Top 10 Penulis

Seorang Buddhis Sebagai Praktisi Hukum Karma yang Benar

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman lying on bed covering her face surrounded by photos and white camera
Photo by ian dooley

(Dikutip dari buku “Manajemen Diri Buddhis” karya Toni Yoyo)

Sangat mungkin kita pernah mendengar kalimat-kalimat bijaksana berikut, “Perbuatan masa lalu tercermin dari kehidupan sekarang. Kehidupan masa depan tercermin dari perbuatan sekarang.”

Atau kalimat sejenisnya, “Kehidupan sekarang mencerminkan perbuatan masa lalu. Kehidupan masa depan tercermin dari perbuatan sekarang.”

Kalimat sejenis lainnya, “Kehidupan sekarang mencerminkan perbuatan masa lalu. Perbuatan sekarang mencerminkan kehidupan masa depan.”

Sesuai dengan Hukum Karma, kalimat-kalimat tersebut dapat disesuaikan supaya lebih tepat menjadi seperti berikut:

“Hanya sedikit perbuatan (karma) masa lalu tercermin dari kehidupan sekarang. Kehidupan masa depan tercermin dari perbuatan (karma) sekarang namun juga ditentukan oleh perbuatan (karma) masa lalu yang belum berbuah.”

Penyesuaian sedikit secara kata-kata ini merubah banyak arti dari kalimat-kalimat sebelumnya.

Masing-masing dari kita sudah menjalani teramat banyak kehidupan. Ribuan bahkan mungkin jutaan kali atau malah lebih kita pernah hidup dan mati. Berarti sudah banyak sekali karma yang sudah kita perbuat sebelum-sebelumnya. Masih banyak karma yang belum berbuah. Masih banyak karma yang menunggu waktu yang tepat untuk berbuah atau matang bagi diri kita sebagai pelaku karma-karma tersebut.

Oleh karena itu, kalimat populer “Perbuatan masa lalu tercermin dari kehidupan sekarang.” tidaklah sepenuhnya tepat. Perbuatan (karma) masa lalu yang berbuah dalam kehidupan sekarang ini sangatlah sedikit. Karma masa lalu yang berbuah dalam kehidupan sekarang ini tidak bisa menggambarkan keseluruhan karma yang sudah kita perbuat sebelum-sebelumnya.

Pertanyaannya, bagaimana cara bekerjanya Hukum Karma dalam memilih mana saja karma masa lalu yang harus berbuah di kehidupan sekarang dan mana yang dapat “ditunda” dulu untuk berbuah di kehidupan-kehidupan selanjutnya?

Secara umum jika karma-karma lampau tersebut bukanlah karma yang sangat berat atau besar sehingga harus berbuah di kehidupan sekarang, yang sudah tidak bisa “ditunda” lagi, maka karma-karma yang berbuah sekarang adalah yang sesuai dengan kondisi yang tersedia dalam kehidupan ini. Yakni kondisi yang mendukung matangnya karma-karma tersebut dalam kehidupan ini.

Bagaimanakah dapat tercipta kondisi dalam kehidupan sekarang ini yang mendukung berbuah atau matangnya karma-karma lampau kita? Kondisi-kondisi tersebut tercipta dari perbuatan-perbuatan (karma-karma) yang kita lakukan sekarang. Perbuatan sekarang menentukan karma lampau apa yang akan lebih banyak berbuah di kehidupan sekarang. Perbuatan sekarang seakan bertindak sebagai “magnet” untuk menarik karma lampau apa yang sesuai untuk berbuah sekarang.

Artinya, jika kita menginginkan agar lebih banyak karma lampau yang baik berbuah sekarang maka di kehidupan sekarang kita harus melakukan lebih banyak karma baik pula. Demikian sebaliknya, jangan disalahkan jika lebih banyak karma buruk yang berbuah sekarang jika dalam kehidupan sekarang ini kita lebih banyak melakukan karma buruk.

Hal ini dapat dimengerti melalui contoh sederhana berikut ini.

Bagi seorang penjahat yang banyak melakukan kejahatan, sangatlah mungkin kondisi pikiran atau batinnya tidak tenang. Ada perasaan takut dan pikiran kuatir ketahuan sewaktu menjalankan aksinya. Perasaan takut dan pikiran kuatir dikejar-kejar oleh yang berwajib. Perasaan takut dan pikiran kuatir jika tertangkap. Perasaan tidak enak dan malu jika diketahui keluarganya berprofesi sebagai seorang penjahat. Dan lain-lain.

Bisa dibayangkan betapa tidak tenangnya kehidupan yang dijalani oleh seorang penjahat. Dengan pikiran berkecamuk dan banyak pikiran yang negatif seperti itu, sangatlah mungkin dia menjadi terburu-buru, lengah, dan lain-lain sehingga keliru dalam melakukan apa yang sedang dikerjakan. Hasil dari apa-apa yang dikerjakannya pun menjadi tidak maksimal, banyak salah, dan seterusnya. Banyak hal buruk yang kemudian terjadi dalam kehidupannya karena perbuatan-perbuatan jahatnya dalam kehidupan sekarang ini memberikan kondisi atau menjadi “magnet” yang menarik karma-karma buruk lampau berbuah sekarang.

Contoh sederhana lain yang berkebalikan dengan contoh sebelumnya adalah seperti berikut ini.

Bagi seseorang yang sudah berupaya lebih banyak berbuat baik dalam kehidupan ini, sangatlah mungkin pikiran atau batinnya tenang. Ketenangan seperti ini akan sangat mendukung dirinya dalam melakukan apapun yang sedang dikerjakan. Hasil dari apa-apa yang dikerjakannya pun menjadi lebih memuaskan, maksimal, dan tidak banyak kesalahan. Banyak hal baik yang kemudian terjadi dalam kehidupannya karena perbuatan-perbuatan baiknya dalam kehidupan sekarang ini memberikan kondisi atau menjadi “magnet” yang menarik karma-karma baik lampau berbuah sekarang.

Bagaimana sebaiknya seorang buddhis sebagai praktisi (orang yang melakukan atau mempraktikkan) Hukum Karma berpikir dan bertindak benar sesuai dengan Hukum Karma?

Seorang buddhis sebagai praktisi Hukum Karma yang benar harus memiliki keyakinan yang teguh akan kebenaran Hukum karma. Keyakinan yang berkaitan dengan Hukum Karma mencakup: (1) Keyakinan terhadap hukum karma (Kamma-Saddha) bahwa ada perbuatan baik dan perbuatan tidak baik, (2) Keyakinan terhadap akibat dari karma (Vipaka-Saddha) bahwa setiap perbuatan akan menghasilkan akibat atau buah yang sesuai, (3) Keyakinan bahwa semua makhluk mempunyai karma masing-masing dan bertanggung jawab terhadap karmanya (Kammassakata-Saddha).

Seorang buddhis sebagai praktisi Hukum Karma yang benar juga harus memahami bahwa Hukum Karma merupakan salah satu dari lima hukum alam yang berlaku sesuai kondisi yang mendukung. Selengkapnya kelima hukum alam tersebut adalah: (1) Hukum Musim (Utu Niyama) yang berkenaan dengan fenomena musiman dari angin dan hujan, (2) Hukum Biologi (Bija Niyama) yang berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan dari benih dan biji, (3) Hukum Karma (Kamma Niyama) yang berkenaan dengan sebab dan akibat dari perbuatan, (4) Hukum Fenomena Alam (Dhamma Niyama) yang berkenaan dengan gaya gravitasi, listrik, gelombang, dan lain-lain, dan (5) Hukum Psikologis (Citta Niyama) yang berkenaan dengan pikiran dan proses kesadaran.

Selanjutnya, seorang buddhis sebagai praktisi Hukum Karma yang benar seharusnya kerap kali atau sering kali merenungkan dan meresapi paritta Abhiṇhapaccavekkhaṇa Pāṭha yang diajarkan Buddha, yang kutipannya adalah seperti berikut ini:

“……….. Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari perbuatanku sendiri, berkerabat dengan perbuatanku sendiri, tergantung pada perbuatanku sendiri. Perbuatan apa pun yang akan kulakukan, baik ataupun buruk; perbuatan itulah yang akan kuwarisi ………..”

Akhirnya, seorang buddhis sebagai praktisi Hukum Karma yang benar harus: (1) Mengerti dan menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri dan kehidupannya berkaitan dengan karma (perbuatan) dirinya sendiri, (2) Tidak menyalahkan orang lain, atau situasi dan kondisi, maupun diri sendiri atas segala sesuatu yang buruk yang terjadi pada diri dan kehidupannya, (3) Bertekad untuk mengurangi perbuatan tidak baik, memperbanyak perbuatan baik, dan memperbanyak praktik meditasi, dan (4) Melakukan apa yang sudah ditekadkan dalam praktik nyata sepanjang kehidupan ini.

Seorang buddhis sebagai praktisi Hukum Karma yang benar seharusnya tidak menyalahkan orang lain, situasi dan kondisi, dan lingkungan atas hal-hal buruk dan masalah yang terjadi atas diri dan kehidupannya. Tidaklah perlu repot dan menghabiskan waktu guna mencari “kambing hitam” untuk disalahkan.

Juga pemahaman akan Hukum Karma bahwa diri sendiri sebagai pelaku perbuatan akan menerima akibat atau buahnya, janganlah digunakan untuk menyalahkan diri sendiri. Yang sudah terjadi biarkanlah berlalu. Perbuatan lampau yang sudah dilakukan tidaklah perlu disesali karena sudah lewat. Yang terpenting adalah bertekad kuat untuk lebih banyak mengurangi karma buruk, lebih banyak melakukan karma baik, lebih banyak mempraktikkan meditasi, dan betul-betul MELAKUKAN semua tekad tersebut, tidak sekedar bertekad saja alias NiDo (Niat Doang).

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons hand forming heart
Kisah berikut memberikan teladan bagi kita tentang seseorang yang mampu bertransformasi dari sebelumnya sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi orang yang mau memperhatikan dan menolong orang lain.
a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?

Tulisan Terkait