Dalam ajaran Buddha, Sammā-Diṭṭhi atau “Pandangan Benar” adalah salah satu aspek fundamental dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (Aṭṭhaṅgika-Magga). Sammā-Diṭṭhi merupakan pemahaman yang tepat tentang realitas dan kebenaran tertinggi, yang menjadi landasan bagi praktik spiritual dalam mencapai pembebasan dari penderitaan.
Dalam teks suci Pali, Sammā-Diṭṭhi dijelaskan secara rinci dalam Sutta Vibhaṅga, bagian dari Vinaya Piṭaka. Berikut adalah petikan dari sutta tersebut dalam bahasa Pali:
“Katamā ca, bhikkhave, sammā-diṭṭhi? Yā kho, bhikkhave, dukkhe ñāṇaṃ, dukkhasamudaye ñāṇaṃ, dukkhanirodhe ñāṇaṃ, dukkhanirodhagāminiyā paṭipadāya ñāṇaṃ – ayaṃ vuccati, bhikkhave, sammā-diṭṭhi.”
Yang dapat diterjemahkan sebagai:
“Dan apakah, o para bhikkhu, Pandangan Benar? Yaitu, o para bhikkhu, pengetahuan tentang penderitaan, pengetahuan tentang asal-usul penderitaan, pengetahuan tentang berakhirnya penderitaan, dan pengetahuan tentang jalan menuju berakhirnya penderitaan – inilah yang disebut, o para bhikkhu, Pandangan Benar.”
Dari penjelasan dalam sutta tersebut, kita dapat memahami bahwa Sammā-Diṭṭhi mencakup pemahaman yang mendalam tentang empat kebenaran mulia: penderitaan (dukkha), asal-usul penderitaan (samudaya), berakhirnya penderitaan (nirodha), dan jalan menuju berakhirnya penderitaan (magga). Pemahaman yang benar atas empat kebenaran mulia inilah yang menjadi landasan bagi praktik spiritual menuju pembebasan.
Bagi umat Buddha, mengembangkan Sammā-Diṭṭhi merupakan langkah penting dalam perjalanan spiritual mereka. Dengan memahami realitas secara tepat, mereka dapat melepaskan diri dari kekeliruan pandangan dan mencapai pencerahan.

















