Top 10 Penulis

Parenting Tip: Orang Tua Perlu Memberikan dan Menjaga Privasi Anak

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Woman Holding Black Wallet
Photo by Andrea Piacquadio

“One of the most effective ways we can influence our sons and daughters is to counsel them in private interviews. By listening closely, we can discover the desires of their hearts, help them set righteous goals, and also share with them the spiritual impressions that we have received about them. Counselling requires courage.”

“Salah satu cara paling efektif agar kita bisa mempengaruhi putra dan putri kita adalah melakukan konseling dengan mereka dalam percakapan pribadi. Dengan mendengarkan mereka secara dekat kita dapat mengetahui hasrat hati mereka, membantu mereka menetapkan tujuan yang benar, dan juga membagikan kepada mereka kesan rohani kita akan diri mereka. Konseling membutuhkan keberanian.”

~ Larry R. Lawrence ~

Kerahasiaan pribadi atau keleluasaan pribadi (asal kata dalam bahasa Inggris “privacy”, dalam bahasa Indonesia “privasi”) adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk menutup atau melindungi kehidupan dan urusan pribadinya dari publik. Atau untuk mengontrol arus informasi mengenai dirinya. Seringkali dalam masyarakat umum, privasi menjadi bagian dari pertimbangan keamanan, terutama bagi figur publik.

Anak juga seorang manusia, yang selain ada hal-hal di dalam diri yang dia ingin diketahui oleh orang lain, juga memiliki hal-hal di dalam diri yang dia tidak ingin diketahui oleh orang lain. Orang tua secara bertahap perlu memberikan privasi kepada anaknya. Tentu saja privasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia, perkembangan psikologis, dan kebutuhan anak. Privasi anak dalam hal ini diartikan keleluasaan anak untuk mengatur sendiri tanpa intervensi dari pihak lain.

Privasi yang dapat diberikan oleh orang tua harus dikomunikasikan secara jelas ke anak. Sebaiknya orang tua juga mendengar keinginan dari anak untuk jenis privasi yang diinginkannya. Kesepakatan antara dua belah pihak, orang tua dan anak, mengenai jenis privasi yang akan diberikan kepada anak adalah cara terbaik.

Yang terpenting, begitu sudah disepakati, orang tua harus memenuhi sepenuhnya komitmen atas privasi yang sudah diberikan ke anak. Sekali saja orang tua melanggar privasi yang sudah diberikan, anak bisa menjadi tidak percaya lagi. Tentu saja dimungkinkan dari waktu ke waktu mengevaluasi privasi yang sudah berjalan. Mungkin saja di kemudian waktu, jenis privasi anak bertambah atau malah berkurang. Dasarnya adalah kebaikan sebanyak mungkin yang diperoleh dari privasi yang diberikan kepada anak sesuai dengan yang sudah disepakati bersama.

Jika orang tua secara bijaksana dan tepat memberikan privasi kepada anak dan menjaganya dengan penuh komitmen, niscaya anak akan berterima kasih. Sebagai imbal baliknya, anak akan berterima kasih dan menghargai orang tuanya. Jadi meskipun orang tua memiliki otoritas terhadap anaknya bukan berarti mutlak segala sesuatu di diri anak harus diketahui oleh orang tua.

Akan tetapi jika ada keraguan, orang tua bisa memberikan hanya “privasi terbatas” kepada anaknya, dimana orang tua bisa melakukan “sidak” (inspeksi mendadak) jika dirasa dibutuhkan. Tentu saja pemberian privasi terbatas dan aturan pelaksanaannya yang memungkinkan sidak ini, harus betul-betul jelas dikomunikasikan dan disepakati dengan anak.

Contoh privasi terbatas adalah anak diberikan HP dan boleh menggunakannya sehari-hari. Namun orang tua sewaktu-waktu dapat mengecek HP anaknya untuk memastikan anak tidak mengakses situs yang tidak diperbolehkan atau bermain games secara berlebihan.

Ingatlah wahai orang tua, anak juga memerlukan privasi sesuai dengan usia, perkembangan psikologis, dan kebutuhannya. Orang tua harus menjaga komitmen atas privasi anak yang sudah diberikan atau disepakati bersama. Jika diperlukan, anak hanya diberikan privasi terbatas. Kuncinya terletak pada komunikasi yang jelas supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Anak juga seorang manusia, yang selain ada hal-hal di dalam diri yang dia ingin diketahui oleh orang lain, juga memiliki hal-hal di dalam diri yang dia tidak ingin diketahui oleh orang lain. Orang tua secara bertahap perlu memberikan privasi kepada anak, disesuaikan dengan usia, perkembangan psikologis, dan kebutuhan anak. Selanjutnya, orang tua harus menjaga komitmen atas pemenuhan privasi yang sudah diberikan ke anak.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons hand forming heart
Kisah berikut memberikan teladan bagi kita tentang seseorang yang mampu bertransformasi dari sebelumnya sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi orang yang mau memperhatikan dan menolong orang lain.
a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?

Tulisan Terkait