Top 10 Penulis

Peduli-Melayani

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person in red sweater holding babys hand
Photo by Hannah Busing

Sumber daya manusia merupakan penggerak penting bagi organisasi. Orang-orang kompeten menghasilkan produk dan layanan terbaik bagi konsumen dan pelanggan. Mereka mampu mengoperasikan berbagai perangkat secara tepat sehingga menghasilkan kinerja yang efektif dan efisien.

Organisasi mampu menciptakan nilai tambah dan memiliki daya saing yang kuat karena diisi oleh orang-orang berkualitas. Organisasi Buddhis, meskipun bersifat nirlaba, juga membutuhkan sumber daya manusia yang andal supaya mampu memberikan pelayanan terbaik kepada umat. Mereka memiliki hard skills dan soft skills yang mumpuni, yang salah satunya adalah etos kerja.

Sagay et al., (2018) menyatakan bahwa etos kerja penting untuk diperhatikan untuk menciptakan profesionalisme dalam bekerja. Organisasi akan unggul bila mampu menciptakan etos kerja profesional bagi SDMnya karena SDM akan bekerja sebaik mungkin bila mereka memiliki etos kerja. Pengembangan etos kerja bagi abdi Dharma (SDM Buddhis yang terdiri dari para relawan, pengurus yayasan, pengurus wihara, guru dan pembina SMB, dan lain sebagainya) serta  pandita dan dharmaduta merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas SDM agar organisasi Buddhis mampu memberikan manfaat yang besar kepada umat Buddha.  

Dua kata kunci untuk dipahami para abdi Dharma serta pandia dan dharmaduta adalah ‘transformasi’ dan ‘diri’ yang membentuk frasa transformasi diri. Transformasi, menurut KBBI, adalah perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya). Transformasi sinonim dengan kata ubah, berubah, perubahan. Transformasi diri berarti diri yang berubah. Apa perubahan yang dimaksud dan siapa yang berubah?

‘Siapa yang berubah’ adalah setiap Buddhis yang menjadi abdi Dharma serta pandia dan dharmaduta. Mereka bertransformasi menjadi individu yang peduli dan melayani sebagai perwujudan welas asih dan kebijaksanaan. Welas asih direalisasikan dalam kepedulian. Kebijaksanaan ditunjukkan dalam melayani. Peduli tanpa melayani adalah omong kosong. Melayani yang baik didasari oleh kepedulian.

Para abdi Dharma serta pandia dan dharmaduta tidak hanya terjun ke lapangan, melainkan juga masuk ke kelas untuk mengasah kemampuan. Pengetahuan Buddha Dharma dan berbagai pengetahuan kontemporer, ditambah beragam keterampilan dipelajari kemudian dipraktikkan dalam berbagai bentuk latihan. Belajar akan menjadikan mereka orang-orang yang tepat untuk membawa organisasi ke tempat yang hebat; mampu mencapai misi, visi, dan tujuannya sehingga memberikan dampak dan manfaat bagi umat Buddha dan Buddha Dharma. 

Peduli-Melayani adalah buah dari mempraktikkan ajaran Buddha, khususnya yang esensial dan kontekstual. Setiap abdi Dharma peduli dan melayani secara tulus, cerdas, gotong royong, dan bertanggungjawab, plus rendah hati dan kompeten bagi pandita/dharmaduta.  Secara konsep, Peduli-Melayani digambarkan dalam model etos kerja Catur Dharmadasa+ seperti pada gambar di bawah ini.

To be continued in a coming soon E-book
CATUR DHARMADASA+
Etos Kerja Abdi Dharma dan Pandita/Dharmaduta

Reference:

Sagay, I. F. P., Tewal, B., & Sendow, G. (2018). Pengaruh Iklim Organisasi, Lingkungan Kerja Fisik, Dan Etos Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pt. Pelabuhan Indonesia Iv (Persero) Terminal Petikemas Bitung. EMBA, 6(3), 1708–1717. https://doi.org/10.35794/emba.v6i3.20500

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait