Top 10 Penulis

Puisi: Aku Tersadar, Betapa Bodohnya Diri Ini

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Photo by Joshua Rawson-Harris

Kutatap lembayung senja nan merah merona
Cantik, namun ada gamang disana
Semilir angin membuatku sejenak terlena
Menebar sepi dalam indahnya pesona

Waktu berlalu begitu singkat tanpa aba-aba
Merasa kecewa karena tersia-sia
Ada sepotong rindu terselip di dada
Membuat resah selalu menghantui jiwa

Kurenungi hari-hari yang telah pergi
Dalam gundah-gulana penuh ironi
Seribu harap meniti tanpa henti
Namun kerikil-kerikil tajam menghujam mimpi tak bertepi

Kupandangi diriku dicermin ….
Tampak sendu dan kusam seperti kurang vitamin
Kucoba tersenyum dalam batin
Namun terasa beku dan dingin

Kemanakah hangatnya cinta kasih yang selama ini menghuni jiwa ?
Kucoba tertawa dalam hati yang penuh luka
Menangis pun sudah tak ada lagi air mata yang tersisa
Kuendus dukaku dalam suka

Aku tersadar betapa bodohnya diri ini
Mengapa harus memikirkan yang telah pergi, dan ….
Mengharap yang belum pasti
Padahal hidup dimasa kini begitu berarti

Akan kulalui hari-hariku dengan wajah berseri
Kutebarlah kasih dari dalam lubuk hati
Kan kunikmatil sisa hidupku dengan penuh arti
Kubuang jauh-jauh sikap iri dan dengki

Hati, pikiran dan jiwaku tak pernah berhenti
Untuk mengulang mantra sakti nan abadi

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a person in a hospital bed with an iv
Mengenai penyakit, penulis punya segudang penyakit, yang kalau hasil lab tersebut dijabarkan penulis pasti sudah jadi penghuni ruang ICU. Namun ternyata penulis masih bisa gentayang beraktivitas, sampai-sampai dokter kantor berkomentar.
woman holding white and black coffee cup
Jika kita mendengar kata-kata dana, uang akan selalu jadi asumsi. Padahal banyak bentuk ragam yang dapat diberi. Banyak cara untuk memproyeksi aksi itu sendiri.

Tulisan Terkait