Kata pindapata tentu merupakan satu kata yang tidak asing bagi umat Buddha. Mendengar atau membaca kata pindapata akan terbayang seorang bhikkhu atau banyak bhikkhu pergi berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menerima dana makanan dari umat.
Kata pindapata berasal dari pinda dan pata. Pinda berarti gumpalan makanan (lump of food) dan pata berarti dijatuhkan (dropping), jadi pindapata bermakna makanan yang dijatuhkan ke dalam patta (lump dropping). Pata di sini bukan patta atau mangkok bhikkhu (bowl) yang dipergunakan untuk menerima dana makanan. Sesekali ada yang tidak tepat menuliskan pindapatta.
Ada kata lain yaitu pindacara. Pinda berarti ‘lump of food’ (gumpalan makanan) dan cara berarti ‘walk about’ (berjalan-jalan), jadi pindacara bermakna ‘walk about to collect lumps of food’. Tepatnya dapat dikatakan bahwa bhikkhu menjalani pindacara untuk mengumpulkan pindapata. Namun dalam perkembangannya, kata pindapata mengalami perluasan makna sehingga mempunyai makna serupa pindacara.
Pindapata telah dilaksanakan sejak dahulu oleh para bhikkhu termasuk Sang Buddha sendiri. Sang Buddha menyatakan bahwa pindapata merupakan cara penghidupan benar bagi bhikkhu.
Dengan pindapata maka para bhikkhu tidak perlu memikirkan makanan untuk kelangsungan hidupnya sehingga mempunyai waktu untuk belajar dan melaksanakan Ajaran. Kata bhikkhu memang sejatinya bermakna ‘alms receiver’ (penerima sedekah).
Sebaliknya para bhikkhu memberi bimbingan kepada umat Buddha sehingga umat Buddha memperoleh kemajuan dalam Dhamma. Pindapata memberi kesempatan kepada umat untuk melakukan jasa kebajikan (puñña) sehingga pindapata merupakan satu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat. Anak-anak pun diajak serta untuk berdana makanan saat pindapata agar memperoleh pula puñña. Umat melakukan dana saat pindapata dengan hati gembira dan bahagia.
Namun demikian ada pula bhikkhu yang menyantap makanan yang didanakan oleh umat di vihara tempat tinggalnya. Di medsos sering ada tulisan berita persembahan dana makan siang kepada Sangha di tempat tertentu.
Sekiranya bhikkhu yang menerima persembahan tersebut berjumlah kurang dari empat orang, seyogyanya tidak disebut kepada Sangha tetapi lebih tepat disebut kepada anggota Sangha atau disebut nama bhikkhunya. Untuk dapat disebut Sangha harus terpenuhi jumlah bhikkhu tertentu sesuai dengan fungsi yang dilakukan. Umat dapat juga mengundang bhikkhu untuk bersantap di rumahnya.
Pindapata dilakukan oleh para bhikkhu dengan ‘noble silence’ (keheningan agung). Berjalan dengan tenang dan tidak berbicara atau bercakap-cakap.
Berdiri di depan rumah atau umat untuk menerima dana makanan. Setelah makanan yang dikumpulkan memenuhi, bhikkhu akan kembali ke tempat tinggalnya untuk bersantap. Saat pindapata umat pun tidak boleh bercakap-cakap dengan bhikkhu, bila ingin menanyakan sesuatu hendaknya sesudah bhikkhu selesai bersantap.
Pada saat pindapata umat dapat mendanakan makanan matang berupa nasi, sayur, lauk, kue, buah dan lain-lain. Tidak diperkenankan memasukkan yang lain seperti makanan yang masih mentah seperti beras, jagung yang belum diolah, mi instan dalam bungkusan, barang-barang lain atau amplop dana.
Barang-barang itu dapat disampaikan ke vihara untuk nantinya diolah menjadi makanan siap saji bagi para bhikkhu. Sesuai aturan kebhikkhuan, para bhikkhu tidak menerima uang ataupun memiliki/menyimpan uang.
Namun umat dapat berdana untuk kebutuhan bhikkhu yaitu catupaccaya (empat kebutuhan pokok bhikkhu): makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat tinggal. Umat memberikan dana tersebut kepada kappiyakaraka (umat pendamping bhikkhu yang mengurus kebutuhan bhikkhu) untuk disimpan. Kepada bhikkhu, umat memberitahukan akan adanya dana tersebut yang dapat dipakai bila ada kebutuhan.
Demikian pula bila ada pengumpulan dana untuk tujuan tertentu seperti misalnya pengumpulan dana dalam rangka perayaan hari Trisuci Waisak untuk kegiatan sosial, dana hendaknya dikumpulkan dalam suatu acara di tempat tertentu dengan dihadiri dan diberkahi oleh anggota Sangha. Tetapi tidak dikumpulkan dalam patta (bowl) karena patta hanya berfungsi untuk tujuan pindapata.
Semoga di masa mendatang umat Buddha dapat memahami makna pindapata atau pindacara dan memahami fungsi patta (bowl) sehingga tidak memasukkan barang-barang yang tidak tepat ke dalam patta bhikkhu, apalagi amplop dana. Karena kalau sampai dilihat oleh umat Buddha mancanegara, apalah kata dunia.

















