Dalam agama Buddha, Sammā-Kammanto merupakan salah satu aspek penting dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya-Magga), yang dikenal juga sebagai Jalan Tengah. Sammā-Kammanto, yang biasanya diterjemahkan sebagai “Perbuatan yang Benar”, adalah salah satu dari tiga pilar etika dalam ajaran Buddha.
Sammā-Kammanto mengacu pada tindakan-tindakan yang termasuk dalam perbuatan baik dan benar, yang tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain. Hal ini meliputi menghindari pembunuhan, pencurian, dan perilaku seksual yang tidak pantas. Dengan mempraktikkan Sammā-Kammanto, seseorang akan mengembangkan kebajikan dan memperkuat niat untuk hidup dengan cara yang tidak merugikan.
Ajaran tentang Sammā-Kammanto dapat ditemukan dalam Sutta Pitaka, khususnya dalam Majjhima Nikāya. Salah satu sutta yang membahas tentang hal ini adalah Sutta Sīlakkhandha (Ajaran tentang Moralitas), yang dapat ditemukan dalam Sutta Pitaka, Majjhima Nikāya, Mūlapaṇṇāsapāḷi, Sīlakkhandhavagga, Sutta ke-5. Sutta ini menekankan pentingnya memelihara moralitas (sīla) sebagai landasan bagi praktik spiritual yang lebih tinggi.
Dalam Sutta Sīlakkhandha, Buddha menyatakan:
“Katamañca, bhikkhave, sammā-kammantaṃ? Idha, bhikkhave, ekacco pāṇātipātā paṭivirato hoti, nihitadaṇḍo nihitasattho, lajjī, dayāpanno, sabbapāṇabhūtahitānukampī viharati. Adinnādānā paṭivirato hoti, yāya tena pariyāyena parakaraṇīyaṃ nātikkamai, adinnaṃ theyyasaṃkhātaṃ ādātuṃ paṭikkamati. Abrahmacariyā paṭivirato hoti, brahmacariyavā virato methunā gāmadhammā.”
(Terjemahan: “Dan apakah, para bhikkhu, perbuatan yang benar? Di sini, para bhikkhu, seseorang menghindari pembunuhan, meninggalkan tongkat dan senjata, penuh rasa malu, penuh kasih sayang, dan mempunyai belas kasih kepada semua makhluk hidup. Ia menghindari pencurian, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, menjauhkan diri dari apa yang dianggap sebagai pencurian. Ia menghindari kehidupan suci yang salah, hidup dengan cara suci, menjauhkan diri dari hubungan seksual yang tidak pantas.”)
Dengan mempraktikkan Sammā-Kammanto, umat Buddha diharapkan dapat mengembangkan kebajikan, menghindari perbuatan-perbuatan yang merugikan, dan pada akhirnya mencapai pembebasan dari penderitaan.

















