Jika mengikuti grup chat yang berbicara soal agama, suatu saat akan membaca diskusi yang antara mana yang benar mana yang salah. Ini benar, ini salah. Dari diskusi, dapat menjadi perdebatan yang berkepanjangan, bisa berhari-hari, mungkin berminggu-minggu.
Dikotomi adalah istilah adanya dua kutub yang saling bertentangan. Benar-salah, keduanya saling terpisah satu dengan lainnya, yang dari dahulu sudah menjadi perdebatan.
Dalam budaya Chinese, dikenal dengan filosofi Yin-yang, dengan simbol seperti ini ☯️. Berbeda dengan dikotomi, jika dikotomi adalah dua hal yang bertentangan secara terpisah, kalau Yin-yang ada dua hal yang berbeda tapi saling melengkapi.
Karena saling bertentangan satu dengan lainnya, sehingga perdebatan sudah ada sejak waktu yang sangat lama, demikian juga pada zaman Sang Buddha Gautama, paling tidak ada dua kisah yang terkenal.
***
Karena banyak dewa dan manusia berselisih paham tentang Berkah yang diharapkan membawa keselamatan, maka sesosok dewa menemui Sang Buddha untuk memohon penjelasan.
Artinya dari ada perdebatan, sebagian berpendapat berkah yang benar adalah ini, sebagian lagi berkah yang benar adalah itu. Pertanyaaan khas dikotomi. Karena perbedaan berkembang menjadi perselisihan paham yang berkepanjangan.
Atas permohonan sesosok dewa tersebut, maka Sang Buddha membabarkan Manggala Sutta yang terkenal, didalamnya tercatat ada 38 berkah, antara lain: Tidak bergaul dengan mereka yang tidak bijaksana, bergaul dengan yang bijaksana, menghormat yang patut dihormati, membantu ayah dan ibu, menyokong anak & istri, bekerja bebas dari pertentangan dan seterusnya, selengkapnya ada di bagian bawah tulisan ini.
***
Kisah kedua ketika Sang Buddha berkunjung ke Kesaputta yang dihuni oleh suku Kalama. Kedatangan Sang Buddha, karena sebelumnya banyak guru sudah berkunjung kesana mengajarkan ajarannya dan mengatakan bahwa ajarannya adalah yang benar, ajaran yang lain juga salah.
Hal ini menimbulkan kebingungan, sehingga mengajukan pertanyaan “Yang manakah di antara para bhikkhu dan brahmana terhormat itu yang berkata benar, dan yang mana salah?”. Pertanyaan khas dikotomi. Sang Buddha menjawab:
Sudah sepantasnya bagi kalian, suku Kalama, untuk ragu, untuk bimbang; kebimbangan telah muncul pada kalian tentang apa yang meragukan. Nah, suku Kalama.
Janganlah begitu saja mengikuti apa yang telah diperoleh karena berulang kali didengar;
atau yang berdasarkan tradisi;
atau yang berdasarkan desas-desus;
atau yang ada di kitab suci; atau yang berdasarkan dugaan;
atau yang berdasarkan aksioma;
atau yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus;
atau yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali; atau yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang;
atau yang berdasarkan pertimbangan, ‘Bhikkhu itu adalah guru kita.’
Para Kalama, bila kalian sendiri mengetahui:
‘Hal-hal ini buruk;
hal-hal ini salah;
hal-hal ini dicela oleh para bijaksana;
bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keburukan dan kerugian,’ tinggalkanlah hal-hal itu.
Pada bagian selanjutnya Sang Buddha menjelaskan apa yang dimaksud buruk, salah, dicela pada bagian selanjutnya:
“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah keserakahan muncul pada seseorang untuk keuntungan atau kerugiannya?”
– “Untuk kerugiannya, Yang Mulia.”
– “Suku Kalama, karena terbiasa dengan keserakahan, dan karena secara mental dikuasai dan ditaklukkan oleh keserakahan, orang ini membunuh, mencuri, berbuat asusila, dan berbohong; dia pun mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Apakah hal itu akan membawanya pada kerugian dan keburukannya sendiri?”
– “Ya, Yang Mulia.”
Pada syair selanjutnya setelah menyebutkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) juga yang merupakan kerugian.
Kisah selengkapnya mengenai Kalama Sutta dapat diunduh di sini.
***
Singkatnya, keburukan adalah ketika berperilaku baik melalui pikiran, ucapan maupun tindakan fisik yang dilandasi oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, harus dihindari, karena merupakan perbuatan yang merugikan, perbuatan yang salah.
Sebaiknya, jika perbuatan didasarkan pada tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, maka merupakan perbuatan yang bermanfaat, perbuatan yang menguntungkan, merupakan perbuatan yang baik, perbuatan yang benar.
***
Kembali ke grup chat, ketika masuk kedalam diskusi benar salah menurut agama Buddha, Kalama Sutta menjadi tolok ukur yang sangat jelas, mana yang baik-buruk, mana benar-salah. Sehingga perdebatan tidak berkepanjangan. Tanpa ada tolok ukur yang jelas ini, perdebatan akan menjadi berkepanjangan.
Banyak situasi saat ini tidak sama ketika Sang Buddha mengajar, kalau tanpa ada tolok ukur yang jelas, maka dapat menjadi perdebatan, apakah benar atau salah.
Tolok ukur yang diajarkan oleh Sang Buddha, merupakan Dhamma, bukan berdasarkan pada situasional, tetapi Dhamma yang tak lekang oleh waktu, sehingga dapat diterapkan sepenuhnya saat itu, saat ini dan waktu yang akan datang.
***
Baik keserakah (lobha), kebencian (dosa), maupun kebodohan batin / delusi (moha), pada dasarnya berpusat pada titik yang sama yaitu aku.
Keserakahan: mengejar yang aku suka, ini seleraku. Kebencian: menyingkirkan yang aku benci, Kebodohan batin: ini aku.
Karena ada titik pusat, maka ada atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang, jika aku adalah titik pusatnya maka ada suka-benci, aku-bukan aku, benar-salah.
Untuk ajaran yang lebih tinggi Sang Buddha mengajarkan Anatta, yang pada dasarnya apa yang ada dalam pikiran, karena tidak kekal, tak dapat bertahan lama, tak memuaskan, tidak dapat dijadikan milikku, tidak dapat dianggap sebagai diri, tidak dapat dianggap aku.
Anggapan adanya aku juga merupakan dikotomi, ada atau tidak. Tetapi Sang Buddha mengajarkan dengan jelas, bahwa aku, hanyalah sebuah pandangan terbalik (Atta-vipallāsa), seharusnya tidak ada, tetapi dianggap ada.
Karena Atta-vipallāsa, maka selalu ada usaha untuk memuaskan aku, sehingga semua tindakan berdasarkan atas keserakahan, kebencian, delusi.
Anatta adalah ajaran yang paling abstrak, bagi yang belum tercerahkan hanyalah sebuah teori yang abstrak sulit dijelaskan, sulit dipahami. Tetapi bagi mereka yang tercerahkan, Anatta adalah jalan untuk pembebasan, Anatta adalah sebuah kebenaran (penjelasan dapat dibaca disini). Seperti rasa buah matoa, bagi yang belum mencicipi, rasa buah matoa hanyalah sesuatu yang abstrak, tetapi bagi yang sudah mencicipi, merupakan sesuatu yang jelas.
Jika Atta-vipallāsa (pemahaman terbalik tentang adanya aku, padahal tidak ada) sudah dapat dipatahkan, maka tidak ada lagi titik pusat, tidak ada lagi aku yang harus dipuaskan. Ketika hal tercapai, sudah diluar benar-salah, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan menggunakan konsep benar-salah, suñña.
Catatan:
Manggala Sutta
Demikian telah saya dengar :
Pada suatu ketika Sang Bhagava
berdiam di Jetavana
arama milik hartawan Anathapindika,di dekat kota SavatthiSaat itulah sesosok dewa, ketika hari menjelang pagi
dengan bercahaya cemerlang menerangi seluruh Jetavana,
mengunjungi Sang Bhagava.
Setelah datang, menghormat Sang Bhagava,
ia berdiri di satu sisi yang layak.Dengan berdiri disatu sisi yang layak itulah,
ia memohon Sang Buddha dengan syair berikut ini :
Banyak dewa dan manusia
Yang mengharapkan kebahagiaan
Mempersoalkan tentang berkah.
Mohon uraikan, apa berkah utama itu.
Tak bergaul dengan orang-orang dungu,
Bergaul dengan para bijaksana.
Dan menghormat yang patut dihormati,
Itulah berkah utamaBertempat tinggal di tempat yang sesuai,
Memiliki timbunan kebajikan di masa lampaum,
Dan membimbing diri dengan benar,
Itulah berkah utama.Berpengetahuan luas, berketerampilan,
Terlatih baik dalam tata susila,
Dan bertutur kata dengan baik,
Itulah berkah utama.Membantu ayah dan ibu,
Menunjang anak dan isteri,
Dan bekerja dengan sungguh-sungguh,
Itulah berkah utama.Berdana, melakukan kebajikan,
Menyokong sanak keluarga,
Dan tidak melakukan pekerjaan tercela,
Itulah berkah utama.Menjauhi, menghindari perbuatan buruk,
Tercegah dari minuman keras,
Dan tekun melaksanakan Dhamma,
Itulah berkah utama.Memiliki rasa hormat dan berendah hati,
Merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang,
Dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai,
Itulah berkah utama.Sabar, mudah dinasehati,
Mengunjungi para petapa,
Dan membahas Dhamma pada waktu yang sesuai,
Itulah berkah utama.Bersemangat dalam mengikis kilesa, menjalankan hidup suci,
Menembus Empat Kebenaran Mulia,
Dan mencapai Nibbana,
Itulah berkah utama.Meski digoda oleh hal-hal duniawi,
Batin tak tergoyahkan,
Tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai,
Itulah berkah utama.Setelah melaksanakan hal-hal seperti itu,
Para dewa dan manusia tak akan terkalahkan di mana pun,
Mencapai kebahagiaan di manapun berada,
Itulah berkah utama bagi para dewa dan manusia.Sumber :
Buku Paritta Suci
Sangha Theravada Indonesia, 2005
Dikutip dari Samaggi-phala

















