Top 10 Penulis

Sanghadana Kathina di Klenteng Kwan Kong Makassar

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Waisak, Asadha, Kathina dan Magha adalah empat Hari Besar Agama Buddha. Waisak, Asadha dan Magha merupakan hari peringatan, dimana umat Buddha memperingati peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama; dan diperingati masing-masing dalam satu hari.

Sementara Kathina merupakan hari perayaan, dimana umat Buddha merayakan selesainya para bhikkhu menjalankan masa vassa dengan mempersembahkan dana kepada Sangha (Persamuhan para Bhikkhu) di bulan Kathina. Vassa adalah masa tiga bulan untuk para bhikkhu menetap dan berlatih diri pada musim hujan di suatu tempat. Perayaan Kathina berlangsung dalam interval waktu satu bulan, bukan satu hari.

Bhikkhu memiliki empat kebutuhan pokok yang lazim disebut catupaccaya, yaitu: jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Kathina menjadi saat yang tepat bagi umat Buddha berdana catupaccaya. Umat Buddha mengenal Kathina sebagai bulan berdana kepada Sangha sebagai lahan yang subur. Kathina adalah perwujudan rasa bakti dan terima kasih kepada para bhikkhu yang telah membimbing umat Buddha dengan Dhamma yang universal.

Gambar 1

Berdana kepada Sangha pada masa Kathina selalu ditunggu-tunggu oleh umat Buddha. Guru Agung Buddha pernah bersabda bahwa, “berdana pada Sangha mempunyai nilai-dharma yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan berdana pada bhikkhu ataupun pada pribadi Sang Buddha sendiri.”

Kesempatan berharga untuk berdana kepada Sangha di bulan Kathina menjadi kesempatan yang selalu dinantikan oleh umat Buddha di manapun berada. Tidak terkecuali umat Buddha di Kota Makassar.

Tahun ini, animo umat Buddha untuk mengikuti Perayaan Kathina dan Sanghadana Kathina sangatlah besar. Karena telah dapat merayakan Kathina secara lebih terbuka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Setelah sebelumnya selama dua tahun berturut-turut, perayaan Kathina diadakan di tengah keterbatasan karena pandemi Covid-19.

Mereka terlihat sangat antusias memadati Perayaan Kaṭhina dan Sanghadana Masa Kathina 2566 TB. / 2022 M. yang diadakan berbagai vihara, cetiya dan klenteng. Masa Kathinadana 2566 TB. / 2022 M. berlangsung mulai tanggal 11 Oktober s/d 08 November 2022.

Sanghadana Kathina adalah berdana catupaccaya kepada Sangha pada masa Kathina. Bhikkhu yang hadir pada saat itu merupakan representasi dari Sangha, bukan pribadi dari para bhikkhu. Sehingga berapapun jumlah bhikkhu yang hadir; apakah seorang atau beberapa orang bhikkhu; adalah mewakili Sangha.

Gambar 2

Klenteng Kwan Kong menjadi salah satu tempat yang menyelenggarakan Sanghadana Kathina padaMinggu (16 Oktober 2022) pagi. Sebagai panitia pelaksana di tempat yang dikenal juga dengan nama Rumah Ibadah Satya Dharma ini, adalah Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV) Makassar.

Semenjak pagi-pagi hari, umat Buddha telah terlihat mendatangi salah satu klenteng tertua di Kota Makassar ini. Dengan penuh semangat mereka menuju ke tempat pelaksanaan acara Sanghadana Kathina di lantai lima gedung utama Klenteng Kwan Kong; yang masih dalam tahap perampungan renovasi.

Dalam Sanghadana Kathina ini, umat Buddha yang hadir sekitar seratus lima puluh orang. Tidak hanya pemuda dan dewasa saja, tetapi juga anak-anak bahkan lansia; mereka hadir dan berbaur menjadi satu. Bahkan kapasitas ruangan yang tersedia tidak dapat menampung seluruh umat yang hadir. Hal ini karena sangat tingginya antusias umat Buddha yang hadir untuk mengikuti perayaan Kathina.

Sangha Theravada Indonesia (STI) mengutus tiga orang bhikkhu untuk hadir pada Sanghadana Kathina ini. Yaitu: YM. Bhikkhu Dhammamitto, Thera; Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Provinsi / Padesanayaka Sulselbar, YM. Bhikkhu Silayatano ; dan YM. Bhikkhu Upasanto.

Gambar 3

Sanghadana Kathina di Klenteng Kwan Kong adalah bagian dari jadwal perayaan Kathina Bhikkhu STI di Sulselbar. Diawali dari Vihara Eka Viriya Sasana, Waeputeh, Mamuju Tengah (09/10); Vihara Giri Kartika, Salugatta, Mamuju Tengah (10/10); Vihara Bukit Naga, Mamuju (11/10); Vihara Buddha Dharma, Parepare (13/10); Vihara Dharma Palakka, Bone (14/10); KBBV Makassar (16/10) pagi; PBBS Xian Ma (16/10) siang; dan berakhir di Vihara Sasanadipa (16/10) sore.

Kotbah Dhamma bertema “Menggunakan Kekayaan Materi Menjadi Kekayaan Dhamma” disampaikan YM. Bhikkhu Upasanto. Bhante Upasanto mengatakan, pada umumnya semua orang ingin hidup bahagia, sejahtera, dan tercapai harapan serta cita-citanya. Buddhis memandang harapan tersebut sebagai sesuatu yang wajar, dan menawarkan suatu cara agar seseorang dapat mewujudkan harapan / keinginannya itu.

Dalam Kotbah Penimbunan Harta Sejati (Nidhikanda Sutta) dijelaskan bahwa seseorang yang banyak melakukan perbuatan baik; maka penimbunan harta karun yang baik yang (nanti) mengikutinya. Penimbunan harta karun tersebut berupa: memberikan dana, melatih moralitas, serta mencegah dan menahan diri dari keburukan. Juga, melakukan kebajikan kepada Sangha, pada cetiya, pada orang tua, pada ibu dan ayah, pada tamu-tamu, atau pun pada saudara tua.

Dengan harta karun tersebut, maka seseorang akan memperoleh berbagai pahala. Pertama, terlahir di alam manusia dengan memiliki kekayaan materi. Kedua, terlahir di alam bahagia (dewa) dengan memiliki berbagai kesenangan. Terakhir, adalah merealisasi Kebahagiaan Tertinggi (Nibbana). Sehingga dapat dikatakan, seseorang yang melakukan banyak kebajikan sesuai Dhamma, adalah yang dapat menggunakan kekayaan materi menjadi kekayaan Dhamma.

Gambar 4

“Manfaatkanlah momen Sanghadana Kathina untuk berbuat baik dengan cara berdana kepada Sangha sebagai sarana untuk menimbun kebaikan. Selamat merayakan Kathina,“ kata bhikkhu yang tahun ini bervassa di Vihara Sasanadipa, Makassar.

Pada puncak perayaan Sanghadana Kathina, umat Buddha secara bergiliran mempersembahkan amisa puja (bunga, lilin dan dupa) dan berdana catupaccaya kepada Sangha. Umat mempersembahkannya kepada Sangha dengan penuh rasa bakti dan rasa hormat.

Setelah melakukan kebajikan, tibalah saatnya untuk berbagi jasa kebajikan kepada semua makhluk dengan melakukan pelimpahan jasa (Pattidana). YM. Bhikkhu Dhammamitto, Thera memimpin pembacaan paritta Pattidana bersama para bhikkhu.

Pelimpahan jasa ditujukan kepada mendiang Bhikkhu Silagutto, Thera dan mendiang Bhikkhu Adhijayo yang wafat sehubungan musibah kecelakaan pada Sabtu (15/10) siang, sanak leluhur dan kepada semua makhluk.

Penguncaran paritta keberkahan oleh Bhikkhu Sangha diiringi pemercikan tirta paritta oleh YM. Bhikkhu Silayatano menjadi penutup seluruh rangkaian Sanghadana Kathina. **

**

Penulis: Miguel Dharmadjie

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

mountain covered by fog
Dan lagi: “Janganlah ada yang menipu orang lain atau menghina makhluk apa pun… Janganlah ada yang karena amarah atau niat jahat menginginkan keburukan bagi orang lain.”

Tulisan Terkait