“Resolution, like responsibility, is a product of ownership, and kids can’t resolve a conflict until they figure out how they contributed to it.”
“Resolusi, seperti tanggung jawab, adalah produk dari rasa memiliki, dan anak-anak tidak dapat menyelesaikan konflik sampai mereka mengetahui bagaimana mereka berkontribusi terhadap konflik tersebut.”
~ Richard Eyre ~
Barangkali Anda tidak menyadari bahwa setiap orang membuat banyak sekali keputusan sepanjang hidupnya. Dalam seharipun bisa belasan hingga puluhan keputusan harus dibuat oleh setiap orang. Mulai dari bangun tidur mau jam berapa, melakukan apa pertama kali setelah bangun tidur, kapan memulai aktivitas pertama, dan seterusnya. Termasuk anak kecil sebenarnya sudah harus membuat berbagai keputusan setiap harinya meski tidak sebanyak orang dewasa.
Keputusan yang dibuat, ada yang kadarnya ringan, sedang, sampai berat. Kadar keputusan yang dimaksud berhubungan dengan dampak yang timbul dari keputusan tersebut. Tentu saja tidak semua keputusan akan berdampak sesuai harapan. Bahkan ada cukup banyak keputusan dengan dampak yang tidak sesuai harapan. Oleh karenanya, kemampuan membuat keputusan berkualitas yang bisa menghasilkan dampak sesuai harapan, sangatlah dibutuhkan oleh setiap orang.
Banyak orang tua membuat terlalu banyak keputusan bagi anaknya. Tujuan orang tua sebenarnya baik, yakni melindungi anaknya dari membuat keputusan yang hasilnya keliru. Mereka ingin menjaga agar anak mereka terhindar dari dampak keputusan yang buruk. Ini dapat dimaklumi jika anak masih kecil sehingga kemampuannya dalam membuat keputusan belum terbentuk. Namun seiring dengan perkembangan anak, orang tua harus melatih anak membuat keputusan terutama yang berhubungan dengan kepentingan dirinya. Semakin anak besar, keputusan yang dibuat anak harus semakin meningkat bobotnya.
Orang tua perlu memahami bahwa dirinya tidak akan selamanya dapat mendampingi anak. Orang tua tidak akan dan memang tidak boleh selamanya membuat keputusan untuk anaknya yang bisa jadi sudah dewasa atau bahkan berkeluarga. Apa kata dunia jika untuk hal-hal kecil sekalipun anak harus bertanya dulu kepada orang tuanya sebelum memutuskan.
Anak yang selalu bergantung kepada orang tuanya dalam membuat keputusan, tidak akan mendapat hormat dari orang lain. Anak seperti ini bisa jadi secara fisik sudah dewasa tetapi tidak demikian halnya dengan kedewasaan dan kematangannya. Anak seperti ini akan tersisih dan dijauhi oleh orang lain karena tidak dapat diandalkan dalam membuat keputusan.
Oleh karenanya, orang tua harus melatih anak untuk belajar mengakumulasi kemampuan membuat keputusan meskipun tidak semua keputusan yang diambil anak pasti tepat. Kewajiban orang tua mengajarkan anak agar mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan sebelum memutuskan sesuatu. Anak juga harus terbiasa menganalisis hasil dari keputusan yang sudah dibuat, yang baik maupun yang buruk. Anak pada akhirnya akan lebih bertanggung jawab atas hasil keputusan yang sudah dibuatnya.
Ingatlah wahai orang tua, setiap orang harus berani membuat keputusan untuk kehidupannya masing-masing. Demikian juga dengan anak. Dengan mengajarkan anak mengambil keputusan sejak dini, terutama berkaitan dengan kepentingannya, selain anak akan terlatih membuat keputusan, juga anak akan lebih bertanggung jawab terhadap hasil keputusan yang sudah dibuatnya. Pada akhirnya, anak akan berani mengambil berbagai keputusan sepanjang kehidupannya dan siap dengan dampak dari keputusan yang telah dibuatnya.
“Setiap orang harus berani membuat keputusan untuk kehidupannya. Dalam sehari bisa belasan hingga puluhan keputusan harus dibuat oleh setiap orang. Orang tua harus mengajarkan anak sejak dini sehingga terlatih dalam mengambil keputusan. Anak juga akan lebih bertanggung jawab terhadap hasil dari keputusan yang sudah dibuatnya.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















