Top 10 Penulis

Puisi: Akar Kemelekatan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman wearing silver-colored ring
Photo by Giulia Bertelli

Ketika perbuatan jahat
Terencana pikiran jahat,
Untuk siapa pikiran
Berencana?

Ketika pikiran jahat
Membela kebencian
Siapa yang kebencian
Puaskan?

Ketika kebencian hadir
Memuaskan ketamakan
Apa yang memastkan ketamakan
berkelanjutan?

Ketika ketamakan
Melekat berkelanjutan
Apa alasan kemelekatan
Terjadi?

TIdakkah kita memiliki hanya apa yg bermanfaat?
TIdakkah kita perhatian hanya pada apa yang sesuai/cocok?
Tidakkah kita mempertahankan hanya apa yang baik?
TIdakkah kita melekat hanya pada apa yang menyenangkan?

Menyenangkan….
Menyenangkan?

Ketika kemelekatan
Didasari kesenangan
Mengapa kita senang
Apa yang kita senangi?!?

**

Penafian

Opini dalam puisi ini meski terinspirasi ajaran Agama Buddha mahzab Theravada adalah murni buah pikir pengarang sendiri yang tidak mewakili organisasi, mahzab atau ajaran manapun.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

worm's-eye view photography of trees
Sebagian mungkin malah kesal, koq nuduh sih? Darimana tahu saya menderita? Belum tahu ya kemarin saya baru naik pangkat sehingga gaji naik berlipat-lipat? Belum tahu ya saya baru pulang pelesir ke luar negeri gratis karena dibiayai perusahaan sebagai apresiasi? Belum tahu ya saya baru “ditembak” persis oleh orang yang memang sudah lama saya taksir? Belum tahu ya anak saya baru dapat cucu baru?
man in white and blue pinstripe dress shirt sitting on brown wooden table
Pikiran atau perasaan yang teridentifikasi dan disadari akan pupus seketika. Minimal turun intensitasnya. Kemarahan surut ketika kita sadari sebegai perasaan yg muncul. Stress karena pikiran tak kunjung menemukan jalan keluar pupus ketika disadari sebagai pikiran yang muncul.

Tulisan Terkait