Top 10 Penulis

Segenggam Biji Lada di Kereta Api

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Photo by grayom

Beberapa tahun lalu, jauh sebelum saya terpikir untuk bertahbis sebagai bhikkhu, saya bekerja sebagai penulis skenario lepas. Sehingga, memungkinkan bagi saya untuk menyelesaikan pekerjaan di mana saja. Apakah di rumah, kafe, rumah sakit, taman kota, serta termasuk ketika sedang di tengah perjalanan kereta api, seperti hari itu.

Sebelumnya, hari itu berlangsung biasa-biasa saja. Tidak ada kejadian yang signifikan. Saya sedang duduk sambil konsentrasi mengetik skenario di kereta api Gajahwong tujuan Yogyakarta. Karenanya, saya tidak begitu memerhatikan sekeliling. Akan tetapi, ketika hendak rehat sejenak, saya menyadari bahwa sepasang paruh baya yang duduk di hadapan sedang memerhatikan saya.

Sedikit canggung, saya memberikan sedikit senyuman kepada mereka.

“Lagi kerja, Dik?” tanya sang pria paruh baya sambil membalas senyum.

“Iya, ada beberapa naskah yang harus dikirim hari ini.”

“Oh, memangnya kerja apa?” tanya sang wanita paruh baya.

“Penulis skenario.”

“Oh, ya, ya, ya. Anak kami kalau masih hidup, sekarang kelihatannya seumur kamu,” jelas sang pria paruh baya.

Mereka lalu bercerita mengenai bagaimana awalnya mereka menunggu-nunggu sang buah hati hingga bertahun-tahun. Namun, ternyata usianya tidak lama. Mereka sempat putus asa, tetapi akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa kematian adalah sesuatu yang wajar menghampiri.

Semua orang pasti menghadapi kematian. Mereka pun tidak begitu berharap lagi untuk memiliki anak, yang paling penting adalah bisa berbuat baik untuk sisa hidup mereka.

Entah mengapa, cerita mereka sedikit mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya. Seorang anak yang juga mengangkat derajat sosialnya di hadapan mertua dan keluarga suaminya.

Hanya saja, ibu tersebut tidak langsung bisa menerima kematian anaknya. Hingga pada suatu waktu, dia pergi menghadap seorang bijaksana yang kerap disebut oleh orang-orang sebagai Sang Begawan. Mengetahui batin ibu tersebut masih terguncang, Sang Begawan mengarahkan agar dia mencari segenggam biji lada yang didapat dari sebuah rumah keluarga yang tidak pernah dihampiri kematian.

Melalui pencarian segenggam biji lada tersebut, dia tersadarkan bahwa tidak ada satu pun keluarga yang tidak pernah dihampiri kematian. Sebagaimana anaknya, dia pun akan pergi.

**

Setibanya di Yogyakarta, kami berpisah sesuai dengan tujuan masing-masing. Namun, saya masih ingat kalimat terakhir yang diucapkan oleh sang wanita paruh baya.

“Kebajikan itu bukan melulu mendapatkan yang diinginkan, tetapi menerima apa yang didapat.”

**

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

pile of scarecrow
Apakah itu tenggeran? Bagaimana caranya mewaspadai tenggeran? Apakah yang dimaksud dengan keluar dari rajutan penderitaan? Apakah hubungannya mewaspadai tenggeran dengan keluar dari rajutan penderitaan?
brown and green round area rug
Apakah yang dimaksud dengan keramat? Bagaimana cara menuju keramat?

Tulisan Terkait