Top 10 Penulis

Puisi: Merenungi Kematian Sendiri.

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Photo by The Good Funeral Guide

Kehidupan manusia sangat singkat.
Kematian akan datang kapan saja.
Apakah ada yang bisa menghindarinya?
Tidak mungkin menghindari datangnya kematian.

Terkadang banyak yang masih lalai.
Termasuk saya masih sangat lunglai.
Belum merenungkan dan menyadari sepenuhnya.
Karena berpikir Kematian masih belum tiba.

Siapa yang dapat membantu saya setelah kematian?
Hanya perbuatan saya sendiri.
Karena saya lahir dari perbuatan saya sendiri.
Terlindungi oleh perbuatan saya sendiri.

Hal yang patut saya renungkan.
Membuat saya tersadarkan.
Kehidupan saya sangat singkat.
Saya harus segera menjadi lebih baik.

Saya akan menjadi lebih baik dari diri saya sebelumnya.
Itulah tekad yang saya lontarkan dalam benak saya.
Saya bersyukur menjadi diri saya sekarang.
Dan ke depan saya juga harus bersyukur.

Bersyukur saja tidak cukup.
Tapi dengan pikiran, ucapan, dan perbuatan baik.
Yang dapat membantu saya untuk terbebas.
Terbebas dari Samsara.

Saya merasa Bahagia sebelum melakukan kebajikan.
Saya merasa Bahagia saat melakukan kebajikan.
Saya merasa Bahagia setelah melakukan kebajikan.
Saya merasa Bahagia mengenang perbuatan baik itu.

Inilah yang membuat saya bersemangat.
Bersemangat agar lebih Bahagia lagi.
Terus Bahagia sampai akhirnya.
Karena saya tahu kematian itu pasti.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi

Tulisan Terkait