Top 10 Penulis

Setelah Mati Seorang Buddhis Mau Kemana?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

cemetery with trees under white sky
Photo by Joy Real

Dalam ilmu manajemen dikatakan bahwa setiap entitas sebaiknya memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam rentang waktu tertentu. Entitas itu bisa kelompok orang yang membentuk satu organisasi, baik sosial maupun berorientasi pada keuntungan (bisnis). Entitas itu bisa juga individu atau seorang manusia.

Tujuan yang ingin dicapai akan menjadi arah atau penunjuk jalan sehingga entitas tersebut sewaktu berjalan tidak “tersesat”. Dalam perjalanan menuju tujuan, harus dilakukan evaluasi dengan meninjau situasi dan kondisi di dalam diri (internal) mau pun di luar diri (eksternal) secara periodik. Perlu mengukur apakah kecepatan sudah sesuai dengan yang diinginkan. Perlu dilakukan pengecekan terhadap kontrol-kontrol pengukuran lainnya. Perlu diambil tindakan perbaikan (korektif) jika dibutuhkan. Semuanya untuk memastikan bahwa tujuan dapat diraih dalam waktu yang sudah ditentukan.

Berkaitan dengan tujuan hidup dan semangat untuk meraihnya, ilmu manajemen diri membagi manusia ke dalam empat kelompok.

Pertama, orang yang tidak punya tujuan hidup dan tentu saja tidak punya semangat dalam menjalani kehidupan ini.

Kedua, orang yang punya tujuan hidup tetapi tidak punya semangat untuk meraihnya.

Ketiga, orang yang punya tujuan hidup tetapi semangat yang dimilikinya kurang untuk menghadapi berbagai kendala dalam upaya meraih tujuan hidupnya.

Keempat, orang yang punya tujuan hidup dan memiliki semangat yang cukup untuk menghadapi berbagai kendala dalam upaya meraih tujuan hidupnya.

Jika ditanyakan kepada seorang buddhis, apa saja tujuan hidupnya sepanjang kehidupan ini maka akan muncul berbagai jawaban. Tujuan yang pantas dimiliki oleh seorang buddhis, di antaranya adalah menjadi kaya (harta benda, pengetahuan dan keterampilan, dan kebajikan), sehat (jasmani, batin atau pikiran, dan lingkungan), umur panjang, dan memiliki pangkat/kedudukan/jabatan.

Jika pertanyaannya adalah “Setelah mati mau kemana?”. Kemungkinan akan muncul jawaban yang lebih seragam. Apakah itu? Terlahir kembali di alam surga (dewa). Tidak ada yang salah dengan keinginan ini. Wajar saja dan normal. Hal ini dikarenakan alam surga identik dengan kemudahan, kenyamanan, kesenangan, dan kenikmatan. Alam surga tidak mengenal kesulitan.

Bagi orang yang kritis, bisa muncul pertanyaan lanjutan yang relevan. Setelah meninggal dari alam surga, akan terlahir kemana selanjutnya?

Umur para penghuni alam surga adalah tertentu (pasti). Ada batasan umur maksimal sesuai dengan jenis alamnya. Kehidupan di alam surga sangatlah panjang. Teramat panjang dibandingkan dengan usia manusia. Sebagai gambaran, alam surga tingkat terendah, yang paling dekat dengan alam manusia, adalah Catummaharajika. Usia maksimal para penghuni alam Catummaharajika adalah setara dengan sekitar 9 juta tahun manusia.

Mari kita membuat sedikit perhitungan teoritis. Kita meninggal sebagai manusia dalam kehidupan ini dan kemudian terlahir di salah satu alam surga. Setelah mencapai usia maksimal di alam surga tersebut, kita meninggal lalu misalkan terlahir kembali sebagai manusia. Dapat dipastikan di kehidupan manusia setelah dari alam surga tersebut, ajaran Buddha Gotama sudah tidak dikenal lagi.

Tidak tertutup kemungkinan sewaktu terlahir kembali sebagai manusia, setelah meninggal dari alam surga, kita terlahir di zaman dimana manusia masih mengenal ajaran Buddha. Akan tetapi, pastilah itu salah satu Buddha setelah Buddha Gotama.

Namun juga tidak tertutup kemungkinan kita terlahir sebagai manusia di zaman yang tidak mengenal ajaran Buddha. Diyakini apabila ajaran Buddha betul-betul sudah tidak dikenal dan dipraktikkan lagi, barulah muncul Buddha berikutnya. Jadi ada semacam periode “kosong” atau vakum antar Buddha. Ada periode yang tidak mengenal ajaran Buddha sama sekali. Tidak akan ada area persinggungan (overlapping) antara ajaran Buddha yang satu dengan yang berikutnya. Artinya ajaran Buddha yang sebelumnya tidak akan langsung disambung atau digantikan oleh ajaran Buddha yang berikutnya.

Alam surga berisikan hal-hal baik. Berarti di alam surga lebih banyak memanen buah karma baik yang pernah dilakukan dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya. Di alam surga relatif tidak ada atau sangat sedikit kesempatan berbuat baik.

Berbeda dengan alam manusia yang menyediakan banyak hal yang bertentangan, kadang sangat ekstrim. Di alam manusia dapat ditemukan orang yang paling baik sampai dengan orang yang paling jahat, orang yang paling kaya sampai dengan orang yang paling miskin, orang yang paling sehat sampai dengan orang yang berpenyakit sangat berat, orang yang sangat bahagia sampai dengan orang yang sangat menderita, orang yang sangat tinggi sampai dengan orang yang sangat pendek, orang yang sangat kurus sampai dengan orang yang sangat gemuk, orang yang sangat kuat sampai dengan orang yang sangat lemah, dan masih banyak perbedaan ekstrim lainnya.

Terdapat banyak ketidakbaikan dan hal buruk dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, tersedia banyak kesempatan berbuat baik bagi manusia yang mau memanfaatkannya. Semuanya tergantung kepada manusia itu sendiri. Setiap manusia bebas menentukan apakah mau memupuk sebanyak mungkin karma baik atau menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik yang tersedia. Sebagian manusia malah melakukan karma buruk.

Dalam kehidupan sebagai manusia, setiap orang dapat mengalami berbagai ketidakbaikan ataupun masalah. Dengan berpikir positif,  ketidakbaikan atau masalah yang ditemui sebenarnya merupakan buah atau akibat dari karma buruk lampau yang pernah dilakukan. Berarti karma buruk lampau jumlahnya menjadi berkurang.

Inilah pemahaman akan Hukum Karma yang benar dan menyejukkan dalam menghadapi berbagai problematika di sepanjang kehidupan manusia. Pemahaman ini akan membuat kita lebih damai dan tenang dalam menghadapi berbagai ketidakbaikan dan masalah. Kedamaian dan ketenangan diri ini tentu saja akan menjadi bagian dari solusi dibanding menyikapi dengan marah-marah, menyalahkan orang lain, atau diri sendiri.

Berarti, kehidupan sebagai manusia memberikan dua kesempatan baik sekaligus. Pertama, menambah karma baik yang baru. Kedua, mengurangi karma buruk yang lama. Bandingkan dengan kehidupan di alam surga yang kemungkinannya hanyalah mengurangi karma baik yang lama.

Bayangkan seandainya kita terlahir kembali meskipun sebagai manusia akan tetapi sebagai manusia yang “mendekati sempurna”. Dan kita terlahir kembali dalam kehidupan yang masih mengenal dan mempraktikkan ajaran Buddha. Imajinasikan gambaran berikut ini untuk memahami apa yang dimaksud dengan kehidupan manusia yang “mendekati sempurna” tersebut. Keseluruhan kondisi fisik mendekati sempurna, baik sebagai pria ataupun wanita, dalam hal keelokan paras, tinggi badan, bobot tubuh, kesehatan, usia, dan lain-lain. Intelegensi atau intelektualnya tinggi sehingga bisa memiliki banyak pengetahuan alias pintar. Kebiasaan, sifat, dan karakternya sangat baik dan terpuji. Keterampilannya dalam berbagai keahlian fisik mau pun otak jauh lebih tinggi dibanding manusia pada umumnya.

Demikian juga tingkat kesuksesan dan keberhasilan dalam semua aspek kehidupan jauh lebih tinggi dibanding manusia pada umumnya. Baik itu dalam pencapaian karir atau usaha, pencapaian finansial, kebahagiaan berumah tangga, kemajuan batin atau pikiran, hubungan sosial kemasyarakatan, lingkungan religius, mau pun aspek-aspek duniawi lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai manusia yang “mendekati sempurna”, bisa mendalami Buddha Dhamma secara lengkap dalam tiga tingkatan. Ketiganya adalah mempelajari teori Buddha Dhamma (pariyatti), merasakan Buddha Dhamma melalui praktik (patipatti), dan memiliki kebijaksanaan yang utuh melalui praktik meditasi khususnya vipassana bhavana (pativedha).

Pernahkan Anda memikirkan hal ini? Setelah kematian di kehidupan manusia sekarang ini, terlahir kembali sebagai manusia yang “mendekati sempurna”, alih-alih terlahir di alam surga?

Dengan terlahir kembali sebagai manusia yang “mendekati sempurna”, terbuka lebih banyak kesempatan memupuk karma baik dibanding jika terlahir di alam surga. Tentu saja meski terlahir kembali sebagai manusia yang “mendekati sempurna”, tetap mengalami ketidakbaikan dan masalah. Tidak apa-apa karena berarti mengurangi karma buruk yang lama. Yang terpenting, sebagai manusia yang “mendekati sempurna”, bisa mendalami Buddha Dhamma secara lengkap dalam tiga tingkatan.

Dengan demikian, bukankah tujuan terlahir kembali di alam manusia dengan kondisi “mendekati sempurna” jauh lebih menarik dibanding terlahir kembali di alam surga?

Tujuan hidup untuk terlahir kembali di alam manusia dengan kondisi “mendekati sempurna”, tidaklah cukup hanya diinginkan atau diniatkan saja. Melainkan harus ditekadkan secara kuat (adhitthana) dan diupayakan secara maksimal sepanjang kehidupan ini. Adhitthana akan membantu kesadaran kita “berfokus” atau mengarah ke kehidupan yang ditekadkan tersebut setelah kematian.

Masih ada waktu dalam sisa kehidupan ini jika kita mau bergegas dari sekarang. Berbuat baik lebih banyak lagi dan bertekad atau berketetapan hati untuk terlahir kembali sebagai manusia yang “mendekati sempurna”, dalam masa kehidupan manusia yang masih mengenal dan mempraktikkan ajaran Buddha.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait