“Most of us regard good luck as our right, and bad luck as a betrayal of that right.”
“Sebagian besar dari kita menganggap keberuntungan sebagai hak kita, dan nasib buruk sebagai pengkhianatan dari hak tersebut.”
~ William Feather ~
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kesialan” adalah ketidakmujuran, kemalangan, atau kecelakaan. Artinya kesialan itu bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari kesialan walaupun bentuknya bisa berbeda-beda. Masalahnya adalah tidak semua orang bisa menerima kesialan dengan lapang dada dan besar hati.
Kisah berikut menggambarkan bahwa kesialan yang ditanggapi dengan keliru bisa memicu munculnya kesialan yang lain.
***************************************************
Suatu ketika hiduplah seorang anak laki-laki remaja yang terkenal cerdik. Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah rumah kecil tidak berapa jauh dari tembok besar yang mengelilingi istana raja. Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih bayi. Sebagai anak satu-satunya, dia sangatlah berbakti kepada ibunya yang sudah tua.
Di balik tembok besar istana terdapat sebuah kebun apel yang cukup luas. Sesekali remaja itu memanjat tembok istana dan mengambil beberapa apel untuk ibunya yang sangat menyukai buah tersebut.
Suatu hari, ketika sedang memanjat tembok istana setelah mengambil beberapa apel, remaja itu terlihat dari jauh oleh raja yang sedang berjalan-jalan. Tetapi raja yang sedang menikmati waktunya berjalan-jalan, tidak mengubris kejadian itu lebih lanjut.
Siang harinya, raja terpeleset di dalam istana. Para penasihat dan tukang ramal kerajaan dipanggil raja untuk dimintakan pendapatnya atas kejadian tersebut. Mereka menanyakan apakah raja telah melihat sesuatu yang tidak biasa sepanjang hari itu karena bisa membawa kesialan bagi raja sehingga menyebabkannya terpeleset.
Setelah mengingat-ingat sebentar, raja menceritakan bahwa dia melihat seorang anak remaja sedang memanjat tembok istana di pagi hari sewaktu dia sedang berjalan-jalan. Para penasihat dan tukang ramal kerajaan bersepakat, ”Anak remaja itu telah membawa sial bagi Paduka. Lebih baik Paduka memberikan hukuman mati kepadanya atas kesialan yang Paduka sudah alami. Dan juga supaya kesialan Paduka tidak berlanjut.”
Anak remaja itu segera ditangkap. Dengan gemetar, anak remaja itu bersujud di hadapan raja. Dia telah diberi tahu sebelumnya bahwa dia akan dihukum mati. Hal ini dikarenakan seseorang di istana telah melihatnya mencuri apel sehingga membawa kesialan bagi si saksi tersebut. Tentu saja dia tidak diberi tahu siapa saksi yang telah mengalami kesialan tersebut. Namun anak remaja yang cerdik itu dapat menduganya.
Anak remaja itu dengan memberanikan diri meminta kesempatan untuk menyampaikan pembelaan, “Hamba menyesal telah mencuri buah apel dari kebun kerajaan. Itu hamba lakukan semata untuk menyenangkan ibu hamba. Sama sekali bukan untuk mendapatkan keuntungan dengan menjualnya kembali. Hamba mohon maaf jika kejadian tersebut membawa kesialan bagi orang yang telah melihat hamba mencuri. Tapi Paduka akan menjadi junjungan yang paling adil jika saksi yang melihat hamba mencuri tersebut ikut dihukum. Ini dikarenakan dia telah membawa kesialan bagi hamba sehingga hamba dihukum mati.”
Jawaban ini sangat mengejutkan, namun mengesankan dan membuka kebijaksanaan raja. Raja berpikir sejenak tanpa merasa perlu berkonsultasi dengan para penasihat dan tukang ramal kerajaan. Bukannya menghukum anak remaja itu, raja malah mengangkatnya sebagai anak. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan akan bakti yang sudah ditunjukkan anak kecil itu kepada ibunya dan kecerdikan luar biasa yang dimilikinya. Di kemudian hari, anak remaja itu menjadi orang yang berkontribusi besar terhadap kemajuan kerajaan.
***************************************************
Di kala kita mengalami masalah, kegagalan, atau kekalahan dalam kehidupan, daripada sibuk mencari kambing hitam atau menyalahkan penyebab kesialan, lebih baik melakukan introspeksi diri untuk perbaikan. Dalam kisah sebelumnya, raja mengambil keputusan untuk tidak menyalahkan orang lain sebagai penyebab kesialan yang dialami. Dengan melupakan kesialannya, raja akhirnya mengambil suatu keputusan bijaksana yang di kemudian hari terbukti menguntungkan.
Alangkah baiknya jika kita bisa menerima kenyataan bahwa sesekali kesialan pasti kita alami dalam kehidupan ini. Kita tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui secara persis kesialan yang akan dialami. Di saat kita mengalami kesialan dan ingin melontarkan protes, cobalah bertanya terlebih dahulu ke diri sendiri, mengapa saya harus dikecualikan dari orang-orang lain yang juga mengalami kesialan? Semua orang pernah mengalami kesialan. Pikiran seperti ini menenangkan sehingga kita bisa menyikapi kesialan dengan lebih bijaksana.
Mengembangkan sikap mental yang positif terhadap kesialan yang dialami bukan berarti kita menyukai kesialan. Bukannya kaget, bingung, frustasi, atau marah sewaktu kesialan menimpa, kita tetap tenang terkendali sehingga lebih mungkin memikirkan solusi yang lebih baik. Sikap mental positif juga memungkinkan kita tidak menyalahkan orang lain yang mungkin terlibat dalam kesialan yang kita alami. Alih-alih menimpakan kesalahan yang bisa memperkeruh situasi, maafkanlah dia yang mungkin secara tidak sengaja melakukan atau terlibat dalam kesialan kita.
Lebih baik mengambil pelajaran dan manfaat dari kesialan daripada menyalahkan orang lain, situasi, atau kondisi. Cara ini akan mengantarkan kepada pengeluaran diri kita yang terbaik melalui perbaikan diri yang terus-menerus sehingga kita bisa mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Janganlah menyalahkan orang lain, situasi, atau kondisi di kala kita mengalami kesialan. Terimalah itu sebagai hal yang wajar dalam kehidupan, lalu lakukan introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















