Top 10 Penulis

Selamat Jalan Ma, Restui Kami di Jalan yang Sama

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

doctor and nurses inside operating room
Photo by National Cancer InstitutePhoto by National Cancer Institute

Malam telah larut, aku masih terjaga. Entah apa yang terjadi, suasana hati mengharu biru tanpa alasan yang jelas.

Jam berdentang dua kali, mengingatkan malam hampir menjelang pagi, ketika handphone ku bergetar tanda ada pesan masuk. Kakak sulungku menulis pesan : “Emergency! Ayo video call, sekarang”

Spontan Aku lakukan, panggilan video…

Diujung sana Kakak ternyata sedang berada di rumah sakit, dengan suara berat menahan tangis, beliau berkata, “Mama masuk ICU”.

Dadaku terasa sesak, pandanganku nanar mengikuti langkah demi langkah… sebelum sempat bertanya apapun , kami sudah berkumpul di ruang ICU, secara virtual.

Mama terlihat lemah dan kesakitan  dengan semua peralatan medis yang menempel di badannya.

Spontan Aku berkata lirih, “Jangan takut Ma, kami disini bersama Mama”.

Mama terlihat letih, Aku lanjut  berbisik :” Betapa banyaknya kebajikan yang sudah mama  kumpulkan,  Mama membawa bekal berlimpah, kebajikan yang Mama lakukan sepanjang hidup, Puja yang penuh  bakti  kepada Guru Agung Buddha Gotama dan kelompok Sangha yang Beliau pimpin, adalah harta utama yang Mama miliki.

Sadha yang diwujudkan dalam praktek Dhamma, seperti berdana, menjaga moralitas dengan teguh  dalam keseharian dengan  melaksanakan lima sila dan delapan sila pada hari-hari Uposatha.  Mama juga rajin bermeditasi. Kebijaksanaan yang Mama miliki adalah harta yang tidak akan bisa dirampas oleh siapapun”.

Wajah Mama berangsur tenang.

“Terimakasih Ma, untuk  warisan luar biasa bagi kami, putra-putri Mama, footprint yang tak akan pernah terhapus dalam jejak batin kami.”

“Mari kita mendaras paritta Ma, seperti yang selalu kita lakukan setiap hari.”

Dan kami mendaras paritta-paritta suci bersama-sama. Entah di menit yang mana, Mama pergi, melanjutkan perjalanan nya. Raut wajahnya sangat damai,  senyum menghias di bibirnya.

“Selamat jalan Ma…”

Sambil merangkupkan kedua tangan di dada, kami beranjali lalu bernamaskara.

“Biarlah dengan Kekuatan keyakinan kepada Sang Tiratana dan kekuatan kebajikan yang telah kami lakukan, Mama tiba dengan selamat, dengan mudah, dengan nyaman pada kondisi yang Mama  inginkan, Nibbana.

Dan kalaupun harus singgah sementara, semoga tempat persinggahan itu memungkinkan Mama melanjutkan latihan spiritual yang biasa Mama lakukan selama ini.”

“Izinkan kami putra-putrimu menunjukan bakti dengan selalu melimpahkan jasa kebajikan kami untuk Mama. Walaupun kami tahu Mama tidak membutuhkan itu. Semoga Mama berbahagia melihat bagaimana kami mengikuti jejakmu, berjalan di jalan yang sama, jalan Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Guru Junjungan kita, Buddha Gotama. Restui dan berkahi kami, putra-putrimu untuk membesarkan cucu-cucu Mama di jalan yang sama juga.”

Selamat jalan Ma….

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Terimakasih untuk persahabatan / Dan persaudaraan yang hangat
little boy, window, waiting
Termasuk mencari kepuasan dalam balas dendam dan keinginan untuk menghancurkan orang lain. Padahal ini tidak akan pernah membawa kita menuju kebahagiaan dan kedamaian. Hanya cinta kasih dan belas kasih yang mampu memadamkan kebencian.

Tulisan Terkait