“When you see a dandelion do you see a wish or a weed? When you hear a child cry do you hear a need or a demand? When you wash a sticky face do you feel blessed or burdened? As parents, our perspective determines our response, and our response determines our children’s reality. So let’s wish wishes, meet needs, and count blessings to make childhood a magical, peaceful, joy-filled reality for both our children and ourselves.”
“Saat Anda melihat bunga dandelion, apakah Anda melihat keinginan baik atau rumput liar? Ketika Anda mendengar seorang anak menangis, apakah Anda mendengar kebutuhan atau permintaan? Saat Anda mencuci wajah yang lengket, apakah Anda merasa diberkati atau terbebani? Sebagai orang tua, perspektif kita menentukan tanggapan kita, dan tanggapan kita menentukan realitas anak-anak kita. Jadi mari kita berkeinginan baik atas diri anak, memenuhi kebutuhan anak, dan menghitung berkat dalam membuat masa kanak-kanak menjadi kenyataan yang ajaib, damai, dan penuh kegembiraan bagi anak-anak kita dan diri kita sendiri.”
~ L.R. Knost ~
Orang tua dapat melakukan “KEBAIKAN-KEBAIKAN” kecil kepada anaknya. Meskipun terkesan kecil, jika dapat dijelaskan dengan tepat dan akurat, niscaya dapat meresap ke dalam pikiran bawah sadar anak. Apalagi jika dilakukan secara berulang, efeknya akan mengendap kuat di pikiran bawah sadar anak. Pada akhirnya anak akan sangat berterima kasih kepada orang tuanya. Kuncinya terletak kepada bagaimana kepekaan orang tua dalam menentukan kebaikan kecil apa yang akan dilakukan kepada anak. Lalu bagaimana mengkomunikasikan kebaikan kecil ini secara tepat ke anak.
Namun kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan oleh orang tua ini tidak boleh sampai salah ditafsirkan oleh anak sebagai kewajiban-kewajiban orang tuanya. Oleh karenanya, diperlukan keterampilan berkomunikasi yang baik dari orang tua untuk memberikan pengertian benar sehingga salah penafsiran tersebut bisa terhindarkan.
Contohnya adalah satu jenis kebaikan kecil yang di suatu periode, sering kami lakukan kepada anak-anak kami. Karena saya dan istri biasanya bangun lebih awal daripada anak-anak, kami biasanya mengambil HP mereka untuk kemudian di-charge. Kebetulan anak-anak diperbolehkan membawa HP ke sekolah meski sepanjang pelajaran, HP harus dititipkan ke pihak sekolah. HP boleh dibawa ke sekolah dengan pertimbangan untuk mempermudah komunikasi anak dengan pihak keluarga, pengantar, atau penjemput jika diperlukan. Tindakan untuk menyambungkan HP anak-anak ke colokan listrik ini hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu menit. Jadi bukanlah sesuatu yang merepotkan dan memberatkan.
Bagaimana efek kebaikan kecil yang kami lakukan tersebut ke anak-anak kami? Begitu mereka bangun, dengan gembira mereka mendapati HP-HP-nya sudah terisi penuh baterenya. Mereka biasanya akan menyampaikan terima kasih kepada kami. Kebiasaan mengucapkan terima kasih ini juga harus diajarkan kepada anak-anak jika mereka menerima bantuan dari orang lain sekalipun kecil.
Tentu saja yang harus kami komunikasikan di awal adalah menjelaskan dengan tepat dan akurat berkaitan dengan kebaikan kecil yang kami lakukan kepada mereka:
* Men-charge HP adalah kewajiban masing-masing anak, bukan kewajiban orang tua.
* Jikapun kami sebagai orang tua men-charge HP mereka, itu adalah bentuk kebaikan yang kami lakukan kepada mereka.
* Sesuai dengan prinsip umum, untuk setiap pertolongan atau kebaikan yang diterima, mereka harus mengucapkan terima kasih dan jika memungkinkan membalasnya pula dengan pertolongan atau kebaikan di kemudian hari.
Dengan melakukan ini (men-charge HP anak-anak di pagi hari) berulang kali dengan sesekali mengingatkan anak-anak akan poin-poin penting tersebut, akan melekat dalam pikiran bawah sadar mereka. Itulah yang akan menjadi pegangan bagi mereka.
Ingatlah wahai orang tua, dengan melakukan kebaikan-kebaikan kecil kepada anak dengan disertai penjelasan yang tepat dan akurat, sebenarnya orang tua sudah menanam pohon baik yang akan berbuah baik di kemudian hari dalam bentuk anak mengingat dan akan membalas dengan kebaikan pula kepada orang tuanya. Tentu saja orang tua harus mengerti bahwa apapun kebaikan yang dilakukan kepada anaknya bukanlah dengan pamrih untuk dibalas kebaikan pula oleh anak di kemudian hari.
“Orang tua dapat melakukan kebaikan-kebaikan kecil kepada anak. Meskipun terkesan kecil, jika dapat dijelaskan secara tepat dan dilakukan berulang, dapat meresap kuat ke dalam pikiran bawah sadar anak. Namun kebaikan-kebaikan kecil ini tidak boleh disalahtafsirkan oleh anak sebagai kewajiban orang tua.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















