Ketika aku berpikir untuk melepas.
Pikiranku tenang dan damai.
Batinku seolah berteriak:
Aku akan berlatih dengan rajin.
Sukakah dalam latihanku?
Adakah rasa bosan?
Perasaan kurang menyenangkan, rasa sakit!
Sering muncul rasa ngantuk?
Seolah mau berkata-kata,
Namun tidak diizinkan untuk berkata!
Mau bernyanyi, apa lagi.
Stop pikiran yang nakal!
Aku harus berkonsentrasi.
Menenangkan pikiran.
Membawa batin di saat ini.
Agar saat ini aku BAHAGIA.
Tersadarkan bahwa aku sedang retret!
Tidak diizinkan untuk macam-macam.
Hanya satu macam?
Memperhatikan napas….
Siapa Pembuat rumah ini?
Adakah aku di sana.
Rumah ini kosong.
Tanpa pemilik yang sesungguhnya.
Ketika tahu dan sadar.
Maka aku terus menyadari.
Mengingatkan diri sendiri.
Kesadaran sangat penting.
**
Bunga Teratai penyejuk batin.
Bunga Teratai sangat indah.
Walaupun di dalam air yang kotor.
Namun bermekar bunga Teratai.
Sungguh membuat hati Bahagia.
Apakah harus melihat yang indah?
Baru tersadarkan hati ini Bahagia?
Dalam kegelisahan dan gemuruh.
Sadarkan diri bahwa ini adalah Anicca.
Menyadari segala sesuatu tidak kekal.
Membuat batin lebih kokoh.
Dari kerapuhan jasmani.
Namun batin tetap kuat.
Badan dan jasmani boleh sakit.
Batin tidak boleh sakit.
Batin yang kuat akan menyelamatkan.
Keadaan yang terluka.
Seperti bunga Teratai yang indah.
Bunga Teratai penyejuk batin.
Dalam kolam yang kotorpun.
Tetaplah bermekaran seperti Teratai.
Kotor dan bersih diri sendiri yang tahu.
Dari diri sendiri seorang berbuat kesalahan.
Diri sendiri pula yang membersihkannya.
Bagaikan ular yang mengelupaskan kulitnya.
















