Dalam Anguttara Nikaya – Sutta Pitaka, kutipan perkataan Buddha kepada para bhikkhu:
“Dahulu kala, para bhikkhu, hiduplah seorang guru agama bernama Araka, yang bebas dari nafsu indera. Araka mempunyai beratus-ratus murid. Inilah doktrin yang diajarkan oleh Araka kepada murid-muridnya:
“Sungguh pendek kehidupan manusia, para brahmana, sungguh terbatas dan singkat. Kehidupan ini penuh dengan penderitaan, penuh dengan pusaran. Hal ini harus dipahami dengan bijaksana. Orang harus melakukan hal yang baik dan menjalani kehidupan yang murni, karena tak seorang pun yang telah terlahir dapat lolos dari kematian.”
Araka kemudian melanjutkan:
“Seperti halnya setetes embun di ujung rumput akan lenyap dengan cepat pada saat matahari terbit dan tidak akan berumur panjang; demikian pula, para Brahmana, kehidupan manusia ini bagaikan setetes embun. Kehidupan ini pendek, terbatas dan singkat; kehidupan ini penuh dengan penderitaan, penuh dengan pusaran. Hal ini harus dipahami dengan bijaksana. Orang harus melakukan hal yang baik dan menjalani kehidupan yang murni, karena tak seorang pun yang telah terlahir dapat lolos dari kematian.””
Kemudian Araka memberikan perumpamaan lainnya untuk menggambarkan betapa pendeknya kehidupan ini dan yang telah terlahir tidak akan lolos dari kematian, yakni: gelembung yang muncul di permukaan air akan lenyap dengan cepat dan tidak akan berumur panjang; sebuah garis yang digoreskan di atas air dengan tongkat akan lenyap dengan cepat dan tidak akan berumur panjang; aliran sungai di gunung, yang datang dari jauh, mengalir dengan cepat; seorang pria yang kuat dapat membentuk segumpalan ludah di ujung lidahnya dan meludahkannya keluar dengan mudah; dan sepotong daging yang dibuang ke dalam panci besi yang dipanaskan sepanjang hari akan terbakar habis dengan cepat dan tidak akan bertahan lama.
Araka lalu berkata, “Seperti halnya seekor sapi yang disembelih akan dibawa ke tempat penyembelihan, setiap kali satu kakinya diangkat dia akan lebih dekat dengan kematian: demikian pula, para Brahmana, kehidupan manusia bagaikan ternak yang dibawa untuk disembelih; kehidupan ini pendek, terbatas, dan singkat. Kehidupan penuh dengan penderitaan, penuh dengan pusaran. Hal ini harus dipahami dengan bijaksana. Orang harus melakukan hal yang baik dan menjalani kehidupan yang murni; karena tak seorang pun yang telah terlahir dapat lolos dari kematian.”
Buddha kemudian berkata kepada para bhikkhu, “Tetapi pada saat itu, para bhikkhu, masa hidup manusia adalah 60.000 tahun, dan pada usia 500 tahun gadis-gadis dapat dinikahkan. Pada zaman itu jenis penyakit yang dimiliki orang hanya ada enam, yaitu kedinginan, kepanasan, kelaparan, kehausan, tahi, dan kencing. Walaupun orang-orang hidup amat lama dan memiliki amat sedikit penderitaan, Araka memberikan ajaran seperti itu kepada para muridnya: “Sungguh pendek kehidupan manusia.””
Bayangkan di zaman Araka, usia manusia begitu panjang dan jenis penyakit hanya ada enam. Itu pun sebenarnya tidak bisa dikatakan penyakit karena hanyalah merupakan kondisi alamiah dalam kehidupan manusia.
Meskipun demikian, Araka mewanti-wanti para muridnya untuk bergegas. Agar murid-muridnya lebih banyak melakukan perbuatan baik. Agar murid-muridnya memurnikan kehidupannya. Jangan sampai kehilangan kesempatan berbuat baik di kehidupan yang terbatas dan singkat tersebut. Araka mengingatkan para muridnya bahwa semua yang pernah dilahirkan pada akhirnya akan mati.
Kita meyakini bahwa untuk setiap abad yang sudah berlalu, usia rata-rata manusia berkurang satu tahun dari usia rata-rata manusia di zaman Buddha Gotama. Saat ini sudah hampir 26 abad sejak Buddha Gotama parinibbana. Usia rata-rata manusia di zaman Buddha Gotama adalah 100 tahun. Berarti usia rata-rata manusia di zaman sekarang ini adalah 74 tahun. Tentu sangat amat pendek dibanding usia manusia di zaman kehidupan Araka (60.000 tahun).
Untuk perkiraan kasar sisa usia kita dalam kehidupan ini, kurangkan 74 tahun dengan usia kita saat ini. Itulah perkiraan terbaik sisa waktu kita dalam kehidupan ini. Sangat mungkin untuk sebagian dari kita, tersisa sangat sedikit waktu untuk berbuat baik dan memurnikan kehidupan ini. Apalagi jika sisa waktu yang ada harus dikurangi dengan periode kita sakit sehingga tidak bisa berbuat baik. Alhasil, waktu yang masih tersisa untuk bisa berbuat baik teramat sangat amat pendek!!!
Masihkah kita membuang-buang waktu percuma tanpa berupaya mengisinya dengan perbuatan baik? Masihkah kita menunda melakukan perbuatan baik?
Ingatlah perbuatan baik bisa dilakukan dengan menjaga pikiran yang baik, berucap yang baik, dan berlaku yang baik. Berbuat baik janganlah menunggu kesempatan yang besar (kakap). Kesempatan berbuat baik yang tersedia meskipun dengan skala sedang atau kecil sekali pun, ambillah.
Jika kesempatan berbuat baik tidak tersedia, kitalah yang harus membuatnya. Sebagai contoh, di tempat kita berkebaktian rutin, tidak ada yang menawarkan kita untuk memimpin puja bakti. Kitalah yang membuat kesempatan berbuat baik dengan menawarkan diri kepada pengurus untuk memimpin puja bakti. Tentu saja jika belum terbiasa harus berlatih terlebih dahulu supaya lancar. Ada banyak lagi contoh perbuatan baik kecil yang bisa teramulasi menjadi besar atau banyak jika dilakukan secara rutin.
Ingatlah ucapan Buddha dalam kitab suci Dhammapada syair 122:
“Jangan meremehkan kebajikan (meskipun kecil) dengan berkata, “Itu tak akan berakibat apa-apa bagiku.” Seperti tempayan akan penuh oleh air yang jatuh menetes, begitu pula orang bijaksana memenuhi dirinya sedikit demi sedikit dengan kebajikan.”
Selamat memanfaatkan sisa waktu di kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Kereta kehidupan terus bergerak menuju stasiun terakhir. Jangan biarkan penyesalan timbul di ujung usia.

















