Di dalam Majjhima Nikaya 152, Indriyabhavana Sutta, Sang Buddha menyampaikan kepada Bhante Ananda: “Ada bawah pohon ini, gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Ananda, jangan menunda atau engkau akan menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi kami kepadamu.”
Pada awal Tahun 2006 setelah lulus kuliah, saya mengalami kegalauan yang sering muncul dalam diri. Ketika bertemu dengan masalah pikiran menjadi panjang bercerita, muncul kekhawatiran, kecemasan, kebingungan, ketakutan pada makhluk halus, juga takut ketinggian yang disebut fobia ketinggian.
Dengan usaha dan tabungan karma baik mengkondisikan saya untuk pertama kali mendengarkan Dhamma tentang Meditasi. Pada waktu itu saya mengikuti puja bakti di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Dhammadesana yang disampaikan oleh Bhante Sri Pannavaro Mahathera, masih teringat dalam sanubari saya sampai saat ini adalah ” tidak perlu usaha ekstra, bermeditasilah.”
Praktik meditasi mulai saya lakukan di rumah, dengan berkata dalam batin semoga semua makhluk berbahagia, dan memancarkannya di tempat saya duduk bermeditasi. Kemudian ke tempat-tempat yang ditinggali orang-orang yang saya kenal semoga mereka semua berbahagia, hanya memancarkan dan berharap semoga mereka berbahagia.
Waktu terus berjalan dan saya mulai menyadari hasil dari praktik meditasi yang telah dilakukan mengkondisikan saya untuk bertemu dengan hal-hal yang baik, dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Ini adalah suatu berkah istimewa bagi saya.
Tahun 2012 karma baik saya mendukung dan berbuah tepat pada waktunya. Setelah mengikuti acara Dhammatalk Bhante Uttamo Mahathera di pintu keluar ada stand meja pendaftaran retret meditasi di Panti Semedi Balerejo, Wlingi, Blitar atau Vihara Bodhigiri tempat Bhante Uttamo bervassa.
Setiap masa vassa sekitar bulan Juli-Oktober, Vihara Bodhigiri memberi kesempatan kepada umat Buddha dan umat yang lain untuk berlatih meditasi dengan terlebih dahulu mendaftar dan memenuhi syarat dan ketentuan yang mesti ditaati.
Kemudian saya diajak untuk mendaftar retret meditasi di Panti Semedi Balerejo. Pelatihan meditasi ini kali pertama dalam hidup saya.
Tahun 2012 saya sudah bekerja dan memiliki keluarga, beberapa waktu kemudian saya dihubungi panitia untuk mengikuti pelatihan dengan ketentuan dan tanggal yang sudah ditetapkan.
Perasaan senang dan galau kemudian muncul silih berganti, karena saya belum meminta izin dari kantor dan juga yang paling penting izin dari keluarga yaitu istri, karena usia anak pertama masih 2 tahun.
Saya beranikan diri untuk meminta izin kepada bos selama seminggu. Perasaan gundah gulana menantikan balasan dari bos, apakah diizinkan atau tidak. Tak lama kemudian ada balasan pesan dari bos, saya buka dan membaca dengan jantung berdegup kencang, perasaan meledak seperti dapat hadiah besar, saya diizinkan cuti selama 1 minggu.
Rasa senang ini kemudian tidak lama, karena muncul kegalauan berikutnya, khawatir lagi, apakah istri mengizinkan? Dalam hati bertanya-tanya. Sampai di rumah saya meminta izin kepada istri, dengan perasaan yang sama gundah gulana, menanti jawaban istri, apakah diizinkan atau tidak. Istri saya langsung memberikan jawaban. “Boleh pa ikut aja.” Perasaan senang kembali mengguncang, mendapat izin dari kantor dan keluarga/istri, bahagia sekali rasanya.
Tibalah hari saya berangkat menuju Panti Semedi Balerejo (Vihara Bodhigiri) di Blitar, Jawa Timur. Kami bertemu dan berangkat bersama dari bandara. Ada 7 orang dalam kelompok kami, dan saya belum pernah mengenal sama sekali dengan teman-teman rombongan, kami berkenalan ketika bertemu di bandara.
Sampai di Balerejo hari sudah gelap, kami diberi senter dan diantar ketempat masing-masing untuk menyimpan tas dan perlengkapan yang dibawa. Kami diperbolehkan langsung melatih meditasi pada malam itu juga setelah diperlihatkan video tutorial cara meditasi dari Bhante Uttamo Mahathera.
Syahdan saya langsung praktik meditasi duduk bersila diselingi meditasi jalan. Rasa takut dan udara yang dingin selalu menyertai pikiran saya pada malam itu. Pada akhirnya terbitlah sinar matahari, rasa takut dan udara dingin mulai mereda.
Tepat pukul jam 6 pagi kami selalu mengadakan prosesi chanting pagi bersama Bhante, sesi chanting pagi ini digunakan juga untuk menyampaikan pengalaman atau pertanyaan seputar praktik meditasi yang telah kami lakukan. Ada 2 tahap dalam pelatihan meditasi di Vihara Bodhigiri, yaitu: Versi 1 dan Versi 2.
Versi 1 adalah fokus pada satu objek, yang bukan objek disingkirkan, tujuannya agar pikiran bisa fokus pada satu objek dengan cepat dan tahan lama sehingga membawa kepada kondisi ketenangan batin. Kita bebas tentukan sendiri objek awal yang akan digunakan. Misal, memperhatikan keluar masuk nafas, menyebut kata Buddho dalam batin, menghitung keluar masuknya nafas, atau mengucap dalam batin semoga semua makhluk berbahagia.
Versi 2 adalah segala objek yang muncul dalam pikiran tidak disingkirkan, tetapi dijadikan objek. Tujuannya agar pikiran dapat menyadari fenomena yang muncul dan lenyap setiap saat, sehingga membawa kepada kesadaran yang disertai dengan kebijaksanaan. Semua fenomena yang muncul dalam pikiran pasti mengalami perubahan/ketidakkekalan (anicca), ketidakpuasan (dukkha), dan ketiadaan inti diri (anatta).
Versi 2 dilakukan setelah kita bisa fokus pada satu objek secara cepat dan tahan lama.
Hari ke-1 dan ke-2 merupakan kondisi yang paling berat, karena pikiran yang sehari-hari seperti “sun gokong” loncat kesana kemari seperti berontak, tidak mau diam. Menjelang hari ke-3 pikiran sudah mulai cepat diam dan fokus pada objek, dapat menyadari pikiran-pikiran yang muncul dan lenyap setiap saat.
Dalam pelatihan meditasi di Bodhigiri kami diberi timer waktu dan buku catatan kecil, karena kami harus melakukan praktik meditasi 30 menit per sesi, dengan total minimal 15 jam setiap hari. Bhante menyampaikan, timer waktu berfungsi sebagai pengingat ketika muncul rasa sakit, atau ketidaknyamanan kita bisa menerima keadaan ini, begitu juga ketika kita merasakan ketenangan, kedamaian atau kebahagiaan, kita tidak melekat.
Setelah melewati kondisi-kondisi seperti kebosanan, kesakitan akibat kesemutan, tibalah suatu momen ketika meditasi duduk bersila, muncul ketenangan dan kedamaian yang belum pernah saya rasakan, saya bisa merasakan ketenangan dan kedamaian yang begitu dalam, dengan penuh kesadaran. Momen pengalaman ini mesti dirasakan langsung oleh pribadi masing-masing, setiap orang bisa berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing.
Sesuai dengan arahan dari Bhante, saya melanjutkan pelatihan dengan versi 2. Apa yang muncul dalam pikiran dijadikan objek untuk diamati, disadari.
Ketika dalam pikiran muncul rasa kesemutan pada kaki, rasa kesemutan itu dijadikan objek untuk disadari hingga rasa kesemutan mereda dan lenyap. Muncul lagi dalam pikiran rasa gatal di kepala, rasa gatal itu juga disadari dan setelah disadari rasa gatal itu segera lenyap.
Suatu ketika muncul rasa gatal di tangan saya, rasa gatal ini sangat mengganggu konsentrasi, meskipun sudah berusaha untuk hanya menyadari rasa gatal ini, namun pikiran berkata lain, pikiran berkata pasti ada semut yang mengigit tangan ini. Kemudian saya mengikuti pikiran untuk melihat semut yang mengigit tangan, namun tidak ada semut yang saya dapatkan, jejak gigitan semut pun tidak saya temukan, pikiran sendiri terkadang bisa menipu.
Tidak terasa kami sudah melewati tujuh hari untuk berlatih praktik meditasi di Vihara Bodhigiri, pada hari terakhir menjelang pulang, kami diizinkan berfoto-foto. Setelah menuruni anak tangga yang curam saya merasa kaget, tidak ada rasa takut ketika menuruni anak tangga yang curam dan tinggi. Rasa takut ketinggian atau fobia ketinggian saya seketika hilang.
Pesan Bhante ketika kami akan pulang, tempat ini hanya sebagai tempat latihan, ujian atau praktik sesungguhnya adalah ketika kita beraktivitas sehari-hari di rumah, tempat kerja, atau di mana saja kita berada. Seringlah berkata dalam batin, “Saat ini saya sedang apa?”, teruslah praktik meditasi dengan disiplin, semangat dan ulet pada diri masing-masing agar kesadaran selalu hadir setiap saat.
****

















