Top 10 Penulis

SAMVEGA – KETERGUGAHAN BATIN

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Three Funerals in Rural Central Thailand, Clark Cunningham, curator | Copyright 2023 University of Illinois Board of Trustees

Alkisah ketika untuk pertama kalinya melihat tiga peristiwa yaitu orang tua, orang sakit dan orang mati, Pangeran Siddhattha merasa sangat syok. Menyadari bahwa hal itu akan terjadi pada dirinya, orang-orang yang dicintainya dan bahkan semua makhluk, batinnya benar-benar tergugah untuk mencari jalan agar semua makhluk dapat terbebas dari keadaan tersebut. Demikianlah timbul samvega dalam dirinya. Kemudian timbul pasada ketika melihat peristiwa keempat yaitu pertapa pengembara yang agung yang membuatnya memperoleh keyakinan kuat untuk mencari jalan pembebasan.

Kata samvega (dibaca ‘sangwega’) terdiri dari kata sam yang berarti dengan atau bersama dan vega yang berarti kekuatan, gelombang, agitasi, kecemasan. Merupakan istilah yang bermakna perasaan syok, kecemasan, ketakutan, kemendesakan batin untuk mencapai pembebasan dan terlepas dari penderitaan samsara. Agar samvega dapat menjadi dorongan efektif dalam pelaksanaannya, harus disertai dengan emosi lain yang disebut pasada (keyakinan yang murni dan damai). Pasada menjaga agar samvega tidak menjadi keputusasaan hampa dengan memberikan keyakinan adanya jalan keluar yaitu nibbana.

Samvega yang timbul pada diri seseorang menjadi dorongan kuat untuk melaksanakan ajaran Buddha dengan lebih intens. Bagi umat berkeluarga akan menjadi lebih bersungguh-sungguh melaksanakan kemurahan hati, moralitas dan meditasi. Sebagian melepaskan diri dari kehidupan keduniawian dengan menjadi pabbajita. Bagi para bhikkhu akan menjadikan mereka semakin bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan suci. Maka samvega sangat penting untuk ditumbuhkan dalam diri seseorang agar dapat berupaya lebih sungguh-sungguh dalam melepaskan diri dari derita dan mencapai Pembebasan. Seseorang dapat mengalami samvega dengan melihat hal yang menggugah batin dengan kuat seperti melihat dan menyadari kematian yang terjadi atau melihat penderitaan yang timbul dalam lingkaran samsara. Empat tempat suci agama Buddha dapat pula menjadi obyek yang menimbulkan samvega. Buddhaghosa menganjurkan untuk melakukan meditasi dengan objek kematian (maranasati) untuk menumbuhkan samvega.

Apakah melihat kematian akan selalu menumbuhkan samvega? Ternyata tidak juga. Diceritakan ketika Sang Buddha mencapai parinibbana, para bhikkhu yang masih belum terbebas dari hawa nafsu mengangkat tangan mereka dan menangis tersedu-sedu, beberapa berguling-guling di atas tanah dan menangis sambil meratap, “Terlalu cepat Sang Bhagava memasuki parinibbana! Terlalu cepat Yang Terbahagia memasuki parinibbana! Terlalu cepat Sang Guru lenyap dari pandangan kami!” Demikian pula para dewa yang datang dari alam surga ada yang menangis dengan rambut kusut dan ada yang menangis dengan mengangkat tangan mereka, dengan berguling-guling di tanah mereka berkata, “Terlalu cepat Sang Bhagava memasuki parinibbana! Terlalu cepat Sang Guru lenyap dari pandangan kami!” Tetapi para bhikkhu dan para dewa yang sudah terbebas dari hawa nafsu, merenung dengan pikiran penuh kesadaran,” Segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah tidak kekal. Mana mungkin hal ini tak akan terjadi?”

Menurut Bhikkhu Thanissaro, samvega merupakan emosi pertama yang membawa seseorang untuk menjalani latihan, yang timbul dengan menyadari ketiadamaknaan hidup yang biasa dijalani, untuk mencari jalan keluar dari lingkaran kehidupan yang diliputi kesia-siaan dan kebodohan batin. Sayang sekali makna samvega yang sedemikian tinggi menjadi ‘terdegradasi’ dengan pemakaian ungkapan ‘Turut Bersamvega citta’ yang akhir-akhir ini banyak dipakai umat Buddha. Ungkapan tersebut seolah-olah untuk menggantikan ‘Turut Berduka cita’ yang biasa disampaikan pada saat meninggalnya seseorang. Dengan memahami makna sebenarnya dari kata samvega, tentu dapat dipahami bahwa samvega sejatinya timbul secara spontan dalam diri seseorang, oleh karena itu frasa ‘turut’ bersamvega citta agaknya tidak tepat. Secara kebahasaaan dan realita, tidak tepat apabila pada diri keluarga yang ditinggalkan tidak tumbuh samvega citta, sehingga bagaimana mungkin orang lain bisa ‘turut’ bersamvega citta? Tidak tepat pula apabila pada diri penyampai ucapan tidak tumbuh samvega citta, sehingga ungkapan itu menjadi kata-kata semata-mata yang tiada makna.

Barangkali akan lebih pas apabila sebagai pengganti Turut Berduka cita dipakai ungkapan Turut Berkabung (atas wafatnya…..) karena berkabung bermakna melakukan tata cara dan tata perilaku yang pantas dan sesuai sebagai bentuk penghormatan atas meninggalnya seseorang (tidak berkaitan dengan emosi duka sebagaimana pada Turut Berdukacita). Dalam kamus dinyatakan bahwa salah satu arti berkabung adalah memakai kabung (kain putih diikatkan di kepala sebagai ‘tanda’ duka cita ada keluarga yang meninggal). Dalam salah satu arti berkabung disebutkan pula: Observe the customs of mourning after the death of a loved one.

Appamādena sampādethā – strive on with heedfulness……

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait