Indonesia adalah surga dunia. Negeri kita ini elok dan indah. Ada deretan Bukit Barisan membenteng indah di Sumatera. Danau Toba juga tidak kalah ajaibnya. Jawa kaya dengan gunung berapi yang menawarkan pemandangan spektakuler dari puncaknya. Indahnya matahari terbit di Bromo membuat iri orang Singapura karena mereka tak punya gunung satu pun di negerinya. Menyelam dan snorkeling dengan pemandangan kelas dunia ada di Raja Ampat. Dengan tanah yang subur, letak geografis yang sangat strategis, Indonesia adalah gadis cantik bagi dunia.
Tapi kita kalah kaya dengan Singapura. Kalah displin dan etos kerja dengan bangsa Jepang. Pasar kita, tradisionil maupun modern, sesak dijejali barang impor olahan bangsa lain. Pejabat kita banyak yang korup, tidak displin, pelayanannya hancur dan tak punya integritas. Tak heran di sebuah foto yang diunggah di media sosial terlihat jawaban polos seorang anak kecil saat diminta menjawab apa tugas polisi. Bukan melayani dan melindungi seperti slogan di mobil patroli mereka, si anak menjawab tukang minta duit. Celoteh jujur dan polos seorang anak terang-terang harusnya menampar para hamba rakyat. Tapi sayangnya, kelakukan mereka tidak berubah. Akhirnya, Indonesia yang indah dan kaya ini lemah tak berdaya berhadapan dengan negara tetangga yang air minunya saja dulu harus diimpor.
Masa depan Indonesia juga tangungjawab anak-anak kita. Bukan menakuti, tapi mereka toh nanti akan besar dan mewarisi Indonesia kita. Supaya mereka tak tumbuh menjadi manusia bermental korup dan pecundang bermental kerupuk, rasanya perlu dipikirkan mental-mental pemenang yang bisa ditanamkan sejak kecil kepada mereka. Dari begitu banyak mentalitas, tangungjawab adalah yang utama.
Pegawai negeri korup karena tak bertanggungjawab dengan sumpah jabatannya. Mahasiswa terlambat masuk kelas, tidak mengumpulkan tugas dan akhirnya mengulang mata kuliah juga karena tidak bertanggungjawab terhadap studi dan masa depannya. Hutan dibakar agar lahan bisa dibersihkan dengan cepat dan murah juga contoh nyata tidak bertanggungjawab kepada lingkungan dan masyarkat. Dosen yang tepat waktu adalah contoh tanggungjawab. CEO yang berani mengaku salah dalam mengambi keputusan adalah contoh tanggungjawab. Tanggungjawab adalah mental utama yang harus dimiliki anak-anak Indonesia untuk membangun negeri ini.
Mendidik mereka untuk bertanggungjawab mudah-mudah susah. Trik awalnya adalah selalu membuat mereka menyelesaikan tugasnya. Harus selesai meskipun kualitas tak sempurna. Kebiasaan menyelesaikan tugas akan membentuk karakter tanggungjawab dalam diri anak-anak. Sesekali mereka perlu diberi penghargaan, tapi tidak boleh setiap kali karena ini akan membentuk mental mengharap imbalan karena yang ingin dididik adalah bertanggungjawab bukan mengharapkan imbalan. Yang susah dari menerapkan ini adalah perasaan tega atau tidak tega. Rasa iba bisa muncul dan akhirnya melemakan komitmen untuk mendidik anak dengan displin. Selalu ingat bahwa ini adalah untuk mereka juga. Sedikit kesusahan dan tantangan pasti akan memperkuat mereka, bukan melemahkan. Dorong mereka untuk selalu berani menghadapi kesusahan karena hidup adalah tentang menyelesaikan tantangan. Tak ada manusia suskes karena kabur dari tantangan. Mereka semua mencapai puncak karena tantangan adalah anak tangga menuju tempat yang lebih tinggi.
Indonesia yang indah akan berjaya dan membuat bangsa ini menjadi makmur, sejahtera dan bahagia. Anak-anak kita perlu dilatih untuk memiliki salah satu unsur utama mental seorang pemenang, yaitu tanggungjawab. Niscaya, mereka akan mampu membangun Indonesia yang lebih baik.

















