Top 10 Penulis

Sangha dan Bhikkhu

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man in pink dress shirt sitting beside lighted candles
Photo by Justin Merced

Pernah terbaca di media sosial tulisan: Berdana makan kepada Sangha, dengan keterangan ada seorang bhikkhu yang menerima dana makanan beserta fotonya. Berdana makan adalah perbuatan mulia, hanya barangkali ada sedikit kekurangtepatan dalam aspek kebahasaan.

Kata Sangha berasal dari sam yang berarti ‘together’ dan han yang berarti ‘to come in contact’, ‘bring together into a group’. Secara sederhana diartikan sebagai perhimpunan, komunitas, sekelompok orang yang berhimpun dan hidup bersama, yang biasanya berjumlah lebih dari tiga orang. 

Oleh karena itu apabila bhikkhu yang hadir tidak melebihi tiga orang seyogianya tidak dinyatakan sebagai berdana makan kepada Sangha, melainkan berdana makan kepada anggota Sangha atau kepada Bhikkhu X.

Dalam agama Buddha dikenal dua macam Sangha.

Yang pertama adalah Ariya Sangha yang merupakan perlindungan bagi umat Buddha dalam Buddha-Dhamma-Sangha (Tisarana). Ariya Sangha adalah perhimpunan makhluk-makhluk yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapatti, Sakadagami, Anagami, atau Arahat, baik bhikkhu (/bhikkhuni) juga upasaka/upasika.

Yang kedua adalah Sammuti Sangha yaitu Sangha konvensional yang merupakan perhimpunan para bhikkhu yang telah ditahbiskan secara penuh, disebut juga sebagai Bhikkhu Sangha.

Sangha pertama kalinya terbentuk pada saat lima pertapa yang merupakan siswa-siswa pertama Sang Buddha ditahbiskan menjadi bhikkhu. Sampai dengan saat ini Sangha sebagai kelanjutan Sangha tersebut tetap eksis untuk menjaga dan membabarkan Dhamma kepada umat manusia.

Sang Buddha dengan jelas menginstruksikan enam puluh Arahat pertama untuk membabarkan Dhamma demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak – bahujana hitaya bahujana sukhaya. Para bhikkhu menjadi pembawa ‘obor Dhamma’ untuk memberikan penerangan kepada mereka yang membutuhkan penerangan.

Secara moral bhikkhu adalah siswa Sang Buddha dan menjadi anggota Sangha yang dibentuk oleh Sang Buddha. Namun secara administratif di berbagai negara terdapat berbagai Sangha dan terdapat perbedaan tradisi antara Sangha yang satu dengan Sangha yang lain.

Secara fungsional Sangha tidak semata-mata menunjukkan suatu kelompok bhikkhu namun lebih berarti sebagai para bhikkhu yang berkumpul untuk menjalankan suatu fungsi/tugas (seperti halnya kuorum dari sejumlah anggota masyarakat yang dibutuhkan untuk menentukan suatu tindakan). Jumlah bhikkhu yang membentuk Sangha ditentukan oleh fungsinya.

Kebanyakan fungsi memerlukan Sangha dengan empat bhikkhu yang disebut catuvagga. Beberapa fungsi lainnya memerlukan Sangha dengan lima, sepuluh atau dua puluh bhikkhu (pancavagga, dasavagga, visativagga). Di tempat yang banyak terdapat bhikkhu, sepuluh bhikkhu diperlukan untuk pelaksanaan upasampada. Akan tetapi di tempat yang terdapat sedikit bhikkhu, hanya diperlukan lima bhikkhu.

Secara harfiah kata bhikkhu sering diterjemahkan sebagai ‘he who begs’ tetapi sebagai istilah bhikkhu bermakna orang yang ditahbiskan untuk menjalani hidup sebagai petapa sebagaimana ditetapkan dalam aturan kebhikkhuan.

Secara historis para bhikkhu disapa dengan sebutan Bhante (‘Venerable Sir’) sebagaimana Sang Buddha sendiri pun disapa dengan sebutan yang sama. Ada satu ketika di Indonesia dulu para bhikkhu mendapat sebutan Yang Ariya, tetapi karena kata Ariya merujuk pada Kesucian maka sebutan ini tidak dipakai lagi. Sebutan Yang Ariya tentu dapat dipergunakan untuk para siswa yang telah mencapai kesucian seperti Yang Ariya Sariputta atau Yang Ariya Khema. Kemudian timbul sebutan Yang Mulia.

Penggunaan Yang Mulia tentulah tidak tepat apabila merujuk pada Ketetapan MPRS No. XXXI tahun 1966, yang menyatakan bahwa untuk mewujudkan kembali kepribadian Bangsa secara konsekuen berdasarkan Pancasila dan untuk mengikis habis sisa-sisa feodalisme serta kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, perlu menetapkan dalam bentuk Ketetapan MPRS penggantian sebutan “Paduka Yang Mulia, Yang Mulia, Paduka Tuan menjadi Bapak/Ibu atau Saudara/Saudari”.

Ada cerita dalam media sosial. Sebagai anggota DPR, M … merasa risih dengan istilah ‘Yang Mulia’. “Istilah Yang Mulia sudah jadi lelucon masyarakat. Katakan Yang Mulia tapi kelakuannya tidak mulia. Tidak ada lagi sebutan Yang Mulia karena itu sebenarnya peninggalan Feodal,” katanya.

Menurut dia, istilah ‘Yang Mulia’ ini juga dihapus sejak 1960 lewat ketetapan MPR. Ia merasa bingung dengan istilah yang dihapus namun justru saat ini dikatakan secara gagah dan bisa dilihat puluhan juta masyarakat. (https://news.detik.com/berita/d-3096261/anggota-dpr-ini-risih-disebut-yang-mulia-karena-jadi-lelucon-di-masyarakat).

Berkaitan dengan sapaan ini ada arahan dari seorang senior yang sangat bijaksana yaitu: Sebaiknya panggilan pada Bhikkhu tidak lebih tinggi dari panggilan pada Presiden. Lalu bagaimana pula dengan sapaan untuk Samanera dan Atthasilani? Samanera berasal dari kata samana dan nera.

Samana berarti petapa dan nera berarti putera/kecil, mentaati sepuluh sila (Dasasila) dan 75 sila Sekhiya. Setelah melewati usia 20 tahun dapat diupasampada menjadi bhikkhu. Umat dapat menyapa Samanera dengan Samanera. Atthasilani merupakan upasika (umat Buddha wanita) yang menjalani delapan sila (Atthasila) sepenuhnya dan melepaskan kehidupan keluarga. Sapaan untuk atthasilani seperti halnya pada samanera yaitu Atthasilani.

Sebagai catatan akhir, tentu saja dalam surat formal dan acara formal kata Yang Terhormat dapat dipakai seperti Yang Terhormat Bhante …., Yang Terhormat Samanera …., Yang Terhormat Atthasilani ….

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait