Bagaimana mengatasi obsesi yang buruk dengan kasih sayang? Obsesi itu kadang kala melukai diri kita sendiri. Misalnya, orang tahu bahwa sering minum minuman keras itu merugikan diri sendiri, namun mereka terus melakukannya. Mengapa?
Kita mengucapkan hal-hal buruk kepada orang lain. Kita tahu hal ini merugikan diri kita sendiri, tapi kita tetap melakukannya. Kita terus mendorong dan menekan diri kita sendiri, dan menyangkal kebahagiaan dan kedamaian bagi batin kita. Kita terluka karena kehilangan orang yang kita sayangi, namun kita terus menyimpan duka itu.
Jelas sekali bahwa orang takut akan kebahagiaan. Mereka tidak mau bahagia, bebas dari masalah, tidak mau terbebas dari obsesi. Mereka tidak bijaksana karena mereka tidak peduli dan tidak mengasihi diri mereka sendiri.
Berbagai kesalahan dan perbuatan yang dilakukan pada masa lalu terus mereka simpan dalam hati. Mereka berkata, ”Aku tidak layak untuk bahagia atas apa yang kulakukan.” Inilah yang pada dasarnya menyebabkan obsesi yang buruk.
Hampir semua obsesi, perilaku merugikan dan menyakiti, bermula dari rasa bersalah yang mengakar dalam batin dengan pemikiran, ”Aku harus dihukum”, “Aku tidak layak bahagia”, ”Aku tidak layak bebas”, dan lain-lain. Oleh sebab itu, kasih sayang merupakan metode untuk membebaskan diri dari obsesi.
Langkah pertama adalah dengan tidak merasa bersalah, tidak sedih, dan tidak merasa harus menghukum diri sendiri. “Aku tidak merasa oke dengan diriku sendiri dan karena itu aku harus minum lebih banyak alkohol.” “Aku sedih karena perbuatanku, aku tidak layak bahagia. Aku menyebabkan orang lain ikut sedih karena amarah dan niat buruk. Ini membuatku semakin sedih lagi.” “Aku tidak bahagia, aku merasa bersalah, aku harus dihukum.”
Siklus melukai diri sendiri ini dikarenakan kurang memiliki rasa percaya diri. Sering kita merasa, “Saya ini orang hebat”, “Saya ini orang biasa saja”, atau “Saya ini orang kecil”. Ketiga perbandingan ini disebut tiga jenis kesombongan bahwa saya lebih baik, sama, atau lebih buruk. Menarik sekali bahwa bahkan jenis yang ketiga pun disebut kesombongan, yakni ”Saya lebih buruk dari orang lain”.
Kita tidak semestinya mengukur diri kita dibandingkan dengan orang lain. Kita harus berhenti membandingkan sehingga lebih baik, lebih buruk, atau sama saja dengan orang lain tidak muncul. Ini membuat kita bisa terbebas dari mengadili diri kita sendiri, yang merupakan akar dari rasa bersalah.
Ketika kita mengatasi rasa bersalah ini dengan kasih sayang, kita menyadari bahwa jika kita memberikan kasih sayang yang pantas kepada diri sendiri, obsesi akan dapat diatasi. Karena itulah arti kasih sayang bagi kita adalah senantiasa mengatakan kepada diri sendiri, “Pintu hatiku senantiasa terbuka bagiku, apapun yang telah kulakukan.” Meski kita pecandu minuman keras, narkoba, dan melakukan perbuatan buruk, jika pintu hati kita tetap terbuka bagi kita sendiri, kita bisa sembuh, damai, dan bahagia. Ketika kita melakukan hal ini, kita sesungguhnya mengalahkan penyebab kebencian terhadap diri sendiri dan perilaku melukai diri sendiri. Kita memulai proses pemulihan, merehabilitasi diri, mulai menerima diri sendiri apa adanya, dan mulai berdamai dengan diri sendiri.
Jika kita berusaha untuk menjadi sempurna sebelum bisa mencintai diri kita sendiri, untuk berusaha meninggalkan segala obsesi, kita akan mati sebelum hal ini tercapai. Jalan kedamaian adalah belajar untuk damai di tengah ketidaksempurnaan, belajar mencintai orang meski ia jauh dari kesempurnaan, meski mereka buruk, karena hanya cinta kasihlah yang bisa menyembuhkan keburukan dan menghentikannya.
Ada banyak kisah di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa saat seseorang telah menerima cinta kasih, kepedulian, perhatian, seluruh perilaku merusaknya otomatis berhenti. Banyak kisah mengenai orang-orang yang melakukan perbuatan sangat jahat, lalu datanglah seseorang dalam kehidupan mereka yang menerima mereka sebagai manusia, sebagaimana adanya mereka, bahkan mengganggap mereka sebagai saudara, ayah atau ibu mereka sendiri, kemudian mereka menjadi berubah. Ini menunjukkan kekuatan cinta kasih.
Dengan kekuatan inilah kita bisa menaklukkan obsesi, alih-alih membenci diri kita sendiri karena obsesi dan perilaku buruk kita. Kita mendapatkan lompatan keyakinan karena cinta kasih untuk mau menempuh jalan lain, menemukan pintu lain, pilihan lain, sekalipun kita masih memiliki obsesi. Katakanlah selalu “Pintu hatiku selalu terbuka bagiku”. Ketika kita berdamai dengan diri sendiri, saat cinta kasih dan pengampunan menyelinap masuk ke dalam diri kita, ketika tidak ada lagi alasan untuk menghukum dan melukai diri sendiri, kita akan menyadari bahwa mudah sekali meninggalkan obsesi kita. Alasan untuk menghukum dan melukai sudah lenyap. Jalan menuju kebebasan pun terbuka!
Obsesi dan perilaku yang melukai ini ibarat kita berada dalam penjara. Kita mendapati bahwa kita bisa sangat kejam. Tak ada seorang pun yang menjebloskan kita ke penjara, selain diri kita sendiri. Tak ada yang menghukum kita, selain diri kita sendiri. Kita adalah pemilik perbuatan kita sendiri. Itu juga berarti bahwa kitapun bisa membebaskan diri kita sendiri. Biarlah diri kita pergi. Biarlah diri kita damai. Biarlah diri kita bahagia.
Cintailah harimau meski harimau itu bisa sangat liar. Jinakkanlah harimau itu melalui kebajikan. Harimau ini adalah perumpamaan dari rasa sakit, kritikan kepada diri sendiri, pikiran yang selalu mencari-cari kesalahan, dan lain-lain. Setelah dijinakkan, semua obsesi ini begitu mudah dilepaskan, sebab akar kebencian terhadap diri sendiri telah lenyap. Kita dengan mudah bisa melepaskan obsesi. Orang hanya bisa marah kepada orang lain karena mereka tidak mengasihi diri mereka sendiri, tidak damai dengan diri mereka sendiri.
Ketika kita membebaskan diri dari kecanduan, kita akan merasakan begitu banyak energi dan kebebasan. Kita menjadi begitu bahagia dan memiliki energi untuk melakukan perbuatan baik di dunia ini, untuk melayani orang banyak.
**************
Hal yang terpenting dalam “Praktik manajemen 360 derajat” adalah ketika kita sudah berdamai dan mencintai diri sendiri. Belajarlah untuk damai di tengah ketidaksempurnaan dan belajarlah untuk damai meski kita jauh dari kesempurnaan. Dengan melakukannya, praktik manajemen 360 derajat akan semakin mudah kita lakukan.
Biasanya praktik manajeman 360 derajat ini tercermin dari sikap hidup kita terhadap orang lain, seberapa peduli kita terhadap orang lain, tidak hanya dengan orang-orang di atas kita tetapi juga dengan orang-orang di bawah kita. Ketika hal yang baik sudah sering kita lakukan, tidak akan sulit untuk menjalankan praktik manajemen 360 derajat ini.
Dengan meningkatkan kemampuan kita untuk mengasihi, mencintai, dan membahagiakan diri sendiri, akan lebih mudah untuk mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Praktik manajeman 360 derajat ini tercermin dari sikap hidup kita terhadap orang lain, seberapa peduli kita terhadap orang lain, tidak hanya dengan orang-orang di atas kita tetapi juga dengan orang-orang di bawah kita. Ketika hal yang baik sudah sering kita lakukan, tidak akan sulit untuk menjalankan praktik manajemen 360 derajat.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















