Top 10 Penulis

Peta “Sakti” Kehidupan Anda Kedaluwarsa — Maka Anda Masih Sakit Hati

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Peta sakti

Sial atau beruntung? Satu kisah bandara membalik penilaian empat kali — dan membongkar mengapa peta lama bisa menyesatkan kita sendiri.

Semua orang pernah mendengar nasihat template ini: “Di balik kejadian buruk, pasti ada hikmahnya.” Diucapkan sambil menepuk pundak. Di ruang pelayat. Di ruang tunggu rumah sakit. Di grup keluarga setelah kabar buruk.

Jujur saja, teman saya dulu membenci kalimat itu. Kedengarannya seperti pelarian — cara halus menyuruh orang yang sedang hancur untuk diam dan menerima. Dalam hati, ia sering membalas getir: gampang bicara, kau kan tidak mengalaminya sendiri.

✦

Sampai suatu hari, dalam sebuah pelatihan, teman saya iseng melempar pertanyaan kepada peserta.

“Misalnya Anda bangun terlambat menuju bandara. Secara kalkulasi jelas tidak akan terkejar. Tapi Anda tetap melanjutkan perjalanan itu. Eh, ternyata macet parah. Menurut Anda, sial atau beruntung?”

“Sial, Pak. Sudah bangun telat, eh kena macet.”

“Nah, ternyata pesawat Anda tertunda empat jam. Jadi Anda tetap naik, tidak ketinggalan. Sial atau beruntung?”

“Wah, ya beruntung, Pak.”

“Nah, di ruang tunggu yang sama, ada orang yang mengejar kerja sama bisnis senilai miliaran. Gara-gara penundaan itu, ia kehilangan proyeknya. Sial atau beruntung?”

“Sial, Pak.”

“Tapi beberapa bulan kemudian, orang yang memenangkan proyek itu — karena si pengejar bisnis tadi tertunda — justru kena tipu miliaran rupiah. Karena pesawatnya tertunda empat jam, ia selamat dari penipuan itu. Sial atau beruntung?”

Ruangan hening sebentar. Lalu ada yang menjawab, agak ragu, “Beruntung, Pak.”

✦

Empat kali. Label yang sama berbalik empat kali dalam hitungan bulan.

Jadi pertanyaannya bukan lagi sial atau beruntung. Pertanyaannya: siapa yang berhak memutuskan itu sebelum ceritanya benar-benar selesai?

Kita suka membaca satu paragraf, lalu menutup buku untuk selamanya. Satu obrolan tanpa konteks, satu keputusan yang menyakiti lima tahun lalu — kita foto, cetak, bingkai, lalu gantung permanen di dinding ingatan. Lalu kita heran mengapa masih sakit setiap kali melewatinya.

Padahal peristiwanya sudah lama bergerak. Kitalah yang berhenti di situ.

✦

Ini seperti menyusuri Jakarta hari ini dengan peta tahun 1950. Anda akan tersesat — bukan karena kotanya salah, melainkan karena peta di tangan Anda sudah kedaluwarsa.

Begitu pula penilaian kita atas peristiwa dan orang: peta yang dicetak persis di titik paling sakit, lalu tak pernah diperbarui.

✦

Selama bertahun-tahun mengelola kafe semi-fine dining di Jakarta, teman saya kehilangan kepala dapur terbaiknya — yang mengundurkan diri dua minggu sebelum akhir tahun, tepat di masa tersibuk. Ia menganggapnya bencana, bahkan sempat menyimpan dendam kecil.

Enam bulan kemudian, resep dari kepala dapur penggantinya justru menaikkan omzet lebih tinggi dari sebelumnya. Kepala dapur lama itu, belakangan baru ia tahu, sedang menyelamatkan diri dari lingkungan kerja yang sudah lama membuatnya sakit.

Peta lama mengatakan: ditinggalkan.

Peta baru: dua orang sama-sama diselamatkan, hanya belum terlihat saat itu.

Di kebun Ciapus tempat ia menetap sekarang, teman saya bertahun-tahun menyimpan kekesalan kepada seseorang yang pergi di tengah kerja sama tanpa penjelasan. Di kepalanya, orang itu selamanya “si pengkhianat”.

Tahun lalu, orang itu datang lagi — membawa bantuan justru ketika teman saya paling membutuhkannya, tanpa diminta.

Peta lamanya sudah sobek jauh sebelum ia sadar rutenya telah berubah.

✦

Polanya berulang di mana-mana.

Dalam pekerjaan: PHK kita sebut akhir dunia — sampai pintu lain terbuka karena pintu lama tertutup lebih dulu.

Dalam keluarga: pertengkaran kita sebut kehancuran — sampai itu menjadi satu-satunya jalan bagi kebenaran yang dipendam untuk akhirnya diucapkan.

Dalam cinta: putus kita sebut kegagalan — sampai bertahun-tahun kemudian kita sadar, kita nyaris menikahi orang yang salah.

Dalam pertemanan: jarak kita sebut pengkhianatan — sampai kita paham, jarak itulah yang menyelamatkan pertemanan dari kehancuran yang lebih dalam.

Pola yang sama, wajah yang berbeda-beda.

✦

Satu hal harus digarisbawahi, supaya tulisan ini tidak jatuh menjadi pelarian murahan yang dulu begitu dibenci teman saya: memperbarui peta bukan berarti berpura-pura bahwa sakitnya tidak pernah ada.

Kepala dapurnya tetap membuatnya kelabakan tahun itu. Kekecewaan pada teman yang pergi itu nyata, dan butuh bertahun-tahun untuk reda.

Yang berubah bukan fakta bahwa semua itu pernah menyakitkan. Yang berubah adalah keputusan untuk berhenti membekukan peristiwa di titik paling gelapnya — sambil menutup mata pada babak lanjutannya, babak yang sebenarnya sedang menjelaskan, pelan-pelan, untuk apa babak sebelumnya terjadi.

✦

Jadi, saya sudahi di sini, tanpa menyimpulkan untuk Anda.

Ada kejadian — pagi ini, kemarin, setahun lalu, lima tahun lalu — yang sampai sekarang masih Anda simpan sebagai “sial”. Atau wajah seseorang yang masih Anda beri label “orang jahat” di kepala Anda.

Silakan simpan peta lama itu, kalau Anda memang yakin ceritanya sudah selesai.

Tapi kalau jujur pada diri sendiri — apakah Anda benar-benar tahu ceritanya sudah selesai, atau Anda cuma lelah menunggu babak berikutnya?

Sial atau beruntung — sebenarnya siapa yang berhak memutuskan itu sebelum ceritanya benar-benar selesai?

Peta di tangan Anda.

Keputusan juga di tangan Anda.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

grayscale photography of person holding glass ball
Matahari tetap terbit. Tukang sayur tetap berteriak. Motor-motor berebut lampu merah. Seekor kucing tidur di atas kap mobil tetangga, seolah dunia tidak sedang menyiapkan sesuatu.

Tulisan Terkait