Tidak dapat disangkal bahwa Buddha Gotama adalah salah seorang pemimpin terbesar di dunia. Meskipun telah wafat lebih dari dua ribu enam ratus tahun lalu, Buddha tetap diingat sampai dengan sekarang, dikagumi karena cinta kasihnya, diikuti ajarannya oleh milyaran orang sejak dulu sampai dengan saat ini. Semasa hidupnya memimpin banyak sekali bhikkhu yang menjadi siswanya, juga lebih banyak lagi umat yang mengikuti ajarannya. Apa yang dapat dipelajari dari Sang Buddha berkaitan dengan kepemimpinannya? Banyak ahli telah membahas berbagai aspek kepemimpinan Buddha. Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan.
Pertama, Buddha adalah seseorang yang memberi inspirasi bagi semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan sebagaimana yang telah dicapainya. Buddha tidak menyatakan akan menyelamatkan mereka yang ikut padanya, tetapi menyatakan bahwa terbuka jalan menuju kebahagiaan tertinggi apabila mengikuti jalan yang beliau ajarkan. Oleh karena itulah Buddha disebut Penunjuk Jalan Kebahagiaan dan jalan itu terbuka bagi semua orang yang melaluinya, jalan yang disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Itulah fungsi utama seorang pemimpin, memberi inspirasi kepada orang-orang agar termotivasi untuk mencapai tujuan. Kehadiran dan semangatnya terasakan ada meskipun secara fisik mungkin tidak ada – ‘meski tiada tapi terasa ada’. Berbeda dengan pemimpin yang tidak memberi inspirasi, pemimpin yang tidak tampil ke depan di kala orang-orang membutuhkannya, yang disebut ‘meski ada tapi terasa tiada’.
Kedua, Buddha adalah seorang manager yang mumpuni. Buddha mengetahui kelebihan dan kekurangan para siswanya. Buddha menggolongkan berbagai watak manusia. Ada yang penuh dengan nafsu keinginan, ada yang penuh kebencian dan kemarahan, ada yang penuh dengan delusi, ada yang penuh keyakinan, ada yang bijaksana dan cerdas, dan ada pula yang penuh dengan keragu-raguan. Buddha memberi tugas kepada siswanya sesuai dengan kemampuannya. Yang Ariya Sariputta, siswa yang paling pandai dan Yang Ariya Moggallana, siswa yang mempunyai kesaktian tertinggi, ditunjuk sebagai dua siswa kepala (Agga Savaka). Yang Ariya Ananda yang mempunyai kemampuan mengingat luar biasa ditunjuk sebagai pendamping sehingga dapat mengingat khotbah-khotbah Buddha. Yang Ariya Upali diminta oleh Buddha untuk mengkompilasi Vinaya meskipun tadinya Yang Ariya Upali ingin menjadi bhikkhu yang hidup menyendiri. Ada kalanya Visakha ditunjuk Buddha untuk membantu menyelesaikan permasalahan dalam Sangha Bhikkhuni.
Demikianlah seorang pemimpin seyogianya dapat menunjuk orang yang tepat, ‘the right man in the right place’. Tidak memilih seseorang yang tidak berpengalaman atau tidak mempunyai pengetahuan cukup untuk jabatan penting yang memerlukan jam terbang tinggi.
Ketiga, Buddha adalah seorang problem solver yang luar biasa. Dapat dilihat dari kisah terjadinya perselisihan antara suku Sakya yang merupakan suku dari ayah Buddha dan suku Koliya yang merupakan suku dari ibunda Buddha, untuk mendapatkan air dari sungai yang mengairi daerah kedua suku tersebut. Karena tidak mencapai kata sepakat maka keduanya bersiap berperang untuk mendapatkan air. Sang Buddha datang menengahi pertikaian itu dengan bertanya, ”Apa yang engkau anggap lebih berharga, air atau nyawa manusia?” Kedua pihak tersadar dan akhirnya berdamai.
Begitulah seorang pemimpin harus tampil menghadapi masalah yang harus diselesaikan. Tidak membiarkan masalah berlarut-larut sehingga membuat masalah menjadi semakin besar dan berkelanjutan. Ada kisah di mana Buddha secara tegas memberi sanksi kepada seorang bhikkhu yang sebenarnya mempunyai hubungan ‘dekat’.
Bhikkhu itu adalah Channa, yang dulu menjadi kusir semasa Buddha masih hidup di istana sebagai Pangeran Siddhattha. Channa ikut menjadi bhikkhu ketika banyak orang Sakya menjadi bhikkhu. Namun karena merasa ‘dekat’ dengan Buddha, Channa menjadi sombong dan suka membanggakan kedekatannya dengan Buddha, bahkan merendahkan bhikkhu-bhikkhu lainnya termasuk Siswa Kepala. Buddha sudah berulang kali memberi nasihat namun Channa tetap keras kepala. Akhirnya, beberapa waktu sebelum Parinibbana Buddha meminta Yang Ariya Ananda memberi hukuman berat kepada Channa untuk mengatasi kesombongannya. Maka setelah Parinibbana Buddha, Channa diberitahu bahwa Buddha sebelum Parinibbana memberi hukuman berat kepada Channa yaitu Channa boleh berbuat atau berkata apa saja tetapi para bhikkhu lainnya tidak boleh menanggapinya atau meladeninya. Mendengar itu Channa pingsan, setelah sadar menjadi tersadar untuk sungguh-sungguh melaksanakan Dhamma sehingga tidak berapa lama kemudian mencapai kesucian.
Demikianlah, dengan bercermin pada Buddha seseorang dapat berupaya untuk menjadi pemimpin yang baik. Tidak berarti pemimpin tidak bisa salah, yang penting adalah seorang pemimpin berusaha memimpin dengan penuh keyakinan akan Dhamma, kebenaran dan keadilan. Ya, seorang pemimpin boleh salah tapi tidak pernah ragu2, dan seorang pemimpin akan berusaha menegakkan keadilan sekalipun langit akan runtuh (fiat justitia ruat caelum………).

















