membaca lebih banyak. John F. Kennedy tidak hanya sebagai pembaca buku, melainkan juga penulis buku “Profiles in Courage” yang meraih penghargaan Pulitzer di tahun 1957. Bill Gates menghabiskan buku komputer di perpustakaan sekolahnya hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh besar dunia yang menjulang namanya, salah satu faktor penunjangnya adalah kebiasaan membaca yang mereka miliki. 

Membaca tak terelakkan menjadi suatu kebiasaan positif untuk menambah wawasan dan pengetahuan, dan bisa meningkatkan kemungkinan untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupan. Sayangnya, minat baca penduduk Indonesia masih sangat rendah. PBB pernah melakukan survei bertahun-tahun yang lalu (sangat mungkin jika survei diulang di waktu sekarang, kondisinya belum banyak mengalami perubahan), hasilnya adalah minat baca penduduk Indonesia sebesar 0,001 (dari 1.000 orang hanya satu yang memiliki minat baca). Bandingkan dengan negara Singapura sebesar 0,45 (dari 100 orang ada 45 yang memiliki minat baca). Minat baca di Jepang dan negara-negara maju lainnya kemungkinan lebih tinggi lagi.

Kebiasaan membaca (reading habit) suatu bangsa sering menjadi tolak ukur kemajuan atau peradaban bangsa tersebut. Pembentukan kebiasaan membaca menuju masyarakat yang gemar membaca (reading society) memerlukan proses yang panjang. Di berbagai negara maju, membaca sudah menjadi budaya yang mengakar.

Buku dalam bentuk fisik maupun elektronik (e-book) adalah jendela dunia. Buku dapat mengantarkan pembacanya kepada kekayaan pengetahuan dan pengalaman dunia. Buku menjadi sarana untuk mencerdaskan manusia, masyarakat, dan bangsa. Pembaca buku bisa mengetahui dan mengalami secara tidak langsung lewat pengetahuan dan pengalaman penulis maupun orang lain yang tertulis di dalam buku. Bayangkan jika orang harus mengalami sendiri untuk mendapatkan pelajaran dari pengalamannya langsung, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengakumulasi banyak pengetahuan?

Oleh karena itu, kebiasaan membaca harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Setiap anak harus diperkenalkan dengan bacaan agar mereka cepat menguasai bahasa serta mahir dalam membaca. Karena membaca adalah kebiasaan maka harus dilakukan secara berulang-ulang.

Dengan membiasakan anak membaca, orang tua memberikan kesempatan bagi anak untuk terekspos dengan pengetahuan dan pengalaman baru yang memungkinkan “moment of truth” anak muncul. Kebiasaan membaca juga dapat mengurangi kesempatan bagi anak untuk melakukan hal-hal yang tidak baik atau negatif.

Orang tua perlu mengatur jadwal rutin anaknya untuk membaca dan memastikan jadwal ini dipenuhi secara disiplin. Maka akan terbentuk kebiasaan membaca pada anak. Pada akhirnya anak akan merasa ada yang kurang jika sudahbeberapa waktu tidak membaca. Orang tua dapat memulai dengan memberikan bacaan-bacaan yang menarik bagi anak disesuaikan dengan usia dan perkembangan psikologis anak. Orang tua harus menghindari memaksakan jenis bacaan yang disukai oleh dirinya ke anak karena belum tentu anak memiliki minat yang sama.

Ingatlah wahai orang tua, pengetahuan dan pengalaman orang tua seringkali masih kurang memadai bagi anak. Anak juga takkan mungkin mengakumulasi sendiri berbagai pengalaman untuk mendapatkan pelajaran kehidupan. Buku dapat menjadi alternatif yang baik untuk mempersiapkan anak memiliki berbagai pengetahuan demi menyongsong masa depan yang lebih cerah.

“Buku adalah jendela dunia, yang akan mengantarkan pembacanya kepada kekayaan pengetahuan dan pengalaman dunia. Dengan membiasakan anak membaca, orang tua memberikan kesempatan bagi anak untuk terekspos dengan pengetahuan dan pengalaman baru. Kebiasaan membaca juga mengurangi kesempatan anak untuk melakukan hal-hal buruk.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait