Top 10 Penulis

Pengawas

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man in white and green adidas jersey shirt and black hat

Suatu ketika di India kuno, hiduplah seorang guru yang telah tua. Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak dan hanya ada satu guru dan banyak siswa dalam satu sekolah. Guru ini pun mengajarkan banyak hal. Guru ini sangat tersohor dan memiliki banyak murid, namun ia juga memiliki seorang anak perempuan yang cantik. Semua murid laki-lakinya sangat menyayangi putrinya ini. Zaman itu perkawinan diatur oleh orang tua pihak putri.

Suatu hari, guru itu datang dan mengumumkan, “Dengar, sudah saatnya putriku menikah, dan aku tahu kalian semua menyukainya. Menurut tradisi kami, ia seharusnya menikahi salah satu muridku. Jadi untuk menentukan siapa dari kalian yang akan menikahinya, aku akan memberi kalian sebuah ujian. Ini adalah ujian kebijaksanaan dan kepatuhan. Namun ujian ini juga untuk memecahkan satu masalahku, yaitu membelikan rumah untuk putriku, padahal aku sangat miskin, tak punya uang. Jadi, apa yang harus kalian lakukan adalah mulai minggu depan kalian masing-masing harus pergi ke desa-desa di sekitar sini, mengendap-endaplah ke dalam rumah-rumah penduduknya dan curilah apapun yang kalian bisa. Tapi pastikan tak seorang pun melihat kalian mencuri. Barang siapa yang bisa mencuri barang paling banyak setelah tujuh hari, karena kepatuhan dan kebijaksanaannya, ia boleh menikahi putriku. Dan semua barang yang kalian curi digabungkan dalam satu tumpukan dan akan diberikan kepada pasangan mempelai. Itulah perintahnya, pergilah!”

Para murid begitu terkejut. Guru meminta mereka mencuri? Namun mereka semua mencintai putri sang guru. Jadi mereka semua berpikir, “Cinta adalah yang terpenting. Aku akan melakukan apapun demi cinta!”

Maka mereka mengendap-endap menuju ke desa pada malam hari. Menunggu para penghuninya terlelap, lalu mengambil apapun yang mereka bisa ambil. Kemudian mereka membawa barang curian mereka kembali ke guru mereka. Guru akan menanyai mereka apa bentuk rumah yang mereka masuki dan mencatat dengan telilti siapa berada di mana dan mengambil apa. Pada akhir tujuh hari itu, semua murid berkumpul untuk melihat siapa yang menang. Guru mengumumkan, “Kalian semua telah melakukannya dengan baik. Kita telah mencuri begitu banyak barang. Ada cukup banyak barang di sini untuk pasangan mempelai guna memulai kehidupan bersama yang baik. Namun sebelum saya mengumumkan siapa yang mencuri paling banyak, adakah di antara kalian yang belum mencuri apapun?”

Salah satu murid mengangkat tangannya. Sang guru menatap dan menghardiknya, “Mengapa kamu tidak melakukannya, wahai pemuda yang tidak patuh?!” Murid itu berdiri dan berkata, ”Tapi saya patuh, guru. Saya mengikuti semua perintah guru.” “Kalau begitu, mengapa kamu tidak mencuri?” “Karena, guru, saya mengendap-endap memasuki desa pada malam hari, lalu menunggu penghuninya terlelap, atau lebih baik lagi kalau mereka meninggalkan rumah. Lalu saya masuk ke dalam dan melihat benda berharga mereka. Ketika saya hendak mengambilnya, saya ingat Anda berkata bahwa jangan mengambilnya jika ada yang memperhatikan. Dan saya menyadari ada yang memperhatikan! Sayalah yang memperhatikan! Saya melihat diri saya mencuri! Ada seseorang di sana. Itulah sebabnya saya tidak bisa mengambil apapun.”

Guru itu berkata, “Akhirnya! Aku mendapatkan seorang murid bijaksana sedangkan sisanya hanya murid dungu. Kalian bisa mengembalikan semua barang itu, sebab aku sudah memberitahu penduduk desa sebelumnya dan mereka sudah tahu kalian akan datang. Mereka tidak melukai kalian ketika kalian mengembalikan semua barang itu. Aku sudah cukup kaya, aku hanya ingin tahu siapa murid paling bijaksana, yang mengetahui kapan pun mereka berbuat salah selalu ada orang yang melihatnya, dan ia tidak akan pernah berani mengkhianati putriku sebab akan selalu ada orang yang mengawasi.”

Ingatlah, apapun yang Anda lakukan dalam hidup, selalu ada orang yang melihatnya, yakni diri Anda sendiri.

*********

Ketika ada beberapa murid yang mencuri karena gurunya menyuruh mereka mencuri, mereka bisa disebut “Penipu yang tertipu”. Dengan mencuri, mereka sudah menjadi penipu. Ketika mereka tidak menyadari bahwa ada orang yang mengawasi dan melihatnya, yaitu diri mereka sendiri, berarti dalam hal ini mereka sudah tertipu oleh dirinya sendiri. Hanya ada satu murid yang tidak tertipu oleh diri sendiri dan dialah yang menjadi pemenang. Pemenang yang boleh menikahi putri gurunya. Yang tak kalah penting adalah dia telah menjadi pemenang terhadap diri sendiri. Pemenang diri seperti ini akan lebih mudah menjadi pemenang kehidupan.

Janganlah menjadi penipu yang tertipu. Agar kita tidak tertipu dengan diri kita sendiri, temukan sesuatu dalam diri kita yang kita sukai. Ada begitu banyak hal dalam diri kita yang dapat kita sukai. Berfokuslah pada hal-hal yang kita sukai dalam diri kita. Jangan berfokus pada kesalahan, kekurangan, dan perbuatan keliru yang telah kita lakukan. 

Kita harus belajar bagaimana cara menyukai dan mengasihi diri kita sendiri dengan memiliki sikap positif terhadap diri kita sendiri. Istirahatlah sedikit supaya kita bisa menyingkirkan kemuraman maka kita bisa mulai menyukai dan mencintai diri kita sendiri. Kita adalah sahabat terbaik dari diri kita. Dengan menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri, kita akan lebih berbahagia dalam menjalani kehidupan ini. 

Jika kita sudah menyukai diri kita sendiri dan selalu memiliki sikap positif, kebahagiaan akan selalu dekat dengan kita. Hal ini dapat mendorong kita untuk bisa menjadi diri kita yang terbaik, yang bisa mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan niscaya akan menjadi milik kita.

“Jika kita sudah menyukai diri kita sendiri dan selalu memiliki sikap positif, kebahagiaan akan selalu dekat dengan kita. Hal ini dapat mendorong kita untuk bisa menjadi diri kita yang terbaik, yang bisa mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.”

(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi

Tulisan Terkait