Top 10 Penulis

Sabbe Saṅkhārā Aniccā, Makna yang Terlewatkan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

an empty road with mountains in the background

Mendengar kalimat “Sabbe saṅkhārā aniccā”, pasti teringat soal kematian, hal ini tidak mengherankan karena arti kalimat ini adalah “segala yang terbentuk, tidak kekal”. 

Sebuah nasehat bagi keluarga yang berduka-cita untuk merenungkan bahwa kematian adalah sesuatu yang wajar, karena ada kelahiran (terbentuk) pasti tidak kekal, pasti ada kematian. Dengan merenungkan hal ini, diharapkan keluarga yang berduka cita dapat menerima kenyataan ini.

Kata sabbe artinya adalah semua. Kata saṅkhārā artinya adalah sesuatu yang muncul karena ada penyebabnya. Kata aniccā adalah artinya tidak kekal, sedangkan niccā artinya adalah kekal. Sehingga arti seluruhnya, “Semua yang ada penyebabnya, tidak kekal”. 

Aniccā kalau muncul, semestinya ada teman lainnya, yaitu

Sabbe saṅkhārā aniccā
Sabbe saṅkhārā dukkhā
Sabbe dhammā anattā

Sabbe saṅkhārā dukkhā artinya “Semua yang ada penyebabnya, adalah dukkha (tak memuaskan). Sabbe dhammā anattā artinya adalah “Semua yang ada di batin, tidak bisa disebut diri”.

Kata “dhamma” dalam Sabbe dhammā anattā artinya adalah aktivitas batin, semua yang muncul dalam pikiran, objek dari pikiran (mano), atau segala sesuatu yang dikenali oleh pikiran (mano). Kata “dhamma” disini bukanlah “Dhamma”, “Dhamma” adalah ajaran Sang Buddha, yang biasanya ditulis diawali dengan huruf besar.

Ketiga sifat ini, disebut Tilakkhanā, tiga sifat universal, tiga corak umum.

***

Suatu kali Sang Buddha mengatakan dalam Dhammaniyāma Sutta (Hukum Kebenaran): 

Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak, terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu, terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu:

Sabbe saṅkhārā aniccā
Sabbe saṅkhārā dukkhā
Sabbe dhammā anattā

Artinya, apakah para Buddha ada atau tidak, Tilakkhanā hal tersebut tetap ada. Andaikata bumi ini musnah karena berbagai alasan, lalu muncul bumi yang baru, maka Tilakkhanā tetap akan ada. 

Jika entah di mana, ada bumi lain, ada planet lain atau apapun namanya, di sana pula Tilakkhanā tetap berlaku, di sanapun ada ketidak-kekalan.

Anicca, dukkha dan anatta adalah sifat universal dari segala sesuatu yang terbentuk, segala sesuatu yang muncul. Segala sesuatu yang muncul, tidak kekal, penderitaan, tidak bisa dianggap diri.

****

Selanjutnya nasihat Sang Buddha dalam syair Tilakkhanādi:

Sabbe sankhārā aniccā’ti
Yadā paññāya passati,
Atha nibbindati dukkhe:
Esa maggo visuddhiyā.


Semua yang terbentuk tidak kekal
Bila dengan bijaksana orang melihatnya
Maka penderitaan (dukkha) tidak akan ada lagi: 
Inilah jalan untuk mencapai kesucian. 

Suatu pernyataan yang sangat tegas, bahwa memahami, melihat langsung Tilakkhanā merupakan jalan untuk bebas dari penderitaan.

***

Kalimat Sabbe saṅkhārā aniccā adalah kalimat yang maknanya sangat dalam, bukan hanya sekadar diucapkan ketika ada keluarga yang berduka-cita, tetapi merupakan jalan untuk bebas dari dukkha, bebas dari penderitaan.

Memahami Sabbe saṅkhārā aniccā adalah jalan bagi mereka yang ingin bebas dari penderitaan, jalan menuju kesucian (esa maggo visuddhiyā).

***

Dhammaniyāma Sutta
Demikianlah telah kudengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagavā bersemayam di dekat Sāvatthī,
di hutan Jeta, milik Anāthapiṇḍika.

Sang Bhagavā bersabda kepada para bhikkhu:
“O, para Bhikkhu.”
Ya, Bhante.” jawab para bhikkhu kepada Sang Bhagavā.

Selanjutnya Sang Bhagavā bersabda:
“O, para Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak,
terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu (Dhamma), terdapat hukum
yang pasti dari segala sesuatu, bahwa:
“Semua yang terbentuk tidak kekal.”

“Tathāgata mengetahui dan mengerti sepenuhnya hal itu.
Setelah sepenuhnya mengetahui dan mengerti, Ia memaklumkannya,
menunjukkannya. Menegaskan, menandaskan, menjelaskan, menguraikan
dan membentangkan bahwa:
“Semua yang terbentuk tidak kekal.”

“O, para Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak,
terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu, terdapat hukum yang pasti
dari segala sesuatu, bahwa:
“Semua yang terbentuk adalah dukkha.”

“Tathāgata mengetahui dan mengerti sepenuhnya hal itu.
Setelah sepenuhnya mengetahui dan mengerti, Ia memaklumkannya,
menunjukkannya. Menegaskan, menandaskan, menjelaskan, menguraikan
dan membentangkan, bahwa:
“Semua yang terbentuk adalah dukkha.”

“O, para Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak,
terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu, terdapat hukum yang pasti
dari segala sesuatu, bahwa:
“Segala sesuatu bukanlah aku.”

“Tathāgata mengetahui dan mengerti sepenuhnya hal itu.
Setelah sepenuhnya mengetahui dan mengerti, Ia memaklumkannya,
menunjukkannya. Menegaskan, menandaskan, menjelaskan, menguraikan
dan membentangkan, bahwa:
“Segala sesuatu bukanlah aku.”

Demikianlah sabda Sang Bhagavā.
Mendengar sabda Sang Bhagavā tersebut, batin para bhikkhu dipenuhi kebahagiaan luhur.

***

Tilakkhanādi Gāthā
Semua yang terbentuk tidak kekal
Bila dengan bijaksana orang melihatnya
Maka dukkha tidak akan ada lagi:
Inilah jalan untuk mencapai kesucian.

Semua yang terbentuk adalah dukkha
Bila dengan bijaksana orang melihatnya
Maka dukkha tidak akan ada lagi:
Inilah jalan untuk mencapai kesucian.

Segala sesuatu adalah bukan aku
Bila dengan bijaksana orang melihatnya
Maka dukkha tidak akan ada lagi:
Inilah jalan untuk mencapai kesucian.

Di antara orang banyak, hanya sedikit
Yang sampai di pantai seberang;
Sebagian besar manusia hilir mudik
Di pantai sebelah sini.

Tetapi di antara orang banyak, hanya mereka
Yang melaksanakan Dhamma yang
Telah dibabarkan dengan jelas, dapat menyeberangi
Alam kematian yang sukar untuk diatasi.

Orang bijaksana akan melenyapkan kegelapan
Terlatih dalam cahaya terang; Setelah menjalani
Hidup tidak berkeluarga, berusaha keras untuk
Menikmati hidup dalam kesunyian.

Mereka yang menginginkan “cahaya terang yang hakiki”
Seharusnya meninggalkan kesenangan dunia
Tanpa memiliki harta dunia
Ia harus membersihkan batinnya.

Orang bijaksana demikian telah memiliki Bodhi
Batinnya telah berkembang sempurna
Telah melenyapkan kemelekatan
Bahagia dengan pikiran tanpa kemelekatan
Mereka yang bebas dari kekotoran batin serta bersinar terang
Mencapai Nibbāna dalam kehidupan ini.

Catatan: baik Dhammaniyāma Sutta dan Tilakkhanādi Gāthā ada di buku paritta.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Dikotomi adalah istilah adanya dua kutub yang saling bertentangan. Benar-salah, keduanya saling terpisah satu dengan lainnya, yang dari dahulu sudah menjadi perdebatan.
clear straight road
Kalimat yang artinya: “Segala sesuatu yang muncul, sewajarnya akan lenyap”. Kalimat ini juga menjadi tagline dari buku “Ini Pun Akan Berlalu”, buku Ajahn Chah yang terkenal.

Tulisan Terkait