“Mothers who know do less. They permit less of what will not bear good fruit eternally. They allow less media in their homes, less distraction, less activity that draws their children away from their home. Mothers who know are willing to live on less and consume less of the world’s goods in order to spend more time with their children – more time eating together, more time working together, more time reading together, more time talking, laughing, singing, and exemplifying. These mothers choose carefully and do not try to choose it all.”
“Para ibu yang mengerti akan mengizinkan lebih sedikit. Mereka mengizinkan hanya sedikit terhadap hal-hal yang tidak akan menghasilkan buah yang baik ke depannya. Mereka mengizinkan lebih sedikit media di rumah mereka, lebih sedikit gangguan, lebih sedikit aktivitas yang membuat anak-anak menjauh dari rumah. Para ibu yang mengerti akan bersedia hidup yang lebih sedikit dan mengkonsumsi lebih sedikit barang sehingga bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka – lebih banyak waktu makan bersama, lebih banyak waktu bekerja bersama, lebih banyak waktu membaca bersama, lebih banyak waktu berdiskusi, tertawa, bernyanyi, dan memberikan contoh yang baik. Para ibu ini memilih dengan hati-hati dan tidak mencoba memilih semuanya.”
~ Julie B. Beck ~
Secara umum, manusia memiliki dua jenis pikiran, yakni pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Kedua jenis pikiran ini tidak ada hubungannya dengan kesadaran manusia. Yang mana pun dari dua jenis pikiran ini yang aktif, orangnya tetap sadar. Perbedaannya terletak kepada potensi, kemampuan, dan kekuatan orang tersebut yang akan berbeda tergantung jenis pikiran mana yang aktif atau yang digunakan.
Pikiran sadar bersifat analitis, rasional, manipulatif, dan tergantung kepada pembelajaran dan pengalaman yang pernah dialami. Pikiran sadar adalah pikiran yang umum digunakan oleh kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari terutama orang dewasa. Jenis pikiran ini sangat terbatas kemampuannya.
Cobalah ingat-ingat teman-teman TK atau SD Anda. Seberapa banyak yang mampu Anda ingat? Mungkin hanya teman-teman yang sangat baik atau sangat nakal saja yang mampu Anda ingat. Teman-teman yang biasa-biasa saja, umumnya hanya teringat samar-samar saja atau terlupakan. Inilah kelemahan pikiran sadar yang mudah lupa, mudah capek, dan memiliki banyak keterbatasan lainnya.
Pikiran bawah sadar bersifat polos, baik, tidak analitis, tidak rasional, tidak manipulatif, dan tidak tergantung kepada pembelajaran dan pengalaman yang pernah dialami. Pikiran bawah sadar ini hanya sesekali aktif dalam keseharian orang dewasa. Namun dalam diri anak-anak terutama yang masih kecil, pikiran bawah sadarnya cukup dominan aktif dibanding pikiran sadarnya dalam kehidupan sehari-hari.
Potensi, kemampuan, dan kekuatan pikiran sadar manusia hanyalah sebesar 12%, sedangkan pikiran bawah sadarnya sebesar 88%. Artinya peran dan pengaruh pikiran bawah sadar manusia hampir delapan kali pikiran sadarnya. Artinya kalau seorang manusia sering menggunakan pikiran bawah sadarnya untuk belajar dan bekerja maka hasil yang diperoleh akan dapat meningkat dengan drastis. Pencapaian, prestasi, keberhasilan, dan kesuksesan akan lebih mudah diraih jika seseorang mampu lebih sering mengaktifkan dan menggunakan pikiran bawah sadarnya.
Ada berbagai cara untuk mengaktifkan pikiran bawah sadar anak, di antaranya adalah buatlah anak merasa relaks dan nyaman, arahkan anak sehingga bisa berfokus dan berkonsentrasi dengan baik terhadap hal yang sedang dihadapi atau dikerjakan, munculkan emosi-emosi positif dalam diri anak (senang, gembira, bersemangat, dan lain-lain), buatlah anak mau mengulang atau melakukan repetisi, serta buatlah anak percaya dan yakin terlebih dahulu.
Orang tua bisa menggunakan salah satu cara atau menggabungkan beberapa cara yang memungkinkan sesuai dengan situasi dan kondisi anak. Setelah pikiran bawah sadar anak aktif, barulah orang tua memberikan nasihat, masukan, atau permintaan kepada anak. Niscaya anak akan lebih mudah menerima dan mau melakukannya. Penolakan, perlawanan, dan penentangan yang biasanya anak tunjukkan terhadap orang tua akan menjadi minimal atau malah hilang sama sekali saat pikiran bawah sadar anak aktif.
Ingatlah wahai orang tua, untuk mendapatkan seminimum mungkin penolakan, perlawanan, dan penentangan dari anak, berkomunikasilah sesering mungkin dengan pikiran bawah sadar anak. Orang tua dapat menggunakan salah satu cara atau kombinasi dari berbagai cara untuk mengaktifkan pikiran bawah sadar anak terlebih dahulu sebelum berkomunikasi dengan anak.
“Potensi, kemampuan, dan kekuatan pikiran bawah sadar manusia sebesar 88% dibandingkan dengan pikiran sadar yang hanya sebesar 12%. Artinya, pengaruh dan peran pikiran bawah sadar terhadap kehidupan manusia hampir delapan kali lebih besar dibandingkan pikiran sadarnya. Oleh karena itu, orang tua harus berkomunikasi sesering mungkin dengan pikiran bawah sadar anak.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















