Peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut hingga saat ini, terhitung mulai dari 24 Februari 2022. Jika kita hitung dari tanggal tersebut, maka akan genap satu tahun dalam beberapa hari mendatang.
Peperangan yang sedang terjadi sekian lama itu memberi dampak yang besar pada dunia. Apalagi pada berbagai negara yang sumber pangan dan energinya bergantung pada kedua negara tersebut.
Melalui artikel ini, penulis mencoba memandang suatu peperangan yang terjadi dalam perspektif buddhis.
Seperti kita ketahui bahwasanya peperangan antara beberapa negara dapat saja terjadi di dunia yang luas ini. Di mana semua negara yang terlibat dalam peperangan mempunyai kepentingan tersendiri.
Dan demi kepentingan tersebut, mereka berselisih satu sama lainnya. Di sinilah perselisihan, percekcokan, pertengkaran terjadi. Setelah hal-hal demikian terjadi dan kedua pihak masih belum puas, maka mereka akan saling menyerang satu sama lainnya.
Demi untuk memenangkan perselisihan maka kedua pihak menggunakan berbagai alat dan senjata untuk menghancurkan negara yang dianggap musuh. Dari sana akan muncul berbagai penderitaan dan kematian akibat dari suatu peperangan.
Dalam Dhamma, ajaran Buddha, kepentingan yang diperselisihkan oleh umat manusia bersumber pada kenikmatan indra yang dijaga, dipertahankan, dilindungi, diperebutkan, dan dirampas.
Ketika satu pihak menyerang pihak lainnya dengan keserahkahan, kebencian, dan kebodohan, maka pihak lainnya mencoba untuk melindungi, menjaga, dan mempertahankan apa yang dianggap sebagai milik di mana ada sumber kenikmatan indra di sana.
Satu pihak menyerang dan lainnya mempertahankan wilayah kekuasaannya. Di sana akan terjadi baku hantam, saling memusnahkan, ada kehancuran, penderitaan, kematian, kesedihan, dan ratap nangis.
Setelah salah satu pihak memenangkan suatu peperangan maka penderitaan akan terus berlanjut. Keluarga-keluarga yang kalah dalam peperangan akan menjadi budak, istri dan anak perempuan akan digoda dan diperlakukan tidak pantas, harta yang tertinggal akan terampas.
Demikianlah peperangan membawa penderitaan bagi kedua pihak. Baik pihak penyerang atau pihak yang diserang. Keduanya akan menggunakan apa saja untuk menghancurkan satu sama lainnya.
Meskipun mereka berpikir;
“Perang ini digerakkan demi kebaikan, demi kelangsungan hidup, dan demi menjaga perdamaian.”
Namun, mereka yang terlibat dalam peperangan ketika melihat musuh di depan mata, maka timbul rasa kebencian untuk memusnahkannya.
Dia berpikir;
“Lebih baik dia yang meninggal daripada saya. Dengan berbuat demikian maka saya akan dianggap sebagai pahlawan, sebagai pemenang dan pembela negara dan rakyat.”
Maka dengan penuh nafsu, kebencian, dan kebodohan dia menghabisi nyawa musuhnya dengan tangan kosong, tongkat, pisau, tombak, batu, kaca, besi, atau dengan senjata tajam dan senjata api.
Dengan kemenangan setelah menghabisi nyawa musuh di depannya, dia puas dan bangga. Namun di benaknya timbul suatu rasa penyesalan terdalam bahwa dia telah membunuh.
Setelah masa hidupnya selesai di dunia ini, maka kelahiran di alam buruk bahkan neraka menantinya.
Semua itu terjadi karena rasa penyesalannya setelah membunuh manusia yang dianggap sebagai musuh. Penyelesaian itu pun datang pada dirinya di saat menjelang kematian. Kematiannya menjadi kematian yang penuh rasa takut, cemas dan menuntun pada kelahiran yang buruk, rendah, bahkan neraka.
Itulah segenap rangkaian peperangan demi kenikmatan indra yang diperebutkan dan dipertahankannya dengan kekerasan dan perselisihan. Demikian pula pada bentuk materi yang diperebutkan dan dipertahankan satu sama lainnya dengan kekerasan dan perselisihan.
MN 13 Mahadukkhakkhanda Sutta.
Dengan merujuk pada Sutta tersebut, kita sebagai umat Buddha yang memiliki keyakinan tertinggi pada Buddha, Dhamma, dan Sangha sudah selayaknya menjauhkan diri dari segala macam perselisihan dan percekcokan apakah di dalam keluarga, tetangga, lingkungan, komunitas, negara, dan dunia.
Mengapa demikian? Karena pada saat perselisihan dan percekcokan terjadi., kita akan sulit untuk berpikir jernih. Hanya ada keinginan untuk memenangkan perselisihan. Di mana di sana akan timbul pikiran bahwa ini milikku, dia merampas milikku, dan dia memukulku.
Di sana juga ada pandangan salah menyertai kita tentang adanya aku, milikiku, dan adanya diri yang kekal.
Mari jadilah seorang buddhis yang selalu menjauhkan diri dari segala pekerjaan yang dilengkapi oleh senjata pemusnah. Apakah itu untuk membunuh atau untuk memusnahkan suatu wilayah.
Jika kita ingin bersumbangsih pada negara di mana kita dan keluarga tinggal dan besar, maka kita bisa memilih jalur yang damai dan jauh dari kekerasan. Kita bisa berkarya melalui talenta, wawasan, dan pengetahuan yang kita miliki.
Wasana kata:
Selalu ada cara yang baik dan benar serta sesuai dengan Dhamma, untuk selalu bisa bersumbangsih pada keluarga, lingkungan, dan negara bahkan bagi dunia. Dan tentunya semua itu dimulai pada diri sendiri untuk diri sendiri terlebih dahulu.
Februari 2023.

















