Umumnya postur tubuh yang lebih disukai adalah yang relatif tinggi dan tentunya proporsional. Untuk pria, selain relatif tinggi juga sebaiknya atletis. Sedangkan untuk wanita, selain relatif tinggi juga sebaiknya semampai.
Adakah di antara kita yang merasa kurang puas dengan tinggi badannya? Adakah di antara kita yang menginginkan bisa bertambah tinggi badannya? Bagi orang dewasa, sangat sulit atau sudah tidak bisa menambah tinggi badannya. Terkecuali dengan melakukan operasi, yang tentu saja sulit, mahal, dan berisiko.
Berita baiknya adalah ternyata bertambah tinggi itu SANGAT BISA. Tentu saja bukan bertambah tinggi secara fisik dalam konteks ini. Melainkan bertambah tinggi secara kualitas sebagai seorang manusia.
Berita lebih baiknya lagi adalah menjadi ”manusia tinggi” itu bisa terus dilakukan. Bisa menjadi satu proses yang terus berlangsung. Artinya ”tinggi” kita bisa terus ditambah dari waktu ke waktu.
Salah satu konsep utama manajemen diri adalah pengendalian diri yang mumpuni. Ini mencakup pengendalian diri atas tiga sumber perbuatan, yaitu pikiran, ucapan, dan badan jasmani.
Praktisi manajemen diri harus mampu lebih banyak melakukan yang baik melalui ketiga sumber perbuatan. Praktisi manajemen diri juga harus mampu lebih banyak mencegah diri melakukan yang tidak baik melalui ketiga sumber perbuatan.
Berkaitan dengan praktik manajemen diri terutama pengendalian pikiran dan ucapan, Buddha sudah lama mendorong kita supaya menjadi manusia ”tinggi”. Buddha mengingatkan kita untuk tidak menjadi manusia ”rendah”. Untuk mampu menjadi manusia ”tinggi” dan bukannya manusia ”rendah”, terlebih dahulu kita harus memahami ciri-ciri keduanya.
Mengenai manusia ”tinggi”, Buddha dalam Aṅguttara Nikāya – Sutta Piṭaka memberikan ciri-cirinya secara detil sebagai berikut:
“Sekali pun ditanya, manusia ”tinggi” tidak mengungkapkan kesalahan-kesalahan orang lain, apalagi jika tidak ditanya. Tetapi jika ditanya dan dipancing dengan pertanyaan, dia membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain dengan menghilangkan sebagian dan secara ragu-ragu, tidak lengkap dan tidak mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”tinggi”.
Selanjutnya, sekali pun tidak ditanya, manusia ”tinggi” mengungkapkan apa yang pantas dipuji pada diri orang lain, apalagi jika ditanya. Tetapi jika ditanya dan harus menjawab, dia membicarakan apa yang pantas dipuji pada diri orang lain tanpa menghilangkan apa pun, tanpa menahan apa pun, secara lengkap dan mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”tinggi”.
Selanjutnya, sekali pun tidak ditanya, manusia ”tinggi” mengungkapkan kesalahannya sendiri, apalagi jika ditanya. Tetapi jika ditanya dan harus menjawab, dia membicarakan kesalahan-kesalahannya sendiri tanpa menghilangkan apa pun, tanpa menahan apa pun, secara lengkap dan mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”tinggi”.
Selanjutnya, sekali pun ditanya, manusia ”tinggi” tidak mengungkapkan sifat-sifatnya sendiri yang pantas dipuji, apalagi jika tidak ditanya. Tetapi jika ditanya dan harus menjawab, dia membicarakan sifat-sifatnya sendiri yang pantas dipuji dengan menghilangkan sebagian dan secara ragu-ragu, tidak lengkap dan tidak mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia “tinggi”.”
Setelah mengetahui ciri-ciri manusia ”tinggi”, sebaiknya kita juga mengetahui ciri-ciri manusia ”rendah” sehingga bisa menghindari atau mencegah diri kita menjadi manusia “rendah”.
Sedangkan berkenaan dengan manusia ”rendah”, Buddha dalam Aṅguttara Nikāya – Sutta Piṭaka memberikan ciri-cirinya secara detil sebagai berikut:
”Bahkan tanpa ditanya pun, manusia ”rendah” mengungkapkan kesalahan-kesalahan orang lain, apalagi jika ditanya. Tetapi jika ditanya dan dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan, dia membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain tanpa menghilangkan apa pun, tanpa menahan apa pun, secara lengkap dan mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”rendah”.
Selanjutnya, sekali pun ditanya, manusia ”rendah” tidak mengungkapkan apa yang pantas dipuji pada diri orang lain, apalagi jika tidak ditanya. Tetapi jika ditanya dan harus menjawab, dia membicarakan apa yang pantas dipuji pada diri orang lain dengan menghilangkan sebagian dan secara ragu-ragu, tidak lengkap dan tidak mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”rendah”.
Selanjutnya, manusia ”rendah” tidak mengungkapkan kesalahan-kesalahan sendiri sekali pun ditanya, apalagi jika tidak ditanya. Tetapi jika ditanya dan harus menjawab, dia membicarakan kesalahan-kesalahannya sendiri dengan menghilangkan sebagian dan secara ragu-ragu, tidak lengkap, dan tidak mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”rendah”.
Selanjutnya, manusia ”rendah” mengungkapkan sifat-sifatnya sendiri yang pantas dipuji sekali pun tidak ditanya, apalagi jika ditanya. Tetapi jika ditanya dan dipancing dengan pertanyaan, dia membicarakan sifat-sifatnya sendiri yang patut dipuji tanpa menghilangkan sebagian dan tanpa keraguan, secara lengkap dan mendetil. Orang seperti ini harus dianggap manusia ”rendah”.”
Ternyata ”tinggi” dan ”rendah” dalam konteks ajaran Buddha adalah berkaitan dengan bagaimana seseorang mengungkapkan DUA HAL yang berkaitan dengan DUA JENIS PRIBADI ORANG. Dua hal tersebut adalah kesalahan dan apa yang pantas dipuji. Dua jenis pribadi orang tersebut adalah diri sendiri dan orang lain. Kombinasi dari dua hal dengan dua jenis pribadi orang inilah yang membentuk kriteria manusia ”tinggi” dan manusia ”rendah”.
Berkaitan dengan diri sendiri, manusia umumnya ingin menampilkan atau bahkan memperbesar apa-apa yang patut dipuji dalam dirinya. Manusia umumnya ingin mengecilkan atau bahkan menutupi kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat. Inilah sebagian ciri dari manusia dengan kualitas yang rendah.
Sebaliknya berkaitan dengan orang lain, manusia umumnya ingin menampilkan atau bahkan memperbesar kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat oleh orang lain. Manusia umumnya ingin mengecilkan atau bahkan menutupi apa-apa yang patut dipuji dalam diri orang lain. Inilah sebagian ciri lainnya dari manusia dengan kualitas yang rendah.
Berkaitan dengan diri sendiri, manusia seharusnya menampilkan apa adanya kesalahan-kesalahan yang sudah dia perbuat. Manusia seharusnya mengecilkan atau bahkan menutupi apa-apa yang patut dipuji dalam dirinya. Inilah sebagian ciri dari manusia dengan kualitas yang tinggi.
Sebaliknya berkaitan dengan orang lain, manusia seharusnya menampilkan apa adanya apa-apa yang patut dipuji dalam diri orang lain. Manusia seharusnya mengecilkan atau bahkan menutupi kesalahan yang sudah dilakukan orang lain. Inilah sebagian ciri lainnya dari manusia dengan kualitas yang tinggi.
Dari penjelasan ini, terlihat bahwa sebenarnya ilmu manajemen diri khususnya pengendalian pikiran dan ucapan sudah diajarkan oleh Guru Agung kita Buddha Gotama hampir 26 abad yang lalu. Bandingkan dengan perkembangan manajemen diri secara keilmuan populer baru terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Setelah mengetahui ciri-ciri manusia ”tinggi” dan ”rendah”, segeralah melakukan analisis diri terhadap kualitas ”ke-manusia-an” kita saat ini. Tidak perlu malu jika saat ini kita lebih banyak memiliki ciri manusia ”rendah”. Tekad yang kuat untuk bertransformasi menjadi manusia ”tinggi” adalah persyaratan awal yang harus dipenuhi.
Seyogyanya seorang buddhis yang baik menunjukkan sebanyak mungkin kualitas manusia ”tinggi” dalam praktik manajemen dirinya di kehidupan sehari-hari. Seorang buddhis yang baik harus mengurangi secara bertahap kualitas manusia ”rendah” jika masih terdapat dalam dirinya. Hal ini membutuhkan proses karena kita belumlah sempurna. Kita belumlah suci.
Ada empat langkah nyata yang perlu dilakukan oleh seorang buddhis untuk menjadi manusia ”tinggi” sejati. Pertama, mencegah kualitas manusia ”rendah” di dalam diri yang belum muncul. Kedua, menghentikan kualitas manusia ”rendah” di dalam diri yang sudah muncul. Ketiga, menumbuhkan kualitas manusia ”tinggi” di dalam diri yang belum muncul. Keempat, mempertahankan kualitas manusia ”tinggi” di dalam diri yang sudah muncul.
Mudah-mudahan kita bisa mempraktikkan secara konsisten empat langkah tersebut untuk meningkatkan kualitas manusia ”tinggi” dan mengurangi kualitas manusia ”rendah” dalam diri kita. Ini merupakan praktik manajemen diri sesuai ajaran Buddha, khususnya pengendalian pikiran dan ucapan. Dengan melakukan ini, kita tidak hanya bisa meraih berbagai keberhasilan duniawi tetapi juga spiritual. Lebih jauh lagi, kita bisa menyiapkan modal karma baik berlimpah yang akan berbuah manis dalam lingkaran kehidupan kita. Selamat bertransformasi menjadi manusia ”tinggi”.

















