Top 10 Penulis

Seorang Buddhis Menyadari Tiga Utusan Agung dan Kenyataan Yang Terlupakan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

an older woman holding a baby's hand
Photo by Rod Long

Dalam kehidupan ini, kita pasti pernah melihat orang yang sudah tua, orang yang sedang sakit, dan orang mati. Tahukah kita bahwa ketiganya merupakan utusan agung sebagai pengingat bagi kita untuk bergegas mengumpulkan banyak perbuatan baik sepanjang kehidupan ini?

Dalam Anguttara Nikaya – Sutta Pitaka, Buddha mengatakan:

“Ada orang yang memiliki perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Karena memiliki perilaku buruk seperti itu, pada saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir lagi di alam penderitaan, di tempat yang buruk, di alam yang rendah, di neraka.”

Buddha lalu bercerita tentang percakapan antara Yama (Raja atau Dewa Kematian) dengan salah satu penghuni neraka:

Yama: “Sahabat, tidak pernahkah engkau melihat Utusan Agung Pertama yang muncul di antara umat manusia?”

Penghuni neraka: “Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

Yama: “Tetapi Sahabat, tidak pernahkah engkau melihat wanita atau pria, yang berusia delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, yang rapuh, bungkuk bagaikan siku atap, melengkung, bersandar pada tongkat, berjalan tertatih-tatih, sakit-sakitan, karena masa muda dan kekuatannya sudah lenyap, giginya ompong, rambutnya kelabu dan jarang atau gundul, kulitnya keriput, dan kaki tangannya bengkak?”

Penghuni neraka: “Ya, Tuan, saya telah melihat itu.”

Yama: “Sahabat, tidak pernahkah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena usia tua dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran?’”

Penghuni neraka: “Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

Yama: “Karena lalai, Sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu tidak dilakukan oleh orang lain, tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan, dan engkaulah yang harus menerima buah/akibatnya.”

Yama: “Sahabat, tidak pernahkah engkau melihat Utusan Agung Kedua yang muncul di antara umat manusia?”

Penghuni neraka: “Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

Yama: “Tetapi Sahabat, tidak pernahkah engkau melihat seorang wanita atau pria yang sakit, dan dalam kesakitan, dia terbaring di atas kotorannya sendiri dan harus diangkat oleh seseorang dan dibaringkan oleh orang lain?”

Penghuni neraka: “Ya, Tuan, saya telah melihat itu.”

Yama: “Sahabat, tidak pernahkah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena penyakit dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran?’”

Penghuni neraka: “Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

Yama: “Karena lalai, Sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu tidak dilakukan oleh orang lain, tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan, dan engkaulah yang harus menerima buah/akibatnya.”

Yama: “Sahabat, tidak pernahkah engkau melihat Utusan Agung Ketiga yang muncul di antara umat manusia?”

Penghuni neraka: “Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

Yama: “Tetapi Sahabat, tidak pernahkah engkau melihat wanita atau pria, sesudah dua atau tiga hari meninggal, yang mayatnya bengkak, pucat, dan membusuk?”

Penghuni neraka: “Ya, Tuan, saya telah melihatnya.”

Yama: “Kalau demikian, Sahabat, tidak pernahkah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena kematian dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran?’”

Penghuni neraka: “Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

Yama: “Karena lalai, Sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu tidak dilakukan oleh orang lain, tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan, dan engkaulah yang harus menerima buah/akibatnya.”

Awalnya, Yama bertanya kepada penghuni neraka tersebut menggunakan kiasan “tiga utusan agung” yang muncul di antara umat manusia. Karena belum menangkap maksud Yama, penghuni neraka menjawab bahwa dia tidak pernah melihat ketiga utusan agung tersebut sewaktu dia hidup sebagai manusia. Yama lalu menjelaskan lebih lanjut bahwa ketiga utusan agung itu adalah kiasan untuk orang tua, orang sakit, dan orang mati. Barulah penghuni neraka menyadari bahwa dia pernah melihat ketiganya sewaktu masih hidup sebagai manusia. Sangat mungkin dia pernah mengalaminya sendiri paling tidak dua dari ketiga hal tersebut.

Meskipun penghuni neraka (sewaktu menjadi manusia) pernah atau sering melihat ketiga utusan agung, bahkan mengalaminya sendiri, dia tidak pernah merenungkan secara sungguh-sungguh bahwa ketiga hal tersebut juga bisa terjadi pada dirinya. Oleh karena itu, dia tidak menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum dia mengalami kejadian seperti ketiga utusan agung. Dia tidak melakukan tindakan-tindakan yang baik (luhur) melalui pikiran, ucapan, dan tubuhnya.

Atas kelalaiannya sebagai manusia, karena tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik walaupun sudah diingatkan melalui tiga utusan agung, dia kemudian terlahir di neraka setelah kematiannya.

Orang yang sudah tua, orang yang sedang sakit, dan orang mati adalah fenomena umum yang sering dijumpai dalam kehidupan manusia. Menjadi sakit adalah sesuatu yang umum menimpa setiap manusia. Menjadi tua belum tentu dialami oleh setiap manusia. Menjadi mati adalah tak terelakkan karena siapa pun yang pernah dilahirkan, suatu ketika akan mengalami kematian.

Karena tua, sakit, dan mati sudah demikian lumrahnya dalam kehidupan ini, banyak dari kita mengabaikannya. Kenyataan yang sudah umum ini menjadi tidak mengesankan lagi. Manusia tidak mengambil pelajaran dari ketiga fenomena tersebut. Tidak hanya sewaktu melihat orang lain mengalaminya, tetapi juga sewaktu terjadi pada diri sendiri. Inilah yang dimaksud dengan ”kenyataan yang terlupakan.

Setelah kita menyadari “kenyataan yang terlupakan” ini, bagaimana sikap bijaksana selanjutnya dalam menyikapi ketiganya?

Sewaktu menyaksikan orang lain sakit atau diri kita yang sakit, ingatlah bahwa sepanjang kehidupan ini akan ada berbagai sakit kita derita. Ingatan ini seharusnya menjadi pendorong diri kita untuk menjaga kesehatan sebaik-baiknya. Dengan demikian, sakit akan menjadi sesuatu yang jarang menimpa kita. Selanjutnya, kesadaran akan sakit ini harus digunakan untuk memacu diri berbuat baik lebih banyak lagi melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan selagi masih sehat, selagi masih ada kesempatan.

Orang yang sudah tua atau orang lanjut usia yang kita jumpai seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk mengisi waktu sebaik-baiknya dengan hal yang berguna. Untuk menjadi motivasi diri guna menyebarkan pengaruh baik dan positif kepada lingkungan kita seluas mungkin, selagi usia memungkinkan. Sebelum kita memasuki usia senja, mulailah dari sekarang membuat persiapan sedikit demi sedikit, baik dari sisi finansial maupun non finansial, sisi duniawi maupun spiritual.

Pada waktu kita mendengar atau melayat sanak keluarga kita atau orang-orang lain yang meninggal, seharusnya bukan hanya duka cita dan sedih hati yang kita tampilkan. Seyogyanya memperkuat tekad kita untuk memanfaatkan dan mengisi sisa kehidupan, yang kita sendiri tidak tahu berapa lama. Perbanyaklah melakukan kebaikan dan membawa kedamaian bagi sesama. Kita tentunya ingin dikenang sebagai orang dengan hal baik yang lebih banyak dibanding yang kurang baik. Kita ingin meninggalkan jejak positif pada orang-orang yang kita kenal, yang harus kita tinggalkan sewaktu tiba saatnya nanti.

Karenanya, sebelum sakit mendera, sebelum usia tua menjelang, dan sebelum kematian menjemput, pergunakan diri dan segenap kemampuan kita untuk membawa lebih banyak kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, orang lain, dan lingkungan.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons hand forming heart
Kisah berikut memberikan teladan bagi kita tentang seseorang yang mampu bertransformasi dari sebelumnya sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi orang yang mau memperhatikan dan menolong orang lain.
a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?

Tulisan Terkait