Top 10 Penulis

Rezeki Belum Menyapa, tetapi Bencana Sudah Menjauh

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

the sun shines through the fog on a country road
Photo by Ginger Jordan

“Aduh! Bagaimana ini?” Dewi, karyawan saya baru melaporkan kelalaiannya membayar telur untuk persiapan membuat roti yang akan dijual hari ini. Lumayan besar juga selisihnya, tiga ratus ribu rupiah.

“Bukan untung, malah buntung!” pikir saya kesal. Mau marah kepada Dewi juga tidak ada gunanya, hanya menambah kerutan di wajah saya yang memang sudah banyak kerutannya, hehehe …. Akhirnya saya mengajak anak saya untuk sarapan mi pangsit di dekat toko roti kami.

Sepertinya pagi ini bukan pagi yang cerah juga untuk si pelayan. Wajahnya cemberut terus. Setelah perut kenyang kami pun meminta bon kepada pelayan tersebut. Dan sambil menunggu uang kembaliannya, kami membahas acara wisuda anak teman saya di kampusnya kemarin. Setelah beberapa saat, si pelayan menghampiri meja kami, meletakkan uang kembaliannya, dan langsung mengeloyor ke meja lain.

“Mama, uangnya lebih sepuluh ribu rupiah,” kata anak saya.

“Oh, ya? Kalau begitu kita segera kembalikan kepada pelayan tadi, Nak,” ujar saya.

Bergegas kami memanggil pelayan tersebut.

Dengan ogah-ogahan dia menghampiri meja kami.

Wajahnya seolah berkata,“Ada apa lagi nih?”

“Tadi Adik salah mengembalikan uangnya. Ada lebih sepuluh ribu,” saya menjawab sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribu kepadanya.

Seketika si pelayan memberi senyuman manisnya dan berterima kasih kepada kami. Ternyata cantik juga orangnya, hehehe.

Tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Oh, dari penjual telur langganan saya.

“Halo?”

“Bu, tadi karyawan Ibu kelebihan membayar tiga ratus ribu untuk telurnya. Baru saja saya kembalikan uang tersebut kepadanya.

“Terima kasih, Pak.”

Wah, tidak jadi buntung nih, hehehe.

Teringat kata-kata Bhante hari Minggu lalu ketika kami ke wihara untuk mengikuti kebaktian seperti yang biasa kami lakukan setiap hari Minggu. Bhante menekankan pentingnya menjalankan lima sila dalam kehidupan kita sehari-hari, dan akan lebih baik lagi jika kita bisa menjalankan delapan sila/Athasila. Jangan hanya teorinya, tetapi praktikkan langsung dalam berpikir, berucap, dan berperilaku yang baik untuk meningkatkan kualitas batin kita sehingga kita bisa hidup damai, tenang, dan bahagia hingga mencapai kebahagiaan tertinggi/Nibbana.

Selain itu, bagi saya, kejujuran itu sangat penting dan selalu saya tanamkan hal itu kepada anak saya agar tidak mengambil barang yang bukan milik kita sesuai ajaran Sang Buddha tentang lima sila yang wajib kita praktikkan dalam hidup kita sehari-hari yang dalam hal ini tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan milik kita (sila ke-2 dari lima sila).

Nah, ini dia contoh buah karma baik yang cepat masak. Dengan berbuat kebajikan, mungkin rezeki belum menghampiri, namun bencana sudah menjauh. Selamat mempraktekkan dharma dalam kehidupan Anda sehari-hari. Semoga Anda selalu dalam perlindungan Buddha, Dharma, dan Sangha.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

silhouette photography of man punching on air
 Ku coba paksa buka karena sudah tak tertahankan lagi. Tak bisa juga. "Bandel ya," omelku dalam hati.
girl surrounded by plants
Melihat betapa bahagianya anak-anak yang mendapat curahan kasih sayang dari orang tuanya, terutama ayahnya, mengingatkanku pada ayahku tercinta yang telah tiada dua belas tahun yang lalu.

Tulisan Terkait