Top 10 Penulis

Puisi: Kebaikan untuk siapa?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Backview of Sad Child waiting on a Glass Window
Photo by Juan Pablo Serrano Arenas

Sedari kecil kita diajar
Dibekali ilmu agar pintar
Sehingga jika nanti sudah besar
Tidak menjadi orang yang kasar

Sedari kecil kita dididik
Diucapkan agar jadi anak baik
Kenapa harus baik?
Kata mereka, ya memang begitu, titik
Diminta menuruti orang tua
Dengan segala dinamikanya
Bersifat baik ke orang lain ya
Itu pesan mama papa

Beranjak dewasa aku jadi bertanya
Baik itu yang seperti apa
Apakah baik itu selalu menuruti orang tua?
Tanpa aku peduli yang sebenarnya aku rasa?

Jika aku gundah dan gelisah
Atau sedih dan marah
Jika aku tidak setuju dengan mereka
Apakah aku menjadi durhaka?

Tulisan ini menjadi pengingat kita
Sebagai orang tua
Anak kita punya emosi dan rasa
Kita perlu validasi perasaan mereka

Bahwa anak juga manusia
Emosi mereka itu nyata
Sama seperti kita yang dewasa
Seperti aturan di pesawat

Jika ada suasana gawat
Pakai masker sendiri dulu agar selamat
Baru setelahnya ke orang lain masker kita semat

Memang benar mengajar anak untuk baik
Tapi lakukan cara yang apik
Ajak mereka berlatih
Kebaikan ke diri sendiri

Biasakan mereka menyebar cinta kasih
Sebar ke diri sendiri
Orang tua memberikan mereka cinta
Agar mereka merasa berharga

Memang
Jadi orang tua tidak mudah
Jadi orang tua tidak ada sekolahnya
Tapi bisakah kita lihat ini sebagai berkah?

Kesempatan kita sebagai seorang dewasa
Untuk berlatih Dhamma yang sesungguhnya
Bukan hanya lewat seminar dan workshop saja

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persona holding star near the window during sunset
Aku tidak pernah memaksa diriku untuk menikah di usia muda, tetapi waktu tidak mau kompromi rasanya.
Backview of Sad Child waiting on a Glass Window
Beranjak dewasa aku jadi bertanya / Baik itu yang seperti apa / Apakah baik itu selalu menuruti orang tua?

Tulisan Terkait