“Your children need your presence more than your presents.”
“Anak-anak Anda membutuhkan kehadiran Anda melebihi hadiah yang Anda berikan.”
~ Jesse Jackson ~
Orang bijaksana mengatakan, “Penakluk terhebat bukanlah orang yang bisa menaklukkan ribuan orang. Namun, penakluk terhebat adalah orang yang mampu menaklukkan diri sendiri.” Menaklukkan diri sendiri jauh lebih sulit dibandingkan dengan menaklukkan orang lain.
Dua hal yang mungkin termasuk paling sulit dilakukan oleh kebanyakan orang adalah “mengaku salah” dan “meminta maaf”. Dua hal sulit ini juga dialami oleh banyak orang tua terhadap anaknya. Jangankan kepada anak sendiri yang notabene orang tua punya otoritas atau kekuasaan, kepada pasangan sendiri atau orang lain saja orang tua sulit melakukannya meski sekalipun orang tua memang telah melakukan kesalahan.
Kesanggupan mengaku salah dan meminta maaf sama sekali bukan pertanda kelemahan. Kedua kesanggupan tersebut menunjukkan penerimaan dan kesadaran diri yang tinggi. Hanya orang yang telah menaklukkan diri sendiri, yang mampu mengelola diri sendiri sepenuhnya, yang akan sanggup melakukannya. Yang penting dipahami adalah tidak karena mengaku salah dan meminta maaf lalu harga diri kita jatuh. Yang terjadi malah sebaliknya. Dengan berani mengaku salah dan lalu meminta maaf, kita mengembalikan kehormatan diri sendiri dan memunculkan penghormatan orang lain kepada diri kita.
Sebagai manusia biasa, orang tua pasti pernah melakukan kesalahan, bukan hanya beberapa namun bisa jadi banyak kesalahan sudah diperbuat orang tua kepada anaknya. Kesalahan orang tua dapat membekas dalam pikiran sadar maupun bawah sadar anak. Inilah yang kemudian terakumulasi menjadi kemarahan, kebencian, dan dendam dalam diri anak, meskipun tersembunyi di dasar hatinya. Inilah yang kemudian dapat memunculkan penolakan atau penentangan anak terhadap orang tua.
Orang tua dapat memutus atau mengurangi penolakan atau penentangan anak dengan cara mengajak anaknya memulai dari titik yang baru. Caranya adalah:
(1) Mencari momen yang tepat saat anak merasa nyaman (pikiran bawah sadar anak terbuka atau aktif).
(2) Dengan penuh ketulusan orang tua mengakui bahwa selama ini telah melakukan kesalahan kepada anak.
(3) Orang tua secara tulus meminta maaf kepada anak.
(4) Orang tua berjanji dengan tekad yang kuat untuk mengubah diri menjadi lebih baik dan mengajak anak untuk berjanji hal yang sama (menjadi anak yang lebih baik).
(5) Mengajak anak untuk memulai melakukan segala sesuatunya dengan cara baru yang lebih baik.
Jika usia dan kedewasaan anak sudah memadai, bisa juga ditambah dengan:
(6) Mendiskusikan dengan anak apa saja yang anak inginkan dari orang tua untuk dipertahankan dan diperbaiki. Demikian juga dari orang tua menyampaikan apa saja yang orang tua inginkan anak untuk dipertahankan dan diperbaiki.
(7) Usahakan bisa dibuat kesepakatan tertulis yang ditandatangani bersama antara orang tua dan anak atas hal-hal yang masing-masing pihak harus pertahankan dan perbaiki, lalu ditempel di tempat yang mudah terbaca, sebagai panduan bagi orang tua maupun anak dalam kehidupan sehari-hari.
Ingatlah wahai orang tua, tidak ada orang tua atau anak yang sempurna. Semua pasti pernah melakukan kesalahan. Kemauan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf secara tulus akan menjadi dasar yang baik untuk memulai kembali. Lebih baik terlambat daripada tidak melakukan ini sama sekali. Jangan sampai menyesal di kemudian hari sewaktu sudah di ujung kehidupan.
“Orang tua pasti pernah melakukan kesalahan kepada anak. Kemauan orang tua untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf secara tulus kepada anak akan menjadi dasar yang baik untuk memulai kembali. Minta maaflah secepatnya ke anak. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















