Semangat (viriya) merupakan satu dari 10 sifat luhur (parami/paramita) yang harus disempurnakan oleh suatu makhluk untuk bisa mencapai tingkat ke-Buddha-an atau menjadi seorang Buddha. Kesempurnaan dalam viriya ini dicapai oleh seorang calon Buddha (bodhisatta) melalui perjalanan panjang dalam waktu yang sangat lama di banyak kehidupan.
Dalam viriya tidak hanya terkandung aspek semangat tetapi juga usaha, upaya, kekuatan, keuletan, dan antusiasme. Yakinlah bahwa jika kita mempraktikkan viriya dalam kehidupan sehari-hari maka kehidupan ini akan dapat kita jalani secara maksimal dan bermakna.
Banyak sekali contoh dan keteladanan dari bodhisatta berkaitan dengan semangat (viriya) ini. Salah satunya adalah seperti yang dikisahkan dalam Mahajānaka-Jātaka.
Diceritakan bahwa sewaktu masih dalam kandungan, ibunya terpaksa mengungsi karena ayahnya yang menjadi raja Ariṭṭhajanaka tewas dalam peperangan. Ibunya mengungsi ke sebuah kota yang berada jauh dari kota raja.
Bodhisatta kemudian lahir dan diberi nama Mahajānaka, sesuai dengan nama kakeknya. Meskipun ibunya menyembunyikan jati dirinya, akhirnya Mahajānaka mengetahui bahwa ia sebetulnya adalah seorang pangeran. Sebelum Mahajānaka berusia enam belas tahun, ia telah mempelajari tiga veda dan semua ilmu pengetahuan. Pada saat ia berumur enam belas tahun, ia telah menjadi sangat rupawan. Mahajānaka sangat sayang dan berbakti kepada ibunya.
Suatu ketika Mahajānaka berpikir, “Aku akan merebut kerajaan yang menjadi milik ayahku.” Lalu ia bertanya kepada ibunya, “Apakah Ibu punya uang yang tersedia? Jika tidak, saya akan berdagang dan menghasilkan uang dan merebut kerajaan ayah saya.” Ibunya menjawab, “Putraku, ibu tidak datang kemari dengan tangan kosong. Ibu memiliki simpanan mutiara, batu berharga, dan permata yang cukup untuk mendapat sebuah kerajaan. Ambillah itu semua dan rebutlah takhta. Jangan engkau berdagang.”
Mahajānaka menjawab, “Ibu, berikanlah kekayaan ini kepada saya, namun saya hanya akan mengambil separuhnya. Saya lalu akan pergi ke Suvaṇṇabhūmi dan menghasilkan kekayaan besar di sana. Barulah kemudian saya merebut kerajaan.” Demikian sayang dan bakti kepada ibunya sehingga Mahajānaka hanya mengambil separuh dari harta yang diberikan ibunya.
Setelah melakukan persiapan yang dibutuhkan, Mahajānaka kemudian pergi menuju Suvaṇṇabhūmi menggunakan kapal laut. Sayangnya dalam pelayaran, kapal yang ditumpangi oleh Mahajānaka ternyata tidak bisa bertahan dan mulai tenggelam di tengah samudera. Semua yang berada di kapal, kecuali Mahajānaka, menangis, meratap, dan berdoa memohon pertolongan kepada berbagai macam dewa.
Mengetahui kapal itu pasti tenggelam, Mahajānaka mengambil gula dan mentega. Setelah makan sampai perutnya kenyang, ia membalurkan minyak ke seluruh tubuhnya. Mahajānaka dengan ketenangannya mengerti bahwa perutnya harus terisi penuh supaya memiliki cadangan tenaga. Demikian pula ia mengerti bahwa dengan membaluri seluruh tubuh dan pakaiannya dengan minyak atau lemak hewan maka selain ia akan terhindar dari para makhluk air pemangsa yang tidak suka dengan bau minyak di tubuh dan pakaiannya. Juga membaluri seluruh tubuh dan pakaiannya dengan minyak atau lemak hewan dapat membantu tubuhnya menahan dinginnya air samudera.
Mahajānaka lalu naik ke tiang layar. Perlahan namun pasti, kapal mulai miring tenggelam. Seisi kapal bertahap terjatuh ke dalam samudera yang dingin dan menjadi makanan ikan, kura-kura, dan makhluk samudera lainnya. Air samudera di sekitar kapal segera berubah warna menjadi merah darah. Mahajānaka yang berada di ujung tiang layar menjadi orang terakhir yang jatuh ke samudera. Sebelum terjatuh ke air, Mahajānaka meloncat laksana terbang sehingga bisa menjauhi dan terhindar dari ancaman dimangsa hewan-hewan laut yang sedang berkumpul tersebut.
Berhari-hari lamanya Mahajānaka berenang sekuat tenaga untuk mencapai daratan guna menyelamatkan dirinya. Pada saat itu, putri para dewa bernama Manimekhala telah ditunjuk sebagai pelindung samudra oleh empat raja dunia. Kata-kata inilah yang diberikan kepada dewi Manimekhala, “Makhluk-makhluk yang memiliki kebajikan seperti bakti kepada ibu mereka tidak pantas tenggelam ke dalam lautan, perhatikanlah makhluk-makhluk seperti itu.”
Dewi Manimekhala berpikir, “Ini adalah hari ketujuh aku belum mengawasi lautan, siapa yang tengah mengarungi samudra?” Ketika ia melihat Mahajānaka berupaya keras di tengah samudera, dengan menggunakan wujudnya yang indah dewi Manimekhala berdiri di udara tidak jauh dari Mahajānaka dan mengucapkan bait berikut untuk menguji kekuatan Mahajānaka:
“Siapakah Anda, yang dengan gagah berjuang di tengah samudra ini, jauh dari lautan? Siapakah sahabat yang Anda percaya, untuk bisa memberi Anda bantuan?”
Mahajānaka menjawab, “Ini adalah hari ketujuh saya berada di samudera, saya belum melihat makhluk hidup lain selain diri saya. Siapakah gerangan yang bicara kepada saya?” Setelah melihat ke udara, Mahajānaka mengucapkan bait berikut:
“Wahai dewi, mengetahui kewajiban saya di dunia, untuk berjuang selagi saya mampu, di sini di tengah samudera, jauh dari daratan, saya melakukan yang terbaik seperti manusia sejati.”
Dewi Manimekhala lalu mengucapkan bait berikut:
“Di sini, di tengah daerah terpencil yang dalam dan tak terkira, tempat tiada tepian yang bisa terlihat mata, upaya mati-matian Anda hanya sia-sia, di tengah samudera ini Anda pasti binasa.”
Mahajānaka menjawab, “Mengapa Anda bicara demikian? Jika saya mati selagi saya melakukan upaya terbaik, maka saya paling tidak terbebas dari kesalahan. Ia yang melakukan apa yang manusia bisa lakukan terbebas dari celaan terhadap kaumnya, penguasa surga membebaskannya pula, dan ia tidak merasakan penyesalan dalam batinnya.”
Kemudian dewi Manimekhala mengucapkan bait berikut:
“Apa gunanya perjuangan seperti ini, ketika hanya hasil kosong yang bisa diraih, di mana tidak ada imbalan yang bisa diraih, dan hanya kematian untuk semua derita Anda?”
Kemudian bodhisatta mengucapkan bait-bait ini untuk menunjukkan kurangnya kebijaksanaan dewi Manimekhala:
“Ia yang berpikir tidak ada yang diraih dan tidak akan berjuang selagi ia bisa berjuang, akan layaklah ia dipersalahkan atas apa pun kerugiannya, adalah karena hatinya yang lemah, yang menyia-nyiakan hari. Orang-orang di dunia ini merancang rencana mereka, dan melakukan pekerjaan mereka sebaik mungkin. Rencana bisa berhasil atau gagal, masa depan yang tidak pasti menunjukkan sisanya. Di sini, hari ini, tindakan kita sendiri yang menentukan: orang lain tenggelam, saya selamat, dan Anda berdiri di sisi saya. Maka saya akan terus melakukan yang terbaik, berjuang mengarungi samudera hingga ke tepian. Selagi kekuatan saya masih bertahan saya akan terus berjuang, tidak akan menyerah hingga saya tak mampu lagi berupaya.”
Mendengar ucapan Mahajānaka yang teguh, dewi Manimekhala mengucapkan bait pujian:
“Anda yang berjuang dengan berani di tengah lautan tak terkira yang ganas ini, tidak surut dari tugas yang Anda tetapkan, berjuang ke tempat kewajiban memanggil Anda, pergilah ke mana hati Anda menghendaki Anda pergi, jangan biarkan rintangan menghalangi Anda.”
Kemudian dewi Manimekhala bertanya ke mana Mahajānaka hendak pergi. Atas jawaban Mahajānaka, dewi Manimekhala melemparnya ke atas seperti karangan bunga dan memegangnya dengan kedua tangannya, menaruhnya di dada, dan membawanya seperti seakan ia adalah anaknya yang terkasih, dengan melayang di udara hingga mencapai tempat yang dituju oleh Mahajānaka.
Sungguh luar biasa teladan semangat yang sudah ditunjukkan oleh bodhisatta dalam kehidupannya sebagai Mahajānaka. Menjadi contoh bagi setiap buddhis untuk berjuang selagi mampu. Melakukan yang terbaik, karena itulah ciri manusia sejati. Jika kita meninggal selagi melakukan upaya terbaik, maka kita paling tidak terbebas dari kesalahan yang akan ditimpakan kepada kita jika belum melakukan yang terbaik. Tidak akan ada penyesalan dalam diri seorang manusia yang sudah melakukan yang terbaik dalam kehidupannya di dunia ini.
Seseorang yang berpikir tidak ada yang bisa diraih dan tidak berjuang selagi ia seharusnya bisa berjuang, sangatlah layak dipersalahkan atas hasil kurang maksimal yang diperoleh. Orang yang tidak atau kurang berjuang dalam kehidupan ini menunjukkan hati yang lemah, yang menyia-nyiakan waktu dalam kehidupannya. Kita seharusnya merencanakan dan lalu mengambil tindakan sebaik dan semaksimal mungkin, meskipun rencana dan tindakan kita belum tentu berhasil, meskipun masa depan tidaklah bisa kita pastikan. Selalu lakukanlah yang terbaik dan maksimal dalam kehidupan ini.
Contoh lain dari semangat benar yang harus diteladani oleh setiap buddhis, dapat ditemukan dalam riwayat Buddha Gotama berikut ini.
Pangeran Siddharta barangkali merupakan manusia paling unik yang pernah dilahirkan di dunia. Bagaimana tidak? Pangeran Siddharta memiliki fisik terbaik yang boleh dikatakan sempurna yang mungkin dimiliki oleh seorang manusia. Beliau juga memiliki keterampilan dan keahlian tertinggi yang bisa dikatakan sempurna yang mungkin dimiliki oleh seorang manusia. Demikian pula dalam hal kepemilikan kekayaan dan kekuasaan. Sebagai seorang pangeran, putra tunggal dari raja yang berkuasa, pangeran Siddharta memiliki kekayaan yang luar biasa banyak, bahkan beberapa istana disediakan bagi Beliau untuk dipakai di musim yang berbeda. Beliau juga diberikan kekuasaan yang besar oleh ayah bunda yang sangat menyayanginya.
Meskipun demikian, pangeran Siddharta rela melepas itu semua. Beliau meninggalkan segala kerlap kemilau duniawi bukan untuk sementara waktu melainkan dengan tekad dan semangat membara sampai menemukan “obat” bagi penderitaan yang dialami oleh manusia. Penderitaan manusia yang dimaksud adalah menjadi tua, sakit, dan mati. Pangeran Siddharta memutuskan menjadi seorang pertapa bernama Gotama. Sungguh satu contoh semangat yang luar biasa, yang akan sulit ditemukan dalam sejarah manusia di masa lalu, masa sekarang, maupun di masa yang akan datang.
Kehidupan kepertapaan dijalani dengan cara ekstrim menyiksa diri dengan penuh semangat oleh pertapa Gotama. Dalam cerita riwayat Buddha Gotama yang lebih detil dikisahkan bahwa tidak jarang pertapa Gotama bermeditasi di siang hari yang panas terik tanpa peneduh diri apa pun. Beliau juga seringkali bermeditasi di malam hari yang dingin dengan cara berendam di air sungai. Sungguh satu contoh lain semangat luar biasa, yang akan sulit ditemukan dalam sejarah manusia di masa lalu, masa sekarang, maupun di masa yang akan datang.
Pada akhirnya, pertapa Gotama berhasil menembus pengetahuan tertinggi dan mencapai penerangan sempurna. Beliau menjadi seorang Buddha (Yang Tercerahkan). Sekalipun sudah menjadi seorang Buddha yang dihormati dan dipuja tidak hanya oleh manusia tetapi juga oleh para dewa, Buddha Gotama tidaklah berdiam diri saja. Beliau seringkali dikisahkan hanya tidur selama satu jam saja dalam sehari semalam karena melakukan banyak aktivitas. Salah satu aktivitas utama dan rutin yang Beliau lakukan adalah mengajar para dewa dan manusia tidak kurang dari enam kali dalam sehari semalam. Semua ini dilakukan oleh Buddha Gotama bukan dalam kurun waktu singkat melainkan sepanjang 45 tahun lamanya. Sungguh satu contoh semangat luar biasa lainnya, yang akan sulit ditemukan dalam sejarah manusia di masa lalu, masa sekarang, maupun di masa yang akan datang.
Kisah hidup pangeran Siddharta, yang lalu menjadi Pertapa Gotama, dan akhirnya menjadi Buddha Gotama seharusnya menginspirasi dan memotivasi kita untuk terus bersemangat menjalankan peran apapun yang harus kita lakukan sepanjang kehidupan ini. Dengan cara inilah kita tidak akan pernah menyesali kehidupan yang sudah kita jalani di akhir kehidupan nantinya.
Beberapa syair yang tercantum dalam kitab suci Dhammapada berikut juga menunjukkan betapa pentingnya semangat dalam menjalani kehidupan ini menurut Guru Agung Buddha Gotama.
Dalam Dhammapada syair 23, Buddha mengatakan, “Orang bijaksana yang senantiasa berupaya, ulet, dan tekun bermeditasi, akan mencapai Nibbana, bebas dari segala ikatan, suatu Kebahagiaan Tertinggi.”
Adapun dalam Dhammapada syair 24, Buddha mengatakan, “Makin bertambahlah kemuliaan orang yang senantiasa hidup penuh semangat, waspada, bertindak bajik dan bijaksana, mampu mengendalikan diri, menempuh kehidupan benar, dan penuh kesadaran.”
Sedangkan dalam Dhammapada syair 112, Buddha mengatakan, “Daripada hidup seratus tahun tapi malas dan tidak bersemangat; sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari orang yang berjuang dengan penuh semangat.”

















