Top 10 Penulis

Puisi: Maka Sadarilah, Larungi Perubahan dengan Kebajikan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

four floors building with stairs
Photo by Niklas Ohlrogge

Melarungi Kehidupan

Muncul, berlangsung, dan lenyap
Datang tanpa dinanti
Berada tanpa terasa
Pergi tanpa diminta

Umur bertambah, tapi usia jadi berkurang
Saat demi saat berjalan, berjalan, dan terus berjalan

Ketika batin belum mapan
dan roda kehidupan berputar entah sampai kapan

Yang tua belum tentu menikmati masa datang

Dan yang muda pun apakah bisa mencapai usia tua

Kehidupan yang tak menentu dan penuh dengan lika-liku
Teka-teki hingga menjadi misteri
Bagai gelap gulita yang perlu Pelita

Mereka yang datang:

Dari Gelap menuju Kegelapan
Dari Gelap menuju Terang
Dari Terang menuju Gelap
Dari Terang menuju Terang

Proses kehidupan: lahir, tua, sakit, dan mati

Tapi tak selalu hal yang menyakitkan

Karena silih berganti tiada pasti
Untung rugi dikenal maupun dicampakkan

Dipuji dan dicela, suka duka akan dialami

Perubahan itulah yang abadi dan terus berlangsung tanpa henti
Bila tanpa perubahan yang pasti dan tak pasti

bagaimanakah orang nanti berharap

Mengalami perubahan, tidak terus menerus menderita, karena tidak seorang pun sanggup bila selamanya menderita.

Untunglah datang perubahan pada waktunya
Pada saatnya hal itu akan berakhir pula.

Tak selamanya sukacita, gembira terus berlangsung
Kesemuanya juga fana dan pada waktunya sirna.

Maka sadarilah, jangan terpana pada zona nyaman yang dirasa
Yang dapat membuat orang tak selamanya perkasa.

Raih, pegang teguh Pelita Dharma 

Yang menerangi kalan setapak menuju bahagia

Guna menghapus duka lara, Lobha, Dosa, dan Moha
Hingga tercapainya Nibbana.

Sadhu ( STD )

****

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a bowl of food and a drink on a table
Berbicara mengisi perut adalah hal yang sangat urgen, karena dengan perut keroncongan yang belum terisi orang menjadi lesu, tidak bersemangat, tidak berdaya, sehingga tidak dapat mengerjakan sesuatu untuk berkarya. 
Ragam festival Pehcun ini merupakan akulturasi budaya pendatang dengan budaya setempat. Sebagai bentuk kearifan lokal yang menumbuhkan semangat kebersamaan, memperkokoh persatuan, dan kesatuan bangsa.

Tulisan Terkait