Top 10 Penulis

Pentingnya Seorang Buddhis Sadar Sepenuhnya

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

meditate, relax, relaxing
Photo by kalyanayahaluwo

Suatu ketika, seorang maestro biola dari Italia bernama Niccolo Paganini sedang mengadakan pertunjukan besar. Tiba-tiba salah satu dari senar biolanya putus. Alih-alih menghentikan permainan biolanya dan/atau menyalahkan orang lain atau diri sendiri yang sudah teledor tidak mengecek dulu alat musiknya sebelum tampil ke panggung, Niccolo Paganini tetap melanjutkan permainan musiknya. Tentu saja sedikit lebih sulit bagi dia untuk melanjutkan lagu yang sedang dimainkan karena putusnya satu senar biolanya.

Selang beberapa lama bermain biola dengan senar yang sudah putus satu, satu lagi senar biolanya putus. Kembali Niccolo Paganini melanjutkan permainan biolanya. Dia tidak berhenti dari permainannya dan/atau sibuk mencari “kambing hitam” untuk menyalahkan putusnya senar-senar biolanya. Tentu saja tingkat kesulitannya sekarang menjadi sangat tinggi karena hanya setengah dari senar biolanya yang tersisa.

Seiring dengan permainan biolanya menuju puncak lagu dengan keterbatasan alat musiknya, tiba-tiba satu lagi senar biolanya putus. Ini sungguh-sungguh sudah menjadi kejadian kebetulan yang sangat luar biasa. Lebih luar biasa lagi seorang Niccolo Paganini. Dia terus melanjutkan dan menyelesaikan hingga tuntas lagu yang harus dia mainkan, HANYA DENGAN SATU SENAR BIOLA saja. Tingkat kesulitannya tentu saja teramat tinggi. Tetapi keterampilan itulah yang sudah diperlihatkan oleh Niccolo Paganini, seorang maestro biola dari Italia.

Apa yang sudah ditunjukkan oleh Niccolo Paganini sebenarnya adalah praktik dari “sadar sepenuhnya”. Sadar sepenuhnya berarti selalu menyadari dan memberikan perhatian sepenuhnya kepada apapun yang sedang dihadapi atau dijalani. Artinya berfokus pada kekinian, saat sekarang. Niccolo Paganini berfokus kepada saat sekarang, kepada senar-senar biolanya yang masih ada. Dia tidak berfokus kepada senar-senar biolanya yang sudah putus.

Terlahir sebagai manusia yang mengenal Buddha Dhamma, sesungguhnya kita terhindar dari kelahiran yang kurang tepat (menguntungkan), yakni: (1) Sebagai makhluk neraka, (2) Sebagai hantu kelaparan dan kehausan, (3) Sebagai binatang, (4) Sebagai dewa yang berumur panjang, (5) Terlahir di daerah terpencil atau terisolasi, (6) Terlahir di daerah yang tidak mengenal ajaran Buddha, (7) Terlahir di daerah yang mengenal ajaran Buddha tetapi dengan kemampuan intelektual yang terbatas, dan (8) Terlahir dengan menganut pandangan salah atau keliru.

Satu perumpamaan yang populer untuk menunjukkan betapa kecilnya kemungkinan terlahir kembali sebagai manusia, terutama bagi makhluk-makhluk yang saat ini berada di alam rendah, yakni seumpama seekor kura-kura: (1) Harus yang buta,(2) Hanya naik ke permukaan laut 100 tahun sekali, (3) Saat naik ke permukaan laut kepalanya tepat masuk ke dalam sebuah gelang-gelang. Perumpamaan ini memperlihatkan betapa sulitnya untuk bisa terlahir kembali sebagai manusia, terutama bagi makhluk-makhluk yang saat ini berada di alam rendah, alam di bawah alam manusia.

Oleh karena itu terlahir sebagai manusia sungguh-sungguh merupakan buah karma baik yang tidak kecil. Kehidupan ini janganlah disia-siakan. Jangan sampai di kelahiran berikutnya kita terdegradasi ke alam yang lebih rendah dari alam manusia. Kehidupan ini haruslah dijalani dengan fokus dan perhatian penuh dari waktu ke waktu, sadar sepenuhnya dari waktu ke waktu untuk bisa melakukan lebih banyak perbuatan baik dan mengurangi lebih banyak perbuatan tidak baik. Tentu saja kehidupan ini belum akan lengkap jika kita tidak mengisinya dengan rajin berpraktik meditasi.

Dalam sebuah cerita Buddhisme Zen berjudul “Perhatian Sehari-Hari Adalah Jalan” ada sebuah pertanyaan, “Bagaimana bisa rajin mempelajari Kebenaran?”. Ternyata jawabannya sangatlah sederhana dan ringkas, yakni “Jika lapar makan, jika capek tidur.” Lho koq bisa?? Ternyata di balik jawaban yang sederhana dan ringkas tersebut tersimpan penjelasan yang sangat mendalam.

“Jika lapar makan, jika capek tidur.” selain mengandung makna harfiah atau tersurat (yang terkandung langsung apa adanya), juga mengandung makna yang tersirat (tersimpan). Makna harfiahnya adalah jika memang sudah lapar maka makanlah, tidak usah menunda-nunda untuk makan. Dan jika memang sudah capek dan waktunya tidur maka tidurlah, tidak usah menunda-nunda untuk tidur.

Makna yang lebih dalam alias tersirat dari kalimat “Jika lapar makan, jika capek tidur.” adalah sadari sepenuhnya apa yang seharusnya disadari dan lakukan sepenuhnya apa yang seharusnya dilakukan. Lakukanlah segala sesuatu menurut kebutuhannya dan berikan perhatian penuh terhadap apapun yang sedang dilakukan. Pastilah hasil terbaik akan menjadi milik kita.

Jika kita mampu mempraktikkan prinsip “sadar sepenuhnya” pada setiap saat yang kita jalani sepanjang kehidupan kita, sedikit demi sedikit hasil yang kita raih dari berbagai aktivitas yang kita lakukan akan meningkat kualitasnya. Pada akhirnya kita akan menjadi orang-orang yang lebih baik dan lebih berkualitas. Kita akan menjadi orang yang mampu bersaing dengan orang-orang yang lain dalam kompetisi hidup profesional maupun sosial kemasyarakatan yang begitu ketat dewasa ini.

Buddha sudah mengingatkan kita dengan mengatakan, “Mereka tak sedih pada masa lalu, tak mengejar yang belum datang, saat sekarang adalah cukup. Merindukan masa depan, menyesali masa lalu, orang dungu (yang melakukan hal seperti itu) akan merana seperti ilalang dibabat”.

Bukan berarti dalam ajaran Buddha kita dilarang mengingat masa lalu ataupun merencanakan dan berpikir tentang masa depan. Akan tetapi kita harus sadar sepenuhnya dan dengan tepat meletakkan diri, pikiran, dan perhatian kita berkaitan dengan tiga horizon waktu tersebut (masa lalu, saat sekarang, masa depan). Gunakan masa lalu sebagai pengalaman dan pelajaran untuk menjadi lebih baik. Masa depan digunakan sebagai tuntunan, penunjuk jalan, dan visi ke depan. Yang paling utama adalah menyadari sepenuhnya dan memberikan totalitas diri kita kepada saat sekarang. Dengan cara ini, masa depan pada akhirnya akan menjadi masa sekarang dan selanjutnya bergerak menjadi masa lalu yang tidak akan pernah kita sesali karena sudah diisi dengan sebaik-baiknya.

Untuk bisa mulai mempraktikkan “sadar sepenuhnya” dan berfokus terhadap masa sekarang, dari waktu ke waktu, kita harus mau dan mampu menerima diri kita sendiri sebagaimana adanya. Kita harus mau dan mampu menerima diri kita secara lengkap dengan kekurangan maupun kelebihan yang ada. Jangan menjadi orang yang tidak bersedia menerima diri apa adanya, terus berkeluh kesah, selalu menyalahkan orang lain maupun Makhluk Adi Kuasa terhadap keberadaan diri yang dirasakan kurang, kalah, jelek, miskin, dan hal-hal lainnya yang serba di “bawah”. Penerimaan total terhadap diri sendiri akan menjadi modal awal untuk berani menatap hidup yang lebih baik. Akan menjadi awal untuk mempraktikkan “sadar sepenuhnya” dan memberikan perhatian serta potensi penuh diri kita terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi dari saat ke saat.

Kisah berikut menggambarkan akibat yang akan diterima jika tidak mempraktikkan “sadar sepenuhnya” dan mengabaikan masa sekarang. Pikiran yang terus mengingat apa yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi, dan bukannya berfokus kepada apa yang sedang terjadi, dapat menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri.

Seorang laki-laki sedang sibuk mencari kayu bakar di sebuah hutan. Sudah cukup banyak kayu bakar yang berhasil dikumpulkannya sedari pagi hari sampai menjelang siang. Sekarang saatnya dia beristirahat dan menyantap bekal yang dibawanya dari rumah. Diturunkannya ikatan kayu bakar yang dipanggulnya serta buntalan kecil yang berisi bekalnya.

Selagi menikmati bekal seadanya yang dia bawa, tiba-tiba muncul harimau cukup jauh di depannya. Ketakutan yang amat sangat membuatnya diam membeku. Namun pikiran waras yang masih bekerja memaksanya untuk segera berlari menyelamatkan diri. Dia segera mengambil langkah seribu alias lari secepatnya. Ketakutan membuat tenaga dan kemampuan berlarinya menjadi luar biasa.

Dia berlari menuju sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi, tidak jauh dari tempatnya berada. Banyak sulur tanaman terlihat bergelantungan di tebing tersebut. Segera diambilnya salah satu sulur dan secepatnya memanjat. Tentu saja harimau yang sudah kelaparan tersebut mengejarnya. Akan tetapi si harimau masih kalah cepat dengan manusia yang berjuang menyelamatkan nyawanya tersebut. Dengan kecewa harimau menunggu di bawah tebing.

Dengan napas terengah-engah seakan mau putus, laki-laki itu berhenti memanjat karena merasa posisinya sudah cukup aman dari ancaman harimau di bawah. Dia sadar bahwa dia tidak bisa bergantung terlalu lama di sulur tersebut.

Dalam kegembiraan amat sangat karena terlepas dari mulut harimau, lelaki itu memutuskan untuk memanjat sampai ke atas tebing. Namun sewaktu memandang ke atas, jantungnya kembali berdetak keras. Nyawanya sekali lagi berada dalam ancaman.

Di atas tebing, dua ekor tikus besar hitam dan putih dengan bersemangat sedang menggigiti sulur tempatnya bergantung. Kelihatannya sulur tersebut hampir putus karena kedua tikus menggigit dengan bersemangat, ditambah dengan beban berat tubuhnya. Kembali ketakutan yang amat sangat menyelimuti dirinya.

Saking takutnya kepada harimau di bawah serta tikus hitam dan putih di atas, lelaki tersebut tidak menyadari bahwa tidak jauh di sebelahnya terdapat lubang di tebing. Lubang ini sebenarnya cukup besar namun sebagian tertutup oleh tanaman merambat. Dari sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam lubang, terlihat lubang tersebut cukup besar untuk menampung tubuh lelaki tersebut.

Akan tetapi dalam kepanikan dan ketakutan yang amat sangat, lelaki tersebut tidak melihat lubang itu. Perhatiannya hanya tertuju kepada harimau di bawah serta tikus hitam dan putih di atas. Tidak berapa lama, sulur tempat dia bergantung menjadi putus dan akhirnya dia menjadi mangsa harimau. Tamatlah riwayat laki-laki tersebut.

Harimau dalam kisah tersebut melambangkan masa lalu yang seringkali membayangi bahkan menghantui kita di masa sekarang. Tikus hitam dan putih melambangkan masa depan yang seringkali kita kuatirkan karena tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Karena terpaku pada harimau di bawah (perlambang masa lalu) serta tikus hitam dan putih di atas (perlambang masa depan) membuat lubang di dekatnya (perlambang masa sekarang) menjadi terabaikan.

Karena sangat kuatir dengan masa lalu yang terus menghantui dan masa depan yang tidak pasti, membuat seorang buddhis tidak sadar sepenuhnya dan tidak memberikan yang terbaik dari dirinya terhadap hal-hal yang sedang dihadapi dan dijalani di masa sekarang. Padahal masa sekarang merupakan kenyataan. Masa sekarang adalah momen paling berharga dalam hidup manusia. Masa lalu sudah lewat dan tidak bisa diulang lagi. Masa depan belumlah terjadi. Keterikatan kuat kepada masa lalu dan masa depan membuat manusia melepaskan kenyataan yang ada di depan mata (masa sekarang).

Seorang buddhis harus mempraktikkan “sadar sepenuhnya” dan memberikan totalitas diri terhadap masa sekarang. Berkonsentrasi kepada apa-apa yang sedang dihadapi dan dijalani di masa sekarang. Jika saat sekarang, dari waktu ke waktu seorang buddhis menyadari sepenuhnya dan memberikan dirinya yang terbaik, hasil terbaik akan selalu dia peroleh dalam kehidupan ini.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait