Sebuah pertanyaan yang sering kali kita tanyakan terkait merespon suatu masalah yaitu,”Apakah ini buah dari karma buruk masa lampau?, ataukah ini sebuah buah karma buruk dari masa kini?”. Pertanyaan demi pertanyaan sering kali menjadi sebuah bagian kisah kehidupan kita yang kita tanyakan guna memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari alasan terhadap suatu kejadian yang tidak kita terima kedatangannya.
Apalagi kalau kita memiliki akses untuk melihat ke masa lampau yang difasilitasi oleh kenalan kita yang mampu memiliki ketrampilaan melihat masa lampau, maka bertambahlah cara kita untuk meminta penjelasan kejadian yang terjadi hari ini untuk dikaitkan dengan kehidupan masa lampau kita, bahkan tidak sedikit di antara kita meminta kembali ke kehidupan masa lampau kita demi untuk memperbaikinya dan berharap agar kejadian yang terjadi saat ini dapat selesai dengan baik.
Pencarian alasan suatu kejadian yang terjadi baik itu dengan menyatakan sebagai buah dari karma masa lampau atau menjajaki kehidupan masa lampau adalah sebuah cara yang lebih baik daripada kita hanya menyalahkan keadaan atau menyalahkan pihak di luar diri kita. Kedua cara ini adalah cara untuk refleksi diri bahwa kejadian yang terjadi itu menjadi bagian dari diri kita.
Belajar dari ajaran Guru Agung Buddha terkait pentingnya hadir dalam setiap momen kehidupan kita, yaitu hidup saat ini dan di sini, merupakan suatu jawaban yang dapat juga menjadi salah satu cara melihat suatu kejadian yang terjadi. Kita dapat melakukan analisa terhadap kejadian yang terjadi sebagai bagian dari kenyataan yang terjadi saat ini. Kita cukup menyadari saja atas kejadian yang terjadi.
Kita tidak perlu mempertanyakan,”Apa karma yang telah ku perbuat dahulu kala, kok bisa jadi seperti ini?”, atau kita mulai mengusik,” Sebenarnya aku ini dulu terlahir seperti apa ya?”. Kita cukup menyadari kehadiran kejadian yang ada. Misal jika kita dimusuhi oleh teman-teman kita, maka kita cukup menyadari ada teman yang tidak sepaham dengan kita, dan mulai menjauhi kita. Kita dapat gunakan kejadian ini sebagai sebuah koreksi dengan berpikir, “Mungkin ada hal yang salah yang aku perlu perbaiki”. Jika kita tidak mampu menemukannya, kita dapat mempertanyakannya kepada teman kita yang menjauhi kita. Namun teman tersebut malah tetap menjauh dan tidak memberikan jawaban atas kekurangan kita, itu artinya kita tidak perlu mempertahankan pertemanan tersebut, karena teman tersebut tidak menunjukkan sebagai teman yang mau memberikan masukan agar kita lebih baik ke depan.
Terhadap pertemanan seperti itu, kita cukup ucapkan,”Maaf atas kesalahan yang terjadi, namun jika kalian tidak memaafkan tidak apa, karena itu adalah wewenang kalian”. Kita tidak bisa merubah sebuah kejadian yang terjadi, juga tidak bisa meminta orang lain atau lingkungan kita berubah atas kejadian yang telah terjadi. Hal yang dapat kita lakukan cukup dengan menanggapi kejadian dengan penyadaran yang merupakan praktek dari kesabaran.
Kesabaran itu adalah sebuah penyadaran. Mereka yang mempraktekan kesabaran tentu penuh dengan penyadaran diri, sadar akan kejadian yang terjadi sehingga mereka menerima kejadian tersebut dengan menanggapinya sebagai bagian dari pembelajaran.
Kesabaran, penyadaran dan pembelajaran adalah rangkaian respon yang baik dan bijak dalam menghadapi segala kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita. Apapun kejadian yang kita alami baik itu yang menyenangkan, menyusahkan bahkan membuat kita hingga mengalami tekanan yang kuat, kita cukup sabar menerimanya, munculkan penyadaran dan jadikan sebuah pembelajaran.
Pembelajaran berarti kita mau dengan sabar dan sadar bahwa kejadian yang terjadi itu adalah bagian dari kehidupan kita bukan terpisah dari kita dan bukan karena kesalahan orang lain atau lingkungan tempat kita hidup, walau orang lain dan lingkungan tempat kita hidup memberi dorongan terhadap kejadian yang terjadi, namun ada baiknya mereka tidak menjadi fokus kita dalam pembelajaran. Fokus kita dalam pembelajaran terhadap kejadian yang terjadi adalah tentang kita bagaimana kita merespon kejadian tersebut, yaitu kita jadikan sebagai pembelajaran agar kedepan lebih baik lagi dan kita gunakan kebijaksanaan yang kita miliki untuk memberikan umpan balik dengan pikiran yang baik dan berkembang.
Suatu ketika dalam perjalanan setelah penulis memberikan pelatihan kepada guru sekolah Minggu Regional, penulis berdiskusi dengan senior penulis yang dengan senang hati menjemput penulis. Salah satu kakak (katakan namanya Darma) menanyakan perihal perilaku atasannya yang semena-mena terhadap dirinya. Kak Darma ini akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerjasama dengan atasannya ini. Setelah berhenti dengan atasannya ini dengan cara baik dan sesuai prosedur, namun sang atasan malah menjelekan kak Darma di depan para klien kak Darma tanpa ada kak Darma di sana.
Kak Darma bertanya kepada penulis, “Bagaimana ajaran Buddha menjelaskan tentang kejadian ini?, apakah ini karna karma buruk ku atau ini kesalahan ku sendiri atau bagaimana?”. Penulis tidak mampu melihat tentang masa lampau, tetapi penulis selalu ingat ajaran Guru Agung Buddha seperti yang penulis sampaikan di atas yaitu hiduplah untuk saat ini dan di sini, tidak hidup di masa lampau atau di masa akan datang.
Kak Darma mendengarkan penjelasan penulis, bahwa apapun yang terjadi biarlah terjadi, kita tidak bisa menundanya, dan juga tidak bisa mengubahnya karena sudah terjadi. Pilihan yang kita buat itu adalah tindakan kita saat ini, dan itu adalah karma sekarang. Karma sekarang itu yang penting, yaitu niat yang kita bangun untuk merespon kejadian yang terjadi. “Kalau kak Darma saat ini merespon dengan perasaan sedih maka kak Darma membangun kesedihan, namun kalau kak Darma merespon dengan makna, maka kak Darma akan menemukan jalan untuk hidup lebih baik”.
Respon yang bermakna yang kita lakukan atas kejadian yang hadir adalah hal yang penting untuk praktek kesabaran. Kesabaran itu bukan suatu yang sifatnya penekanan atau pengalihan perasaan, namun kesabaran sekali lagi adalah bentuk penyadaran terhadap kejadian. Ungkapan yang mengatakan, “Kesabaran itu ada batasnya”, ini bukan kesabaran tapi sebuah penundaan atau pengalihan respon. Kesabaran itu tak berbatas, namun berkembang.
Lihatlah setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita adalah bagian dari praktek kesabaran. Jika kita sulit memahami kesabaran, kita cukup diam, lalu lakukan penyadaran, amati diri kita yang saat ini hadir. Perhatikanlah bentuk pikiran yang muncul, bentuk pikiran apapun yang muncul atas respon suatu kejadian cukup anda sadari. Kemudian mulailah memilah hal baik dan bijak yang dapat kita gunakan untuk merespon. Selanjutnya jadikanlah ini sebuah pembelajaran atas kehidupan kita sendiri.
Penulis yakin, dengan rangkaian respon demikian sabar, sadar, dan belajar mampu membuat hidup kita lebih baik, kita terhindar dari cara pikir yang kerdil dan picik serta sempit yang selalu menyalahkan masa lalu atau masa depan atau orang lain atau lingkungan. Dengan cara ini, kehidupan kita tentu lebih bermakna dan tentu lebih bahagia, penuh dengan syukur dan terima kasih. Semoga tulisan ini memberi makna untuk kita semua. Semoga semuanya berbahagia.

















