Top 10 Penulis

Puisi: Dua Pasang Mata, Mengepal Kuat Mantra

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

boy, child, face
Photo by nahidsheikh31

Kita
Dua pasang mata
Berkelana pada beda arah mesra
Tersisa dari kepingan air mata
Yang tak sempat menguap gegap gempita
Terhanyut dalam arus tanpa muara

Dalam balutan luka menganga
Hadir tatapmu mengalun damai
Sejenak mengubah hampa menjadi tenang
Tanpa kepahitan yang membayang
Lengkung senyummu serupa kudapan manis

Di tengah sore bergerimis
Perlahan memekarkan kelopak – kelopak cinta
Mengisi kekosongan hati yang porak poranda sebelumnya

Kini, debar dan detak tak lagi tawar
Mengakar di redung paling dasar
Menguatkan bait – bait doa setinggi angkasa

Lantas diendusnya wejangan beragam aroma
Tuk memastikan desiran rasa tidak beraksa
Pada rongga – rongga jiwa yang telah memancar
Sehebat – hebatnya binar

Asmara menjelma di keduanya
Berpeluk pesona malam taram temaram
Dua pasang mata tenggelam
Saling mencengkam penuh kesucian 

Selamat mendaki puncak penuh penantian
Dari pintumu
Dua pasang mata
Mengepal kuat mantra
Penawar lukanya

****

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

monks walking near people holding baskets on street
Ada banyak cara dalam berdana, seperti memberi makanan kepada bhikkhu, memberi materi, ucapan dan pikiran yang baik kepada siapapun.
a woman in a pink dress walking down a street
Jangan selalu menganggap diri kita paling benar saat berbicara dengan orang lain. Ingatlah bahwa bukan hanya kita yang memiliki perasaan, orang lain juga memiliki perasaan. Mereka juga bisa merasa sakit hati.

Tulisan Terkait