Dulu ada umat yang dengan polos bertanya, bagaimana bisa membedakan samanera dengan bhikkhu? Pertanyaan ini wajar karena jubah yang dipakai bhikkhu dan samanera relatif sama dalam bentuk dan warna. Bedanya bhikkhu memiliki sanghati (jubah atas) tetapi itu pun tidak dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Jadi memang secara umum sulit membedakan samanera dan bhikkhu dari jubah yang dipakai.
Seperti diketahui bahwa istilah samanera berasal dari kata samana dan nera. Samana berarti petapa yang dalam hal ini berarti bhikkhu. Nera berarti anak atau muda, jadi samanera bermakna anak bhikkhu atau bhikkhu kecil (‘son of bhikkhu’ atau ‘small bhikkhu’).
Saat awal Sang Buddha membabarkan Dhamma, belum dikenal adanya samanera. Umat yang ingin meninggalkan kehidupan berkeluarga (‘pabbajja’ – going forth) diterima oleh Buddha menjadi bhikkhu dengan ucapan ‘Ehi Bhikkhu’.
Dalam perkembangannya enam puluh siswa Arahat pertama diberi wewenang untuk menerima umat menjadi bhikkhu dengan pengucapan Berlindung kepada Buddha-Dhamma-Sangha (Tisaranagamana Upasampada). Dengan banyaknya orang yang ingin memasuki kebhikkhuan, maka Buddha menetapkan Natticatutthakamma upasampada untuk penahbisan bhikkhu yang berlaku sampai sekarang.
Adanya samanera mulai dikenal dalam cerita Rahula yang saat itu berusia tujuh tahun. Rahula mengikuti Sang Buddha dan berkata,”Berikanlah saya warisan saya.” Sang Buddha memanggil Sariputta dan memintanya untuk menahbiskan Rahula, yang dengan demikian menjadi samanera yang pertama.
Pada kemudian hari dengan bimbingan Sang Buddha, Rahula mencapai tingkat kesucian tertinggi pada usia 18 tahun, dan setelah berusia 20 tahun ditahbiskan sebagai bhikkhu di Savatthi.
Ayah Buddha Gotama yaitu Raja Suddhodhana menemukan kenyataan bahwa cucunya menjadi samanera dan banyak anak-anak lainnya dalam keluarga kerajaan memohon penahbisan, meminta kepada Sang Buddha untuk hanya menahbiskan anak-anak menjadi samanera atas persetujuan orangtuanya. Sang Buddha menyetujui dan kemudian diperluas menjadi meliputi persetujuan dari pasangan seseorang (istri atau suami) bagi mereka yang ingin memasuki Sangha Bhikkhu atau Bhikkhuni.
Di negara-negara Buddhis merupakan suatu kebiasan bagi anak-anak untuk memasuki kehidupan keviharaan sebagai samanera untuk beberapa waktu ataupun untuk kemudian dilanjutkan menjadi bhikkhu setelah berusia dua puluh tahun. Usia dua puluh tahun biasanya diperhitungkan dengan usia dalam kandungan sehingga sesuai dengan umur dalam shio (Chinese Zodiac).
Pada masa dahulu ketika belum ada sekolah formal di masyarakat, menjadi samanera dan tinggal di vihara merupakan kesempatan bagi anak-anak itu untuk mendapat pendidikan yang baik dari bhikkhu, tentu juga penghidupan yang baik. Orang tua sangat bahagia dapat ‘melepas’ anaknya ke vihara karena jasa kebajikan menjadi samanera akan dipersembahkan kepada orangtuanya.
Jadi semestinya tidaklah begitu sulit untuk membedakan seorang bhikkhu dan seorang samanera karena samanera berusia muda di bawah dua puluh tahun. Kalau sedang berjalan selalu berada di belakang seorang bhikkhu.
Kalau sudah dewasa seseorang dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu, tentu setelah memenuhi berbagai persyaratan seperti telah berusia dua puluh tahun, mendapat ijin dari keluarga (orangtua atau istri), tidak mempunyai penyakit menular, tidak dalam tugas militer, terbebas dari hutang dan bila telah berkeluarga ada jaminan penghidupan bagi keluarganya. Dan lain sebagainya.
Di beberapa tempat ada ketentuan bahwa sebelum penahbisan kebhikkhuan, seseorang ditahbiskan terlebih dahulu sebagai samanera sebagai tahap persiapan untuk memasuki kehidupan kebhikkhuan yang sesungguhnya.
Masa ‘probation’ (percobaan) ini dapat sebentar dan dapat lama sampai satu atau beberapa bulan, tapi tentu tidak ada yang sampai bertahun-tahun sehingga menjadi ‘samanera abadi’. Apabila seorang samanera telah memenuhi persyaratan untuk upasampada, seyogianya guru pembimbingnya atau dirinya mengajukan permohonan untuk penahbisan penuh.
Banyak umat merasa lebih akrab dengan samanera mengingat statusnya yang ‘belum’ bhikkhu, walaupun kadang-kadang bingung kok ada samanera dewasa sudah lama menjadi samanera tapi tidak juga di upasampadā.
Di Sri Lanka terkadang umat sulit membedakan bhikkhu dan samanera sehingga terkadang menyapa samanera dengan sebutan ‘bhante’. Di Thailand samanera disebut ‘saamanen’, jadi disingkat menjadi ‘nen’.
Di Indonesia samanera biasa disapa dengan samanera juga dan terkadang disingkat dengan sebutan “Sam”.

















