Top 10 Penulis

Puisi: Untuk Apa Aku Lahir, Jika Hanya untuk Dijemput Mati

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person standing on boulder during twilight
Photo by Nsey Benajah

Ketika aku lahir di dunia
Katanya aku membawa kebahagiaan
Karena aku membuat mama yang terbaring menangis bahagia
Juga tawa sumringah papa dan keluarga besar di kamar depan

Ketika aku bertambah usia
Katanya aku membawa kebahagiaan dan kejengkelan
Karena tingkah polah balita yang jenaka
Tapi juga kenakalan yang menyeruak dalam keseharian

Ketika aku beranjak remaja
Kuingat betapa aku membawa banyak masalah
Mulai dari berkelahi dengan teman di saat senja
Hingga kekesalan dan kemarahan orang tua karena selalu berulah

Ketika umur dan pikiranku bertambah dewasa
Kusadar bahwa aku tak bisa merubah waktu yang berlalu
Tersentak hati dan pikiran ini saat mendengar Dhamma
Bahwa ada kelahiran pasti juga ada kematian yang menunggu

Jadi…..
Untuk apa aku lahir?
Apakah aku lahir hanya untuk mati?
Ataukah aku lahir untuk menjadi orang yang terbaik hingga saat terakhir?

Bodhisatva Sidharta lahir di bumi ini
Beliau mengatakan ini kelahirannya yang terakhir
Pencapaian Penerangan Sempurna menjadi inti
Perwujudan kasih sayangnya kepada semua mahluk yang terlahir

Ternyata……
Aku lahir untuk menjadi manusia yang berpikiran luhur
Karena manusia berasal dari kata mano (pikiran) dan ussa (luhur)
Aku tak mau hidup ini menjadi sia-sia dan terbuang percuma

Aku bertekad (aditthana) untuk mengisi kelahiran saat ini dengan kebaikan
Untuk diriku sendiri maupun mahluk lain di seluruh semesta alam ini
Sampai nanti diriku dijemput sang Raja Kematian
Mudah-mudahan kebahagiaan selalu menyertai di setiap alam
hingga tercapai kebahagiaan abadi

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

men sitting on white square tile floor
Pertanyaannya apakah momen itu ditunggu-tunggu oleh umat Buddha? Belum tentu sih. Tapi yang pasti momen Waisak, terutama peringatan detik-detik Waisak dan perayaaan Waisak, sekarang disebut Sannipata Waisak, lah yang paling dinanti.
people walking on white floor tiles
Hati mulai was-was walaupun masih ada empat jam sebelum take off, karena kami semua juga belum makan siang dan berharap dapat makan dengan santai di bandara.

Tulisan Terkait